Jun 1, 2018

7 Faktor Emosi yang Membuat Hati Gelap dan Asbab Kegagalan & Kesesatan

Inilah artikel singkat yang membahas tentang 7 Faktor Emosi yang Membuat Hati Gelap dan Asbab Kegagalan & Kesesatan. Bagi saya pemahaman ini penting banget, oleh karena itu wajib dibaca ya?

Seringkali kita merasa dalam kebenaran berdasarkan paradigma dan keyakinan kita sendiri. Padahal kebenaran itu bukanlah kebenaran melainkan sudut pandang semata.



Kalau si manusia bertahan dengan kebenaran yang dia anggap benar niscaya endingnya bukan kebahagiaan namun kesesatan dan kegagalan akibat hatinya gelap tanpa disadari. Cahaya dalam hatinya memudar.

Ini jangan dijadikan masalah sepele. Sebab ini masalah fundamental. Sekali saja arah hidup anda salah maka kedepan akan semakin salah dan salah. Endingnya tentu saja kebinasaan.



Coba renungi firman Allah swt berikut ini

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al Baqarah: 256)

Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Apakah jalan yang benar itu?

Jawabannya adalah ISLAM. Maka jadikan ia pegangan sekarang dan selamanya. Jadikan ia pegangan dalam artian yang sebenarnya bukan formalitas.



7 Faktor Emosi yang Membuat Hati Gelap dan Asbab Kegagalan & Kesesatan

Apa sajakah 7 Faktor Emosi yang Membuat Hati Gelap dan Asbab Kegagalan & Kesesatan. Saya tidak akan menjelaskan secara detail. Cukup secara global saja Simak baik-baik.



7 Faktor Emosi yang Membuat Hati Gelap dan Asbab Kegagalan & Kesesatan
  1. Prasangka Negatif
  2. Prinsip hidup yang keliru
  3. Pengalaman hidup
  4. Kepentingan
  5. Sudut pandang/ paradigma
  6. Pembanding
  7. Literatur dan atau media

Saya tidak akan membahas detail 7 point diatas. Saya akan bahas sekali lagi global.

Ke 7 hal diatas yang sifatnya negatif disebut dengan penyakit hati.

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS Al Baqarah: 10)

Kadang kita suka berprasangka buruk kepada sebuah kejadian didepan mata. Padahal kejadian didepan mata seringkali tidak seperti apa yang kita pikirkan. Kita menganggap prasangka kita benar sebab sesuai keadaan, namun ternyata bisa jadi substansinya tidak seperti itu. Ati-ati

Demikian juga prinsip hidup yang selama ini kita anggap benar bisa jadi salah. Harakiri di jepang dianggap benar. Namun di Islam itu kesalahan fatal. Orang yang mati bunuh diri tidak akan masuk surga.

"Biar tidak kaya yang penting bahagia"

Nah ini prinsip yang keliru. Kenapa tidak "biar kaya raya dan bahagia?".

Pun dengan figur atau sosok. Sebab bisa jadi sosok yang kita kagumi dan kita cintai selama ini bisa jadi tidak baik menurut agama.

Apa yang kita baca juga demikian. Bisa jadi literatur dan atau media yang menjadi konsumsi otak kita kemudian mempengaruhi cara berpikir kita ternyata bukan kebenaran. Bisa jadi.




Lalu Apa yang Harus Dilakukan?

Cobalah sementara ini menganggap segala paradigma, sudut pandang, kepentingan, pengalaman, literatur dll yang selama ini mencekoki pikiran kita adalah sesuatu yang salah. Itu semua bukan kebenaran.

Sekali lagi sementara ini....

Apa yang anda yakini salah, apa yang anda sukai dan cintai salah, apa yang anda anggap benar adalah salah. Sementara ini lakukan ya?

Bayangkan bahwa semuanya salah.. (Sudah?)

Ini disebut dengan proses penjernihan hati. Sebab hanya hatilah yang mampu menangkap kebenaran dari Tuhan YME.

Hati... Hati itu bersih. Bukan nafs/ jiwa yang mudah ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan dan sudut pandang.

Setelah anda mengaku salah coba letakkan tangan anda di dada anda. Jauuuh disana ada hati yang bisa merasakan kebenaran fitrah manusia ber Tuhan.

Lalu bayangkan bahwa anda menaruh "ISLAM" dalam dada anda. Menaruh islam dengan segala substansi dan isinya kedalam hati anda.

Dan manual book atau buku petunjuk sebagai seorang muslim adalah "Al Qur'an". Lalu letakkan disitu. Manual book yang lengkap dan tidak perlu diperlengkap lagi dengan imajinasi kita semua.

Setelah anda meletakkan "ISLAM yang didalamnya ada Al Qur'an" kemudian jadikan yang memperkaya pemikiran anda. Jadikan ia adalah utama..

Kemudian kembalikan lagi 7 Faktor Emosi yang Membuat Hati Gelap dan Asbab Kegagalan & Kesesatan
  1. Prasangka Negatif
  2. Prinsip hidup yang keliru
  3. Pengalaman hidup
  4. Kepentingan
  5. Sudut pandang/ paradigma
  6. Pembanding
  7. Literatur dan atau media



Taruh 7 emosi diatas diluar lingkaran hati. Jadikan core/ inti hati sebagai cahaya utama yang menyinari 7 emosi diatas. Jika sesuai dengan kata hati maka ikuti.

Maksudnya adalah jika sesuai dengan Al Qur'an (aturan islam) maka ikuti. Jika tidak buang. Meskipun anda meyakini itu adalah kebenaran.

Buang apa-apa yang tidak sesuai dengan Al Qur'an.

-------------------------------

PR Besar Kita Semua

Ini PR Besar saya dan juga kita semua sebagai muslim. Kita menganggukkan dan sepakat kalau ditanya, "Apakah Al Qur'an adalah manual book bagi muslim?"

Kita menganggukkan kepala dan setuju. Bahkan kita terluka kalau Al Qur'an dinista. Di injak-injak.

Namun ketika ada pertanyaan: "Al Qur'an isinya apa sih?"

Kita tidak begitu tahu, termasuk saya.. hehehe :) . ATau malah tidak tahu sama sekali. Tahunya adalah bacaaan dalam bahasa Arab. Itu saja.

Kita tidak tahu kandungan isinya, tidak tahu ada apa didalamnya, tidak pernah membaca terjemahannya, tidak berguru kepada ustadz namun kadang merasa dirinya paling benar.

Merasa sudut pandangnya benar, merasa paradigmanya benar. Padahal segala macam sudut pandang dan paradigma yang didasarkan kepada Nafs akan berujung kepada kesesatan. Apalagi sandaran yang tidak diiringi dengan suara hati.

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS Yunus: 36)

Hanya perspektif/ sudut pandang yang didasarkan kepada Al Qur'an lah yang (mudah-mudahan) lebih menjanjikan kebenaran. Mengapa mudah-mudahan? Sebab interpretasi setiap manusia kepada ayat Al Qur'an bisa berbeda-beda.

Tapi paling tidak ada nilai plus ketika seseorang menyandarkan pemikiran, paradigma dan sudut pandangnya kepada Al Qur'an.

Terakhir baca beberapa Firman Allah swt berikut ini

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS Ar Ruum: 30)

Ayuk kita hadapkan diri kita dan hati kita lurus kepada fitrah manusia. Yakni mahluk yang ber Tuhan. Itulah fitrah kita. Maka hadapkanlah dengan tulus ikhlas dan berserah diri (muslim)

Wallahu A'lam

EAB
Inspirasi ESQ Model Arie Ginanjar Agustian
Sumber Al Qur'an disini

Artikel ini ditulis pada malam 17 Ramadhan (Nuzulul Qur'an). Malam pada saat diturunkan Al Qur'an. Oleh karena itu yuk malam ini kita baca Qur'an. Semoga menjadi asbab cahaya. Aamiin

NB: Share artikel 7 Faktor Emosi yang Membuat Hati Gelap dan Asbab Kegagalan & Kesesatan ya? Trims




Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment