Jan 9, 2020

Mengambil Hikmah dari Filosofi Wayang Kulit Jowo

Dari jowo alias kejowoan alias kejawen kadang sering dipandang sebelah mata. Karena yang dilihat hanyalah unsur klenik2nya saja. Padahal banyak filsafat jawa yang berbudi pekerti luhur. Salah satunya ada di pertunjukan wayang. Yuk kita Mengambil Hikmah dari Filosofi Wayang Kulit Jowo.


Mengambil Hikmah dari Filosofi Wayang Kulit Jowo

Yuk kita bahas Mengambil Hikmah dari Filosofi Wayang Kulit Jowo. Saya nulis dalam status instagram di link ini https://www.instagram.com/p/B6Tq-XVgZPW/

Beberapa hari ini ngabisin malam Ditemenin wayang kulit. Dalam cerita wayang ada ilmu kejawen yg kadang dipandang sebelah mata. .
.
Dalam cerita wayang ada budaya
Budi pekerti
Adab
Sikap
Tata krama
Pitutur
Spiritual
Tauhid
.
.
Yg dikemas sedemikian dalam sebuah kisah jawa yg mudah berasimilasi dg budaya. Bahasa2 pewayangan yg kadang susah dimengerti tapi mengandung filsafat spiritual tingkat tinggi
.
.
Jamus kalimosodo (kalimat sahadat)
Pandowo limo (rukun islam)
Kuku ponconoko (sholat 5 waktu)
Dll
.
.
Yaah begitulah nasib wayang kulit. Budaya dan ajaran islam tingkat tinggi yg mulai diabaikan wong jowo.

------------------------------------------

Makna filosofi wayang kulit

Makna filosofi wayang kulit salah satu kesenian tradisional jawa yang paling terkenal adalah wayang kulit. Bukan hanya sebagai tontonan yang menarik ternyata wayang kulit juga menyimpan makna yang begitu dalam , sehingga bisa kita jadikan pelajaran ataupun tuntunan

Apa saja makna yang filosofis di balik kesenian jawa wayang kulit , berikut penjelasanya:

Dalang

dalang dalam pergelaran wayang kulit adalah yang mengatur jalannya sebuah cerita atau lakon. Tanpa dalang, wayang tentu tidak akan pernah bisa mainkan.

Dalang di ibaratkan sebagai sutradara kehidupan (Tuhan) yang mengatur sifat, hidup, mati, serta kelakuan dari tokoh kehidupan(makhluk).

secara bahasa , kata dalang merupakan pengalihan dari bahasa Arab yaitu “Dalla”, yang berarti “Menunjukkan”. “Man dalla ‘ala al-Khairi Kafa’ilihi,” barang siapa menunjukkan dan mengajak pada kebaikan, maka (pahalanya) laksana pelaku kebaikan tersebut.

Beber atau layar putih

Beber adalah penggambaran dari bumi yang pada awal penciptaanya masih suci sebelum dihuni oleh makhluk apa pun. Namun, ketika makhluk sudah memasuki bumi, maka bumi secara perlahan akan tercemari oleh kelakuan dan watak dari makhluk itu sendiri.

Itulah yang akan menjadikan penilaian bumi hitam atau lembah hitam dan putih. Akan tetapi di akhir cerita, beber pun akan kembali putih . Ini mengibaratkan bahwa kelak makhluk apapun yang ada di bumi ini akan diluluh lantakkan dari atas bumi ini sehingga beber akan kembali putih seperti sedia kala

Kelir (batang pohon pisang)

kelir ibarat sebuah raga yang dihuni oleh jiwa yang berbentuk wayang. Kelir tidak akan berguna tanpa adanya wayang yang ditancapkan.

Kelir hanya digunakan ketika wayang dipentaskan di atas beber, dan ketika wayang sudah tidak di pentaskan, maka kelir akan dibuang ke tempat sampah.

Makna filosofinya adalah;

Raga hanya akan berguna ketika jiwa masih menancap.namun ketika raga sudah tidak ada jiwanya , maka seakan raga sudah tidak lagi berguna

bentuk wayang sangatlah beragam . Ada yang bagus, menyeramkan, dan ada juga yang lucu. Namun, ketika wayang dipentaskan, wayang mempunyai dua sisi pandang.

Pertama : wayang yang dipertontonkan merupakan sebuah wayangan (bayangan) belaka
kedua : wayang yang aslinya tetap dipegang oleh dalang.

Hal ini pengibaratan dari jiwa makhluk yang selalu mempunyai dua sisi yang berbeda, ada yang dipertontonkan kepada makhluk lain dan ada juga yang tidak (sirri), namun pada intinya selalu digenggam oleh sang ‘dalangnya

Blencong (lampu penerang di depan layar)

blencong ibarat sebuah cahaya (wahyu) kehidupan. Tanpa adanya blencong, wayang pun tidak bisa dimainkan sekalipun wayang sudah menancap di atas kelir.

ini pengibaratan dari jiwa dan raga dari makhluk , bahwa makhluk takkan bisa hidup tanpa adanya cahaya, Dan cahaya (wahyu) kehidupan hanyalah milik sang maha pencipta ( Allah)

Pethi (kotak kayu)

peti dalam wayang berfungsi untuk menyimpan wayang, baik yang belum digunakan atau pun yang sudah mati atau di gunakan.

peti ibarat sebuah kuburan bagi tokoh-tokoh yang sudah mati dan tidak dimainkan. Walaupun hidup seperti apa pun , pada akhirnya tokoh akan terkunci pada tempat gelap, sempit, dan pengap.


13 Filosofi Kehidupan Pada Tokoh Wayang Kulit

Berikut ini ada 13 Filosofi Kehidupan Pada Tokoh Wayang Kulit yang saya ambil dari sumber KASKUS sbb

Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang berasal dari kata 'Ma Hyang' yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna 'bayangan', hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja.

Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.

Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga ( Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity ).

Berikut beberapa makna kehidupan dari tokoh wayang kulit

Sadewa

Sadewa adalah Pandawa bersaudara yang paling kecil. Sadewa mengandung makna filosofi sifat menyerupai dewa. Hal ini mengandung makna bahwa kita sebagai manusia paling banyak berada dalam kondisi merasa bisa, merasa paling, merasa unggul sehingga terkadang dari keadaan tersebut muncullah sifat sombong, ingin dihormati, dan sejenisnya. Sifat ini sangat manusiawi. Posisi sifat batin manusia dalam tingkatan Sadewa merupakan posisi terendah.


NAKULA

Nakula adalah kakak dari Sadewa. Nakula mengandung makna saya. Kula dalam bahasa jawa berarti saya akan tetapi bahasa yang santun dan rendah hati. Ini berarti keakuan dalam diri manusia yang tadinya merasa paling kini telah berubah setingkat lebih luhur, menjadi sifat kesadaran manusia yang merasa dirinya kecil dan masih ada yang lebih diatasnya. Hal ini disimbolkan dalam kata kula (Bahasa Jawa Kromo untuk menyebutkan identitas diri secara santun).


ARJUNA

Arjuna adalah kakak Nakula. Arjuna berasal dari kata Her yang berarti air bening atau wening atau wingit atau ghaib. Dan Jun yang berarti tempat. Arjuna dapat simpulkan sebagai keadaan batin manusia yang telah dapat menjadi tenang, hening, dan bijaksana. 

Pada posisi ini manusia telah sadar akan hakekatnya sebagai makhuk hidup yang sempurna sehingga tindak tanduknya selalu disertai dengan pertimbangan-pertimbangan dan kebijaksanaan. Untuk mencapai tahap batin ini tidaklah mudah tidak seperti kita mencapai tahap Sadewa dan Nakula. Kita perlu perjuangan berat untuk bisa mencapai batin seorang Arjuna sehingga dalam pewayangan dikisahkan tentang perjalanan Arjuna antara lain beristri banyak (srikandi,sembadra,larasati, dan drestanala), Srikandi berguru manah (panah) hingga Begawan ciptaning (Arjuna menjadi Begawan). Selanjutnya marilah kita kupas satu persatu tentang kisah-kisah Arjuna yang tentunya ini mengandung tuntunan tersirat bagaimana agar kita bisa sampai pada posisi batin tahap Arjuna.

Istri-istri Arjuna sesungguhnya bukanlah berwujud sebagai individu melainkan mengandung makna sikap batin yang harus dicapai sorang manusia dalam tahap ini.


WERKUDARA (BIMA)

Werku berarti menahan, mengendalikan, atau mengatur dan udara berarti nafas. Werkudara dapat diartikan sebagai suatu proses pengendalian nafas. Atau pengendalian hidup karena inti dari hidup adalah nafas. Tingkatan ini sangat sulit dicapai dan hanya orang – orang tertentu yang diijinkan Tuhanlah yang mampu pada tahap ini.

Untuk mencapai tahap ini kita harus melalui berbagai macam proses seperti yang dikisahkan dalam lakon Dewaruci dan Begawan Bimo Suci. Dalam lakon Dewaruci dikisahkan bahwa Bima disuruh mencari banyu perwita sari ( perwita suci ) oleh resi Durna gurunya, dimana dia harus mencarinya di Alas Tribaksara, ia harus mengalahkan Reksasa Rukmuka dan Rukmukala, kemudian dia harus nyegur (masuk) samudera laya, mengalahkan naga raksasa dan terakhir bertemu dengan Dewaruci yang akhirnya mendapat wejangan tentang rahasia hidup.


PUNTADEWA

Adalah saudara tertua yang berarti juga tingkatan tertinggi atau manusia yang telah menjadi insan kamil atau khalifah Tuhan untuk alam ini yaitu manusia yang telah menduduki fungsinya sebagai makhluk yang paling sempurna dibanding makhluk lain sehingga ditunjuk Tuhan sebagai wakil yang memelihara alam ini. Puntadewa diceritakan berdarah putih dan raja yang tidak bermahkota.

Punta/Punton berarti tali
Dewa symbol ketuhanan pada saat itu

Puntadewa dapat diartikan sebagai wakil dari Tuhan atau khalifah atau insan kamil, maka orang yang sangat dekat dengan Tuhannya disimbolkan berdarah putih (menjaga perbuatannya dari hal-hal yang tidak baik. Tidak bermahkota yang berarti tidak silau akan harta dan tahta duniawi.


Sembadra

Badra berarti halus. Setelah kita mampu mengambil hikmah-hikah yang baik dari setiap kejadian selanjutnya kita tingkatkan kualitas batin kita menjadi batin yang mampu menerima, rela, sabar, serta ikhlas terhadap apa yang telah terjadi dalam hidup kita meskipun itu tidak menyenangkan. Dengan membiasakan sikap ini maka batin kita lama – lama akan terbentuk menjadi batin yang halus yang tentunya juga akan mempengaruhi diri kita secara keseluruhan menjadi manusia yang berpribadi halus.


GARENG

Anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diambil anak angkat pertama oleh Semar. Nama lain gareng adalah : Pancalpamor ( artinya menolak godaan duniawi ) Pegatwaja ( artinya gigi sebagai perlambang bahwa Gareng tidak suka makan makanan yang enak-enak yang memboroskan dan mengundang penyakit. Nala Gareng (artinya hati yang kering, kering dari kemakmuran, sehingga ia senantiasa berbuat baik).


ANOMAN

Anoman ........... berasal dari kata anom atau sinom (bahasa jawa) yang artinya muda, maka Anoman berarti Kepemudaan.

Anoman yang berasal dari kendali sada ini mempunyai kekuatan yang sangat hebaaaaaat, yaitu mampu menghancurkan gunung Sumawana. SU = nafSU, MA = MAksiat, WA = haWA, NA = iNA. Maksudnya secara keseluruhan : karena Anoman sudah dilandasi/ berpegang teguh pada 2 kalimat sahadat (kendalisada) maka Anoman mempunyai kekuatan yang sangat hebat yaitu sanggup menghancurkan "nafsu maksiat dan hawa yang hina/ buruk.


PETRUK

Nama lain Petruk adalah Kanthong Bolong, artinya suka berdema. Doblajaya, artinya pintar. Diantara saudaranya (Gareng dan Bagong) Petruklah yang paling pandai dan pintar bicara.

Petruk tinggal di Pecuk Pecukilan. Ia mempunyai satu anak yaitu Bambang Lengkung Kusuma (seorang yang tampan) istrinya bernama Dewi Undanawati. Sebagai punakawan Petruk selalu menghibur tuannya ketika dalam kesusahaan menerima cobaan, mengingatkan ketika lupa, membela ketika teraniaya. Intinya bisa momong, momot, momor,mursid dan murakabi.

momong ..................................... artinya bisa mengasuh.
momot ....................................... artinya dapat memuat segala keluhan tuannya, dapat merahasiakan masalah.
Momor ...................................... artinya tidak sakit hati ketika dikritik dan tidak mudah bangga kalau disanjung.
Mursid ....................................... artinya pintar sebagai abdi, mengetahui kehendak tuannya.
Murakabi ................................... artinya bermanfaat bagi sesama.


BEGAWAN CIPTONING

Begawan berarti manusia yang luhur dan tinggi spiritualnya.

Cipta berarti pikiran.

Ning berarti hening atau wening atau bening.

Maka dapat disimpulkan untuk menjadi manusia yang mempunyai kesadaran spiritual yang tinggi, kita harus mempunyai pikiran yang jernih. Untuk mempunyai pikiran yang jernih kita harus sering bermeditasi ataupun berdzikir mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dalam pewayangan dikisahkan Arjuna bertapa di gunung Indrakila yang berarti kita sebagai manusia untuk masuk dalam tingkatan ini memang harus mengistirahatkan panca indera kita dengan jalan meditasi, tahalwat, semedi dan sejenisnya. 

Kita juga dapat melihat dari kisah-kisah nyata yang terdapat pada para nabi dan orang-orang terdahulu dimana mereka untuk mendapat pencerahan spiritual ataupun wahyu pasti mereka bertahalwat ataupun bermeditasi ditempat yang sunyi seperti di gua – gua ataupun di puncak – puncak gunung.

Setelah kita mendapat pencerahan ruhani maka batin kita akan semakin peka dan hidup serta sadar akan fitrah kita sebgai sesuatu yang hidup bersemayam dalam jasad ini yang suatu ketika akan kita tinggalkan, sehingga kemudian kita akan berpikir kemanakah kita selanjutnya setelah jasad ini tidak bisa kita pakai lagi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka kita harus mengenal Werkudara karena posisi batin Werkudaralah yang mampu sampai pada tingkatan tersebut.


BAGONG

Adalah simbol sifat pemalas dan tidak akan berbuat jika tidak disuruh terlebih dahulu. Bagong merupakan gambaran sikap dari diri kita yang telah menjadi Pandawa yang akan melaksanakan sesuatu setelah benar-benar kita perhitungkan terlebih dahulu, maka apabila kita belum mendapatkan kemantapan terhadap suatu hal, kita belum akan melaksanakan hal tersebut


SEMAR

Semar yang berarti samar yang bertugas momong atau mengasuh pribadi kita. Dalam kepercayaan jawa, juga dalam Al Quran disebutkan bahwa setiap manusia ada yang momong atau membimbing yang bersifat ghaib, maka Semar dilambangkan dengan laki-laki tetapi seperti perempuan, akan tetapi bukan banci, yang merupakan simbol dari sfat samar atau ghaib. Semar mempunyai kuncung yang menghadap ke atas, yang merupakan simbol ketuhanan. Semar bersifat ghaib tetapi bukan Tuhan, dia hanya wakil Tuhan yg ghaib yang ditugaskan untuk ngemong atau membimbing setiap manusia.


TOGOG

Dalam jagad wayang, nama Togog sudah cukup dikenal. Pada setiap lakon, dia “ditakdirkan” untuk mendampingi majikan berhati congkak, keras kepala, mau menang sendiri, hipokrit, otoriter, dan antidemokrasi. Suara-suara bijak dan pesan-pesan moralnya (nyaris) tak pernah didengar, sehingga dia ikut tercitrakan sebagai tokoh berwatak jahat.

Tugas Togog jelas lebih berat dari Semar. Semar bertugas untuk memomong para ksatria yang pada dasarnya sudah bersifat baik, sedangkan Togog bertugas untuk memberi nasihat, peringatan dan menyadarkan para kesatria yang berwatak buruk. Makna tugas Togog adalah mencegah perilaku, tindakan, dan aksi kejahatan dari tokoh-tokoh tersebut.

Togog, dalam posisi sebagai pengasuh atau "batur", tidak menjadi kehilangan jati dirinya. Togog tetaplah sosok yang memiliki kecerdasan sebagai dewata. Maka, meski berada dalam lingkungan tokoh-tokoh jahat, Togog tidak lebur dalam perilaku jahat. Togog juga tidak lebur dalam opini pendapat umum. Sebagai sosok yang berangkat dari keintelektualan dewata, Togog mampu menjaga kejernihan pikirannya. Berani memberikan nasihat dan berani mengatakan tidak kalau memang itu semestinya tidak dilakukan. Itu semua karena Togog memang tidak berkepentingan terhadap kedudukan, harta atau berbagai bentuk perlindungan dan penghargaan untuknya.

Sumber;

https://www.facebook.com
https://www.kaskus.co.id

Nah demikian artikel Mengambil Hikmah dari Filosofi Wayang Kulit Jowo. Yuk ambil hikmah dari seni wayang kulit. Biasakan juga nonton pertunjukan wayang kulit. Tidak harus langsung tapi bisa juga lewat youtube.

Share artikel Mengambil Hikmah dari Filosofi Wayang Kulit Jowo ke teman anda ya?




Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment