Feb 20, 2020

Petuah Bijak Hikmah Kehidupah, Cara Menyikapi Hidup Agar Lebih Bahagia

Percayalah meskipun hidup anda dilimpahi kekayaan tidak menjamin kebahagiaan. JIka hidup kering iman hasilnya kesesatan dan kesedihan. Apa gunanya harta benda melimpah ruah kalau keluarga berantakan? Apa gunanya semua perhiasan dunia, kalau kita tidak punya iman? Yuk simak Petuah Bijak Hikmah Kehidupah, Cara Menyikapi Hidup Agar Lebih Bahagia.


Petuah Bijak Hikmah Kehidupah, Cara Menyikapi Hidup Agar Lebih Bahagia

Kehidupan itu adalah guru terbaik. Proses2 kehidupan akan mengajari kita semua supaya bisa lebih dewasa dalam bersikap.

Proses kehidupan adalah guru, dan bisa menjadi wasilah kebahagiaan asalkan kita mau belajar dari kehidupan itu sendiri. Belajar lebih tenang, lebih bijak, lebih sabar didalam menghadapi dinamika hidup yang seperti roda.

Kadang membahagiakan

Kadang menyedihkan

Kadang menguras air mata

Itulah hidup dimana kita semua akan belajar darinya.

Ada sebuah kisah tentang Petuah Bijak Hikmah Kehidupah, Cara Menyikapi Hidup Agar Lebih Bahagia. Simak ya?

---------------------------------

Dalam sebuah acara Reuni, beberapa alumni menjumpai guru sekolah mereka  dulu.

Mereka menceritakan kisah sukses masing-masing ...

Ada yang menjadi :

- Menteri
- Gubernur
- WaGub
- Walikota
- WaWalikota
- Bupati
- Wakil Bupati,
- Direktur BUMN,
- Direktur Bank,
- Pengusaha sukses,
- PNS,
- Guru,
- Dokter,
- Arsitek,
- Pengacara,
- Anggota dewan,
- Ketua LSM,
- Wartawan,
- Konsultan,
- Kepala Desa

dan lain-lainnya.

Melihat para alumni tersebut ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, guru tersebut segera ke dapur kemudian mengambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda-beda.

‎Mulai dari cangkir yang terbuat dari kristal, kaca, melamin dan plastik.

“Sudah, sudah ...
Ngobrolnya berhenti dulu.
Ini Bapak sudah siapkan kopi buat kalian,”

seru sang guru memecah keasyikan obrolan mereka.

Hampir serempak, mereka kemudian berebut cangkir terbaik yang bisa mereka dapat. Akhirnya, di meja yang tersisa hanya satu buah cangkir plastik yang paling jelek.

Lantas, setelah semua mendapatkan cangkirnya, sang guru pun mulai menuangi cangkir itu dengan kopi panas dari teko yang telah disiapkannya.

“Mari, silakan diminum,” ajak sang guru, yang kemudian ikut mengisi kopi dan meminum dari cangkir terakhir yang paling jelek.

“Bagaimana rasanya?
Nikmat kan?
Ini dari kopi hasil kebun keluarga saya sendiri.”

“Wah, enak sekali Pak ... Ini kopi paling sedap yang pernah saya minum,” timpal salah satu murid yang langsung diiyakan oleh teman yang lain.

“Nah, kopinya enak ya?
Tapi, apakah kalian tadi memperhatikan. Kalian hampir saja berebut untuk memilih cangkir yang paling bagus hingga hanya menyisakan satu cangkir paling jelek ini?” tanya sang guru.

Murid-murid itu pun saling berpandangan.

"Perhatikanlah, bahwa kalian semua memilih cangkir yang bagus dan kini yang tersisa hanyalah cangkir yang murah dan tidak menarik.

Memilih hal yang terbaik adalah wajar dan manusiawi.

Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus perasaan kalian mulai terganggu.

Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkan-nya.

Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya.‎

Hidup kita, baik kehidupan dunia maupun kehidupan ibadah, seperti kopi dalam analogi tersebut di atas, sedangkan cangkirnya adalah sarana, pekerjaan, jabatan, atau harta benda yang kita miliki."

Semua alumni tertegun mendengar penjelasan dari sang guru.

Penjelasan dari sang guru telah menyentak kesadaran mereka.

"Anak-anakku tercinta ..." lanjut sang guru.

"Jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati.

Cangkir bukanlah yang utama, kualitas kopi itulah yang terpenting.

Jangan berpikir bahwa :

- kekayaan yang melimpah,
- sarana yang mewah,
- karier yang bagus dan
- pekerjaan yang mapan

merupakan jaminan kebahagian hidup dan kenikmatan dalam beribadah.

Itu konsep yang sangat keliru.

Kualitas hidup dan ibadah kita ditentukan oleh :

"Apa yang ada di dalam" bukan
"Apa yang kelihatan dari luar"

Status, pangkat, kedudukan, jabatan, kekayaan, kesuksesan, popularitas, adalah sebuah predikat yang disandang.

Tak salah jika kita mengejarnya.
Tak salah pula bila kita ingin memilikinya.

Namun, semua itu hanya sarana.

Sarana hanya bermanfaat apabila bisa mengantarkan kita pada tujuan.

Apa gunanya  memiliki segala sarana, namun tidak pernah merasakan :

- kedamaian,
- ketenteraman,
- ketenangan,

dan

- kebahagian sejati di dalam kehidupan kita, yaitu forever love❤ ?

Itu sangat menyedihkan.

Karena hal itu sama seperti kita menikmati kopi kualitas buruk yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal ..."

Kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkir-nya, tetapi seberapa bagus kualitas kopi-nya ..."

Semoga Bermanfaat...🙏

-------------------------------

Nah itulah kisah Petuah Bijak Hikmah Kehidupah, Cara Menyikapi Hidup Agar Lebih Bahagia. Yaitu belajar menikmati hidup itu sendiri sebagaimana menikmati kopi dalam gelas.

Kopi itu adalah hidup, dan gelas adalah perhiasan.

Percuma minum dengan gelas emas, kalau isinya racun

Bisa dipahami?

Maka pastikan anda menikmati kehidupan dunai ini sebagai mahluk Tuhan YME, dan beribadah kepada_Nya. Adapun gelas hanyalah perhiasan yang tidak boleh kita bergantung kepadanya.

Tapi bergantunglah kepada Sang Pemberi Kopi.

Semoga Petuah Bijak Hikmah Kehidupah, Cara Menyikapi Hidup Agar Lebih Bahagia ini bermanfaat.

Sumber kisah dari share teman

Wallahu A'lam




Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment