Jan 31, 2019

Bagaimana Cara Menyikapi Perbedaan Pandangan & Prinsip Hidup

Hdiup itu beragam dan pasti banyak perbedaan. Dan perbedaan inilah penyebab adanya perselisihan dari mulai yang kecil sampai perang dunia. Tidak bisa menerima perbedaan kepentingan dan berbeda pandangan hidup adalah penyebab kerusakan dimuka bumi. Lalu Bagaimana Cara Menyikapi Perbedaan Pandangan & Prinsip Hidup?

Gambar dari google

Bagaimana Cara Menyikapi Perbedaan Pandangan & Prinsip Hidup

Mari kita bahas Bagaimana Cara Menyikapi Perbedaan & Prinsip Hidup. Membahas tentang the diversity of the Opinion. Kembali kepada pertanyaan

Mengapa setiap orang berbeda-beda pandangan hidupnya?

Mengapa setiap orang berbeda-beda kedewasaannya?

Yuk kita intip.......

Saya dan anda sudah melalui periode kehidupan sesuai dengan usia kita masing-masing. Ada yang dilahirkan berasal dari orang kaya, ada yang sebaliknya.

Dari mulai bayi sampai balita, anak-anak, remaja dan dewasa kita sudah melalui proses-proses kehidupan yang semuanya diserap oleh panca indera dan terkumpul dalam pikiran/ otak.


Apa yang ia alami, buku yang dibaca, pendidikan, pergaulan, guru ngaji, dan semuanya yang berlangsung puluhan tahun akan menciptakan cara pandang, pemikiran, kecerdasan dan prinsip.

Ada yang proses2 kehidupannya berat, penuh dinamika, mengharu biru, berdarah-darah. Ada? Kalau ada sama dengan saya berarti.. hehe. Proses2 beratnya kehidupan akan menjadikannya seorang penjahat kelas kakap atau sebaliknya menjadi pribadi yang waskita.



Juga ada yang mengalami proses-proses kehidupan yang datar, stagnan, biasa saja, tidak ada tantangan dll. Diluar itu juga ada yang merasakan proses2 hidup yang mudah, indah, dan selalu membahagiakan.

Atau biasanya kombinasi dari ketiganya.. Kadang suka kadang duka, kadang susah kadang gembira. Grafiknya naik turun.

Sekali lagi Dari proses-proses kehidupan tadi kemudian menciptakan yang namanya paradigma dan atau prinsip hidup.

Prinsip adalah cara pandang seseorang yang sudah mendarah daging dan akan sangat sulit dirubah oleh apapun, oleh siapapun. Sebab Prinsip ini dihasilkan dari serapan proses2 kehidupan yang berlangsung bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Prinsip itu adalah cara berpikir dan berbicara dimana sumbernya sudah berasal dari alam bawah sadar yang menciptakan citra diri menjadi kharakter.

A: "Karena kamu sudah bohong maka kita putus" (Bisa jadi masa lalunya pernah dikhianati)

B: "Gak papa, saya masih maafkan, bahwa semua bisa berubah" (bisa jadi gru ngajinya mengajarkan demikian)

Nah dari 1 kasus saja akan beragam pemikiran. Dan semuanya benar sesuai dengan prinsip yang ada di kepala masing2. Sebab apa yang diputuskan dipengaruhi oleh prinsip hidup yang mengendap dalam alam bawah sadar.

Makanya kadang susah untuk menasehati si A atau si B sebab isi kepalanya sudah berbeda. Meskipun yang anda sampaikan (menurut anda) adalah kebenaran. Namun bagi si A tidak demikian, apa yang anda sampaikan bisa jadi keliru menurutnya, sebab ia sudah mengalami proses2 kehidupan itu tadi.

Maka yang terbaik, ketika anda dan teman anda ada perbedaan adalah

✔Nasehati dengan baik atau
✔Doakan

Kualitas menasehati seseorang kepada seseorang biasanya kurang berbobot, dan seringnya sarat dengan kepentingan yang sama dengan prinsip hidupnya. Kalau sama dengan pendapatnya maka akan ia memberikan nasehat, namun kalau sudah berbeda ia akan enggan.

Oleh karena itu yang terbaik adalah mendoakan. Sebab hanya DIA Yang berhak memberikan hidayah dan petunjuk. Kita semua adalah manusia, saya, anda, kyai, sampai presiden adalah manusia yang masing2 punya cara pandang dan prinsip hidup, serta kepentingannya sendiri.

No bodies perfect, tidak ada manusia yang sempurna, sehebat apapun dia selama masih punya pikiran (dalam kepala) dan nafsu dalam dada. Tidak ada satupun manusia yang selalu lurus dalam kebenaran. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari dosa.



Oleh karena itu (ketika ada perbedaan pandangan) lebih baik tetap kedepankan sikap saling menghargai, saling mendoakan, saling support satu sama lain. Atau kalau tidak bisa lebih baik diam, sebagai bagian dari belajar mengalah, belajar mengendalikan diri. Janganlah ketika sudah ada perbedaan kepentingan dan pendapat kemudian menjadi musuh.

Meskipun memang tidak akan ada yang benar-benar tulus dalam hidup ini. Sebab yang ada adalah kepentingan. Oleh sebab itu ketika anda dan kita semua dan siapapun juga masih satu kepentingan, masih satu visi, maka jadikan perjuangan anda menjadi perjuangan dalam kebaikan.

Sebaliknya jika sudah mulai muncul adanya perbedaan pandangan/prinsipi hidup (dan memang pasti ada) maka pahamilah bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Tidak perlu melirik, tidak perlu menyindir, tidak perlu nyinyir. Sebab kalau demikian malah akan menciptakan bibit2 permusuhan. Kawan jadi lawan, lawan jadi kawan. Musuh dalam selimut inilah yang lebih berbahaya dibanding musuh sebenarnya.

Bisa jadi anda yang lebih dekat kepada kebenaran, namun bisa jadi pula mereka yang lebih lurus dalam kebenaran. Yang tidak benar adalah mereka yang merasa paling benar dan yang lain salah. Sebab semua memutuskan dengan keputusan terbaik menurut versi (Paradigma) masing2 yang dipengaruhi oleh prinsip hidup yang sudah berproses selama puluhan tahun. Dan seringkali semua juga sudah berucap "Bismillah"

Lalu bagaimana kita menyikapi perbedaan?

Hitam dan putih itu jelas. Air dan api itu jelas. Siapa pahlawan dan siapa penjahat juga sudah jelas. Ditengahnya ada abu-abu. Dan kita condong suka bermain di abu-abu. Disini masalahnya. Sebab apa? Sebab dunia kita memang sudah abu-abu.

Oleh sebab itu di dunia yang abu-abu ini kunci menyikapi perbedaan adalah kedewasaan..

KEDEWASAAN.. Itu kuncinya. Dewasa didalam melihat sebuah permasalahan. Sebab tidak harus yang tua itu lebih dewasa. Tidak harus yang S3 itu lebih dewasa. Tidak musti yang Kyai itu lebih dewasa. Tidak semua presiden itu lebih dewasa.....

Sebab seseorang dikatakan dewasa ketika ia bisa mengendalikan apa-apa yang ada didalam dadanya, dengan tujuan kebajikan, kerukunan dan persatuan. Sekali lagi Dewasa itu adalah ketika anda bisa mengendalikan apa yang ada dalam dada. Itulah yang disebut dengan Jiwa yang tenang

Yaitu jiwa2 yang bisa ngerem atau pengendali nafsunya sendiri..

Lalu bagaimana supaya bisa memiliki jiwa yang tenang?

Pegang dada anda, kemudian pegang kening anda. Pikiran dan hati harus selaras. Apa2 yang ada di pikiran belum tentu pas dengan apa yang ada di hati. Pengendali pikiran anda adalah hati anda.

Gambar dari google

Kepala anda, pikiran anda ada dalam kendali anda. Sementara hati tempatnya iman. Tempat merasakan kehadiran Yang Maha Benar. Akal dan hati jadikan pengendali nafsu yang membara.

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku! (Al-Fajr:27-30)

Semoga kita semua dianugerahi oleh_Nya hati atau jiwa yang tenang. Yang dewasa dan penuh waskita didalam melihat segala macam perbedaan. Jiwa yang tenang, jiwa yang diridhoi_Nya. Aamiin

Demikian artikel Bagaimana Cara Menyikapi Perbedaan Pandangan & Prinsip Hidup, semoga mencerahkan. Wallahu A'lam

Sekian
EAB




Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment