Bisnis Sinergy Eco Racing, Cara Cepat dan Mudah Mendapatkan Mobil Cash Idaman Keluarga Anda. (Cukup Beberapa Bulan Saja). Mau Mobil Cash? KLIK DISINI >>>

Apr 4, 2019

Orang yang Merugi, Capek-Capek Ibadah Tapi Pahalanya di Bagi-Bagi Sampai Habis

Siapakah orang yang merugi? Orang yang Merugi, Capek-Capek Ibadah Tapi Pahalanya di Bagi-Bagi Sampai Habis. Sebab sang ahli ibadah tidak bisa menjaga lisannya. Pahala ibadahnya diberikan kepada orang yang ia ghibah, jika kurang maka dosa orang yang dighibah akan dipikulkan kepadanya. Sungguh sangat merugi gan.

Terkait tema ini saya menulis dalam sebuah status facebook

Memang manusiawi. Kita lebih cenderung sibuk mencari cacat & kelemahan org lain tapi lupa utk ikhlas memperbaiki diri. #muhasabah


Manusiawi sih emang manusiawi, tapi akibatnya bisa fatal. Jika kita lebih suka mencari cacat orang lain maka jadilah kita orang yang merugi. Seberapa besarpun pahala ibadah kita kalau kita suka membicarakan aib orang lain maka habislah pahala ibadah kita.


Orang yang Merugi, Capek-Capek Ibadah Tapi Pahalanya di Bagi-Bagi Sampai Habis

Di status yang lain saya menulis sbb

Jauhi buruk sangka karena ia bisa membakar hidupmu dan keluargamu seperti api membakar kayu. Habis hanya tersisa arang penyesalan.


Buruk sangka itu sangat membahayakan. Mau karena prasangka ataupun fakta kalau membicarakan orang lain dibelakang mending jangan. Mending kendalikan diri ngomongin orang lain sebab benar atau salah tetap akibatnya bisa fatal.

Sekali lagi, Orang yang Merugi, Capek-Capek Ibadah Tapi Pahalanya di Bagi-Bagi Sampai Habis. Kenapa demikian? Karena ia gemar ghibah dan fitnah.

Dalam status malam ini saya menulis sbb:'

------------------------------

Bangun malam mata ngantuk dibela-belain tahajud supaya hidup lebih terarah.

Duit tinggal dikit dibela-belain untuk sedekah agar hidupnya melimpah.

Disempet-sempetin baca Al Qur'an biar hidupnya berkah.

Berlelah-lelah melaksanakan amal ibadah pagi siang dan malam.

Eeeehhhhh pahalanya malah dibagi-bagikan kepada orang lain. Sampai habis tak bersisa malah memikul dosa.


Merugi..

Why kenapa?

Karena ia gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Jika benar ia sudah mengghibah. Jika salah sudah memfitnah.

Rosulullah saw bersabda

مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kaliana apa itu ghibah?”tanya Rasulullah kepada para sahabatnya. Sahabat menjawab : Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Yaitu engkau menyebutkan (mengumpat) sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Kemudian ada yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Bagaimanakah pendapat engkau bila yang disebutkan itu memang benar ada padanya ? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Kalau memang ia benar begitu berarti engkau telah mengumpatnya. Tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya” ( HR Muslim no 2589, Abu Dawud no 4874, At-Tirmidzi no 1999.

Sumber hadist disini


Inspirasi Israk Mi'raj oleh ust. Abdul Aziz. Rabu 3 April 2019

-----------------------------

Hati-Hati Menulis Kekurangan Orang Lain di Medsos

Sekarang ini kayaknya ringaaan banget nulis kelemahan orang lain di media sosial misalnya di facebook. Mencela, melaknat, mencaci dan seabreg kata2 kasar lainnya.

Dalam sumber disini ditulis sbb

“Tulisan (hukumnya) sebagaimana lisan”. Maksudnya adalah tulisan anda di medsos sebagaimana mulut anda berbicara. Hukumnya sama.

Ketika lisan suka mencaci, mencela, melaknat, ghibah dan berkata-kata kotor kepada orang lain, ini sama saja kita akan “bagi-bagi pahala gratis” kepada mereka kemudian kita akan bangkrut. Mengapa demikian? Karena dengan lisan dan tulisan kita, mereka yang kita cela dan caci-maki adalah pihak yang kita dzalimi. Jika kita tidak meminta maaf di dunia, maka urusan akan berlanjut di akhirat.

Di akhirat kita tidak bisa meminta maaf begitu saja, akan tetapi ada kompensasinya. Kompenasi tersebur bukan uang ataupun harta. Karena ini sudah tidak bermanfaat di hari kiamat.

Kompensasinya adalah sebagai berikut:
  • Jika punya pahala kebaikan seperti pahala shalat dan puasa, maka akan dibagi-bagikan kepada mereka yang didzalimi di dunia dan belum selesai perkaranya artinya belum ada maaf dan memaafkan
  • Jika yang mendzalimi (mencela dan memaki) sudah habis pahalanya, maka dosa orang yang didzalimi akan ditimpakan dam diberikan kepada orang yang mendzalimi

Dalam sebuah hadist yang saya ambil disini disebutkan sbb

أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوْا: الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR Muslim no. 6522)

Di dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAWbersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَخِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ دِيْنَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كاَنَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Siapa yang pernah berbuat kedzaliman terhadap saudaranya baik menyangkut kehormatan saudaranya atau perkara-perkara lainnya, maka hendaklah ia meminta kehalalan dari saudaranya tersebut pada hari ini (di dunia) sebelum (datang suatu hari di mana di sana) tidak ada lagi dinar dan tidak pula dirham (untuk menebus kesalahan yang dilakukan, yakni pada hari kiamat). Bila ia memiliki amal shalih diambillah amal tersebut darinya sesuai kadar kedzalimannya (untuk diberikan kepada orang yang didzaliminya sebagai tebusan/pengganti kedzaliman yang pernah dilakukannya). Namun bila ia tidak memiliki kebaikan maka diambillah kejelekan orang yang pernah didzaliminya lalu dipikulkan kepadanya.” (HR Al-Bukhari no. 2449)


8 Jenis-Jenis Ghibah (Ada yang Terselubung Lho?)

Kita seringkali tidak sadar bahwa apa yang kita bicarakan adalah ghibah menjelekkan orang lain. Menurut kita, kita sudah melakukan hal2 yang wajar namun sebenarnya apa yang kita lakukan sama saja, yaitu ghibah dan fitnah.


Dalam sumber disini disebutkan Beberapa model ghibah terselubung

Model-model ghibah tersebut adalah:

Pertama, seorang menggunjing saudaranya untuk memeriahkan obrolan. Dia menyadari kalau ghibah ini tidak diteruskan, orang yang dia ajak bicara akan bosan, obrolan menjadi hambar. Untuk itu, dia jadikan ghibah sebagai pemeriah obrolan. Agar lebih manis dan tahan lama obrolannya. Barangkali dia berkilah untuk memupuk keakraban dan membahagiakan saudaranya (yang sedang dia ajak ngobrol).

Kedua, mengumpat saudaranya di hadapan orang lain, untuk mengesankan bahwa dirinya adalah orang yang tidak suka ghibah, padahal sejatinya dia sedang menghibahi saudaranya.

Sebagai contoh perkataan ini,” Bukan tipe saya suka ngomongin aib orang. Saya nda’ biasa ngomongin orang kecuali yang baiknya saja. Cuma, saya ingin berbicara tentang dia apa adanya… Sebenarnya dia itu orangnya baik. Cuma yaa itu.. dia itu begini dan begini (dia sebutkan kekurangannya).”

Padahal sejatinya bermaksud untuk menjatuhkan harga diri saudaranya yang ia umpat. Sungguh ironi, apakah dia kira Allah akan tertipu dengan tipu muslihat yang seperti ini, sebagaimana ia telah berhasil menipu manusia?!

Maha suci Allah dari sangkaan ini.

Ketiga, menyebutkan kekurangan saudaranya, dengan niatan untuk mengangkat martabatnya dan merendahkan kedudukan orang yang dia ghibahi.

Seperti perkataan seorang, “Dari kelas satu SMA sampai kelas tiga, rapornya selalu merah. Kalau saya alhamdulillah, walaupun ngga pernah rangking satu, tapi masuk tiga besar terus.”

Padahal ada maksud terselubung dari ucapan itu. Yaitu untuk mengangkat martabatnya dan menghinakan kedudukan orang lain. Orang yang seperti ini sudah jatuh tertimpa tangga pula; dia sudah melakukan ghibah, disamping itu, dia juga berbuat riya’.

Keempat, ada lagi yang mengumpat saudaranya karena dorongan hasad. Setiap kali ada orang yang menyebutkan kebaikan saudaranya, diapun berusaha untuk menjatuhkannya dengan menyebutkan kekurangan-kekurannya. Orang seperti ini telah terjurumus ke dalam dua dosa besar sekaligus; dosa ghibah dan dosa hasad.

Kelima, menyebutkan kekurangan orang lain, untuk dijadikan bahan candaan. Dia sebutkan aib-aib saudaranya, supaya orang-orang tertawa.

Dan lebih parah lagi, bila yang dijadikan bahan candaan adalah kekurangan guru atau ustadznya. -Nas alullah as-salaamah wal ‘aafiyah-.

Keenam, terkadang ghibah juga muncul dalam bentuk ucapan keheranan, yang terselebung motif menjatuhkan kedudukan orang lain. Semisal ucapan,”saya heran sama dia.. dari tadi dijelaskan oleh ustadznya tapi tidak faham-faham.” atau ucapan lainnya yang semisal.

Ketujuh, mengumpat dengan ungkapan yang seakan-akan mengesankan rasa kasihan. Orang yang mendengarnya menyangka bahwa dia sedang merasa kasihan dengan orang yang ia maksudkan. Padahal sejatinya dia sedang mengumpat saudaranya. Seperti ucapan,” Saya kasihan sama dia. Sudah miskin, tapi tidak mau ikut gotong royong. Kalau ada pengajian juga nda’ pernah datang.. dst”

Kedelapan, mengumpat saat sedang mengingkari suatu maksiat.

Seperti perkataan seorang ketika melihat anak-anak muda yang sedang main gitar di poskamling, “Kalian ini masih muda. Gunakanlah waktu kalian untuk hal-hal yang bermanfaat dan produktif. Supaya masa depan kalian lebih cerah, dan kalian bisa memetik buah manisnya nanti di masa tua. Jangan seperti anaknya pak lurah itu, kerjaannya hanya main kartu, gitaran, minum-minuman….” atau ucapan yang semisal.


Maafkan Saya Ya?

Saya Adhin Busro penulis blog ini mohon maaf kepada pembaca semuanya jika ada tulisan yang pernah menyinggung anda baik sengaja atau tidak sengaja. Saya meminta maaf kepada antum semuanya jika pernah menggunjing anda, mengumpat, ghibah, menjelekkan, menghina dan segala macamnya baik sengaja atau tidak sengaja.

Maafin saya ya?

Dan saya juga memaafkan anda semua jika pernah melakukan hal yang sama kepada saya. Biar kosong-kosong.

Ayuk belajar mengendalikan lisan kita untuk menjatuhkan orang lain. Belajar ngerem omongan kita. Belajar pengendalian diri. Sebab sejatinya banyak yang terpeleset karena lidah. Banyak yang jatuh celaka dan binasa gara2 lidah tak bertulang.

Meski berita itu benar tetap kendalikan omongan kita. Lebih2 kalau berita itu salah, semakin menambah-nambah dosa kita.

Semoga saya dan kita semua terhindar dari bahaya lidah dan dosa lisan. Bismillah. Aamiin

Demikian artikel dengan judul Orang yang Merugi, Capek-Capek Ibadah Tapi Pahalanya di Bagi-Bagi Sampai Habis. Share ya?

Wallahu A'lam




Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment