Mar 29, 2020

Kisah Haru Dokter Perawat yang Meninggal Tertular Virus Corona dari Pasien

Sudah puluhan dokter dan perawat menjadi korban, mereka tertular dari pasien covid-19 yang dirawatnya. Sudah saatnya kita menghargai perjuangan mereka dengan tetap tinggal dirumah. Yuk simak Kisah Haru Dokter Perawat yang Meninggal Tertular Virus Corona dari Pasien.


Kisah Haru Dokter Perawat yang Meninggal Tertular Virus Corona dari Pasien

Berikut ini Kisah Haru Dokter Perawat yang Meninggal Tertular Virus Corona dari Pasien. Sumber dari BC sahabat WA.

Baca sampai akhir ya?

Selanjutnya yuk hargai perjuangan para dokter dan perawat dengan cara hidup sehat dan tetap tinggal dirumah saja. Stay at home

--------------------------------------------

Luangkan membaca sebentar, utk menghargai arti sebuah perjuangan.

Ns.Ninuk Dwi

Dalam perjuangan Merawat Pasien Covid-19

Sudah satu minggu sejak Melanie istriku pamit. Masih kuingat kala itu ia tersenyum dan mengepalkan tangan sambil bersorak "Semangat!". Mata sipitnya menghilang ditelan tawa yang tak berjeda. Ia memang seperti itu, selalu optimis.

Andai saja bukan karena jiwa sosialnya yang tinggi, mana mungkin ia maju menjadi orang terdepan yang siap melayani. Ia memang seperti itu, sejak dahulu kala awal aku mengenalnya.

Pertemuan kami tak sengaja, layaknya drama Korea aku tak sengaja menabraknya yang sedang berlari tergesa ke rumah sakit. Ia jatuh, meringis, aku ingin menolong namun keadaan tak mengizinkan, aku berlalu berlari mengejar waktu, detik terakhir bertemu ibu.

Ibuku sakit parah dan menurut ayah keadaannya semakin memburuk, aku yang masih mahasiswa memburu waktu detik terakhir pertemuan. Alhamdulillah ibu selamat dan dapat melalui masa kritisnya. Dan hal tak kuduga adalah bahwa ia yang kutabrak adalah perawat yang selama ini setia merawat ibu. Jodoh memang punya cara unik untuk mempertemukan dua insan.

"Jangan takut sayang, aku akan baik-baik saja," ucapmu kala pamit.

"Kenapa gak orang lain saja, Bun. Gak mesti Bunda kan?" bantahku.

"Menurut hati nuranimu, tindakan apa yang harus kulakukan di tengah situasi genting dimana aku dibutuhkan." Ia menatapku lekat.

Aku memalingkan wajah, ia telah tahu isi hatiku. Jiwaku menolak namun hati nurani berkata lain.

"Pergilah Sayang dan segeralah pulang," ucapku akhirnya.



Ketika sekolah dialihkan ke rumah dengan pembelajaran online aku yang seorang guru pun stayathome sesuai anjuran pemerintah, tapi tidak untuk Melanieku, ia harus tetap kerja bahkan lebih keras dari sebelumnya.

Awal menangani pasien Corona ia sempat pulang beberapa kali, menolak untuk kusentuh dan terlihat sangat lelah. Ia sempat berujar kekurangan masker dan alat penunjang lainnya, namun sinar matanya tetap optimis bahwa badai akan berlalu.

Di sepertiga malam ketika tak sengaja aku terbangun, kulihat Melanieku berdoa cukup lama dalam linangan air mata. Segala keluh kesah yang selama ini ia pendam tumpah sudah di hadapan Rabb. Aku terpana menyadari bahwa sesungguhnya Melanieku hanyalah wanita biasa, ia lelah, ia ingin berhenti namun tetap bertahan demi kemanusiaan.

Hari ke-4 ia tak lagi pulang, Melanieku bilang tugas semakin padat dan tak memungkinkan untuk pulang.

[Kami kekurangan tenaga medis, Bunda gak pulang dulu.] Pamitnya dalam pesan. Ada yang nyeri ketika setelahnya Melanieku sulit dihubungi. Hatiku mulai meragu.

Aku tetap optimis dan yakin Melanieku akan baik-baik saja hingga teman kerjanya datang lengkap dengan baju Anti virusnya melakukan tes pada aku, ibu dan anak semata wayang kami.

"Istri anda postif, jadi izinkan kami untuk memeriksa anda dan keluarga," ucap seorang dokter teman Melanie di rumah sakit.

Jangan tanya hati ini, jangan tanya rasa yang bergejolak, Ya Allah bagaimana dengan Melanieku kini? Mengapa ia merahasiakan ini dariku?

Aku, ibu dan putra sulungku dinyatakan negatif, namun diharapkan tetap tinggal di rumah hingga empat belas hari ke depan. Kami ditetapkan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawas).

[Bunda baik-baik saja, Yah, jangan khawatir. Titip jagoan kita dan ibu ya. Jangan lupa minum vitamin dan stay at home.] Pesannya ketika kutanya kabar.

Ia selalu seperti itu, lebih mengkhawatirkan kami daripada dirinya sendiri.

[Doain Bunda, Yah.]

Pesan terakhirnya yang kudapat. Firasatku mulai berontak namun hati tetap menolak. Melanieku pasti baik. Kini kutahu bahwa pesan itu diketik oleh teman sejawat yang merawat.

"Mana bunda, Yah? Kakak rindu," ucap putraku. Ia memeluk boneka kucing kesayangannya, hadiah dari Melanie di ulang tahunnya yang ke-4.

"Bunda kerja, Nak." Aku memeluk tubuh mungilnya. Apa yang harus kusampaikan?

"Kakak rindu Bunda, boleh telpon?" Ia menatap penuh harap.

Aku menggeleng. Ya Allah, ya Allah, kupeluk erat jagoan kami dalam isak.

Ibu yang tetap sehat di usia senjanya tak kuasa menatapku, berkali ia mengusap sudut netranya. Jangan tanya hati wanita tua itu. Melanie bukan sekedar menantu tapi lebih dari anak kandung, perginya adalah patah hati baginya.

Melanie kembali bahkan dalam sendiri, aku pun tak bisa mendampingi. Hanya menatap dari jauh ketika tim medis mengantarkan separuh jiwaku itu ke tempat peristirahatan terakhir.

Belum sempat kukatakan cinta dan sayang padanya, belum puas pula kukecup keningnya, belum hilang aroma tubuhnya yang terkadang bercampur bau alkohol dan tak akan pernah hapus binar harapnya dari ingatku ketika ia melambaikan tangan pamit untuk pergi kala itu. Saat terakhir merekam senyum tulusnya.

Ia pergi dengan cara yang paling ia inginkan, gugur dalam tugas dan kembali dalam senyum. Ia pergi dalam sendiri namun dengan kebanggaan akan profesinya sebagai perawat dan entah kenapa hati ini terasa ikut pergi bersama dengannya. Melanie.

***

"Pakai masker terus, Pak, takut virus ya? Takut itu sama Tuhan Pak jangan dengan Corona. Percuma berkopiah tapi gak ada iman."

Aku tersenyum menanggapi candaan tukang parkir yang menyayat itu. Ingin kumaki, kubungkam mulut kejinya dan mengatakan bila istriku harus mati karena orang-orang bodoh sok pintar sepertinya.

"Sudah, Nak. Kita pulang saja." Ibu yang duduk di sebelahku mengenggam jemari ini. Menguatkan.

Aku mengangguk setelah beberapa kali sudut netra tak henti mengembun.

Seandainya semua meredam ego, seandainya taat dan melindungi diri, semua tak akan setragis ini. Tak bisakah mereka yang abai di sana memikirkan bila Melanie Melanie itu tak sendiri ada keluarga yang menanti mereka kembali. Pulang dalam selamat bukan hanya tinggal nama.

End.

Doaku selalu teriring untuk tim medis yang tak kenal lelah mempertaruhkan nyawa manusia yang bahkan tak ia kenal.

Ayo bantu mereka dengan #stayathome , jaga diri dan tak kalap memonopoli kebutuhan medis. Syukur-syukur kalau mau bantu dengan mendonasikan sedikit harta untuk mereka kalau enggak bisa ya tiga tadi lah dikerjakan.

Muaradua, Ana Yuliana.



Kisah Haru Dokter Perawat yang Meninggal Tertular Virus Corona dari Pasien

pesan sponsor

Saatnya work from home yuk?

Alhamdulillah saya bisa meraih mobil cash tanpa nyicil hanya dalam waktu 6 mingguan. Saya sudah siapkan program untuk anda juga bisa mendapatkannya dalam 6 bulan atau kurang atau uang kembali. Penasaran? KLIK DISINI

Yuk ikut saya gabung bisnis sinergy eco racing, cara termudah dan tercepat mendapatkan mobil idaman keluarga anda. KLIK www.otobest.id

Khabar gembira Eco Racing sudah buka cabang di Malaysia, Thailand, Philipines dan Brunei Darussalam. Jadilah yang pertama.

Baca dan pelajari baik2 sebelum gabung..

--------------------------------------

Nomor Whatsapp WA ChatBox Virus Corona Covid-19 Resmi dari Pemerintah

Berikut ini Nomor Whatsapp WA ChatBox Virus Corona Covid-19 Resmi dari Pemerintah, saya ambil dari sumber sebelah.

Bagi warga yang ingin mencari informasi seputar virus Corona, dapat memanfaatkan akun chatbot WhatsApp. Selain mengakses situs Covid-19 yang sudah disediakan pemerintah.

Caranya hampir sama seperti menambah akun kontak WhatsApp. Tinggal memasukkan nomor 081133399000 pada smartphone. Setelah itu beralih dan masuk ke aplikasi WhatsApp. Kemudian cari nomor kontak yang sudah ditambahan.

Akun chatbot WhatsApp tersebut akan tertera COVID19.GO.ID yang disampingnya diberi tanda centang warna hijau, tanda bahwa akun ini telah terverifikasi.

Untuk saat ini, chatbot WhatsApp COVID-19 pemerintah hanya akan memberikan informasi berdasar opsi pertanyaan yang telah dipilih. Mulai dari Kabar Covid-19 terkini di Indonesia, apa itu Covid-19 hingga soal rumah sakit rujukan Covid-19.

Nomornya adalah

081133399000

Atau klik https://wa.me/6281133399000

Silahkan save dan tes dengan "Halo"
Bapak Ibu silahkan di save nomer WA ini, setelah di save, japri WA ketik halo , maka akan keluar menu pelayanan nya, mungkin suatu saat ada teman yang memerlukan 🙏

Maka akan dapat jawaban seperti ini

[06.25, 23/3/2020] COVID19 GO. ID: Halo! Selamat datang di Pusat Informasi Covid-19 powered by Kemkominfo RI. Semoga kamu sehat-sehat selalu.
[06.25, 23/3/2020] COVID19 GO. ID: Apa saja sih yang ingin kamu ketahui mengenai Covid-19?

A. Kabar Covid-19 terkini di Indonesia
B. Sebenarnya apa sih Covid-19 itu?
C. Apa saja gejala Covid-19?
D. Bagaimana cara melindungi diri?
E. Bagaimana cara melindungi orang lain?
F. Masker perlu gak sih?
G. Rumah Sakit Rujukan Covid-19.

Ketik A, B, C, D, E, F, atau G, lalu kirim ke kami. Maka, kami akan menjawab pertanyaan kamu.

Bagikan info akurat tentang COVID-19 ke teman dan keluargamu 🙏
www.covid19.go.id
0811 333 99 000

Hotline 119 ext 9 untuk mendapatkan bantuan apabila ada gejala

Demikian Kisah Haru Dokter Perawat yang Meninggal Tertular Virus Corona dari Pasien. Semoga menginspirasi. Bagikan Kisah Haru Dokter Perawat yang Meninggal Tertular Virus Corona dari Pasien ini ke teman tetangga anda yang lain ya?

Sukses




Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment