Apr 13, 2018

Resiko Besar Rejeki Besar, Resiko Kecil Rezeki Kecil

Sebenarnya kita semua tahu bahwa rejeki atau rezeki berbanding lurus dengan usaha. Resiko Besar Rejeki Besar, Resiko Kecil Rezeki Kecil. Cuman sebagian besar dari kita enggan menanggung resiko sebab takut akan kegagalan.

Padahal gagal dalam bisnis itu biasa. Itu adalah resiko. Walaupun sebenarnya yang paling beresiko adalah tidak mau atau enggan mengambil resiko. Sebab akan ada saatnya kita kelibas.

Jika kita enggan mengambil resiko ibarat mati pelan2. Kalau nggak sekarang sekaratnya bisa nanti pada saat usia kita sudah senja. Kalau sudah begitu tamat riwayat kita.


Baca tulisan ini baik-baik ya? Dipersembahkan oleh Rahasia Kunci Sukses

-------------------------------

Resiko Besar Rejeki Besar, Resiko Kecil Rezeki Kecil

Rejeki yang Kita Peroleh Sebanding

Rejeki akan datang sesuai dengan pengambilan resiko bisnis kita. Kalau kita mengambil resiko bisnis yang kecil, rejeki yang mengalir pun kecil. Sebaliknya, bila kita berani ambil resiko yang besar, maka rejeki yang mengalir pun besar.

Mana mungkin akan sama hasilnya, antara yang berani berkeringat, adu nyali, berpikir lebih keras dan cerdas untuk meraih rejeki, dengan yang mau aman dan cuma '"terima bersih" setiap akhir bulan?

Ibarat pesawat, kalau landasannya sempit, mana mungkin didarati pesawat besar? Bandara internasional yang luas tentu membangunnya lama, mengelolanya lebih rumit, tapi itu membuatnya bisa didarati berbagai jenis dan ukuran pesawat, dalam jumlah yang banyak, dengan frekuensi yang lebih sering. Bisnis Anda adalah bandara dari lalu lintas rejeki yang menunggu untuk mendarat.




Rejeki "perlu diberi peluang"

Kita semua berkeyakinan bahwa rejeki memang sudah ada yang mengatur, yaitu Tuhan kita. Itu benar! Tapi rejeki memerlukan kita sendiri untuk aktif merencanakannya. Tanpa itu, rejeki akan sulit kita raih, rejeki "perlu diberi peluang" untuk mendatangi Anda.

Mana mungki rejeki itu datang kalau setiap harinya kita tidak punya aktivitas apa-apa. Rejeki tidak mungkin datang sendiri. Seseorang yang tidak punya gairah kerja selain bermimpi, sulit didatangi rejeki. Malah rejeki bisa menjauh. Sebaliknya, jika tekun bekerja, kreatif berwirausaha, rejeki akan datang, bisnis pun akan lebih cepat berkembang.

Sejumlah profesi berpeluang menghasilkan rejeki yang besar dan tidak linier, karena sumbernya bukan dari gaji atau bukan sebagai karyawan. Artinya, jika saat ini kita misalnya sedang menekuni dunia usaha atau sebagai pengusaha, maka jelas sangat memungkinkan sekali bagi kita untuk mendatangkan rejeki yang relatif besar.

Sementara kalau kita sekarang ikut bekerja di orang lain atau setiap bulan dapat gaji tetap, maka jelas peluang akan datangnya rejeki yang relatif besar menjadi kecil. Oleh karena itu, rejeki besar datangnya mencari tempat yang pas. Tempat "pendaratan rejeki" yang pas inilah yang bisa kita rencanakan. Tinggal kita berani atau tidak.

(Dikutip dari buku: Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian, Valentino Dinsi)

Resiko Tinggi, Rejeki Besar.

Dalam menjalankan bisnis, tentu kita menghadapi berbagai resiko. Paling tinggi adalah dari masalah modal. Semakin tinggi modal yang ditanamkan, resikonya semakin tinggi, tetapi kalau berhasil juga rejeki sangat besar.

Hal lainnya adalah waktu, semakin banyak waktu yang kita luangkan, tentu beda hasilnya jika kita mengurus bisnis hanya sebentar-sebentar saja. Intinya adalah seperti yang dikatakan Valentino Dinsi, seorang yang bernyali lebih besar, berpikir lebih cerdas dan keras tentu akan menuai hasil yang berbeda dengan yang setiap bulan hanya terima perintah atasan.




Sama halnya seperti yang dikatakan oleh Robert Kiyosaki, bahwa untuk mendapatkan pasif income kita harus punya bisnis dengan skala modal yang sangat besar. Kalau tidak maka akan mudah dilibas oleh bisnis lain yang memiliki modal yang jauh lebih besar.

Dalam bisnis MLM yang kita jalankan, kita juga sama-sama memiliki resiko. Hanya sedikit berbeda. Yaitu dari segi modal resiko kita tidak terlalu tinggi. Memang kita mesti investasi membiayai bisnis ini, misalnya membeli kaset, tiket pertemuan, buku, mungkin transport ke kota lain, dll., yang kalau dihitung biayanya tidak sebesar dibandingkan investasi para konglomerat.

Meskipun begitu banyak di antara kita yang juga tidak mau ambil resiko. Misalnya: kalau beli tiket pertemuan hanya cukup satu saja untuk pribadi. Kaset, buku, juga cukup beli untuk sendiri saja.

Padahal kalau mau besar, kita harus berani ambil resiko dengan membeli tiket lebih banyak, agar kita punya motivasi untuk mengajak orang lebih banyak ke pertemuan, karena kalau tidak, resikonya kita akan kehilangan uang karena tiket tidak terjual. Demikian pula untuk kaset, buku, dan alat bantu lainnya.

Resiko yang terbesar dan mungkin ini yang paling ditakuti orang sehingga banyak yang tidak mau menjalankan bisnis MLM, yaitu penolakan. Dalam menjalankan bisnis MLM, resiko terbesar adalah kita ditolak orang, dilecehkan orang, tetangga, bahkan keluarga sendiri. Teman baik kita tiba-tiba jadi musuh karena kita tawari MLM. Banyak sekali di antara kita yang harus kehilangan sahabat & teman gara-gara kita menjalankan MLM.

Yang menjalankan bisnis MLM dengan paruh waktu juga menghadapi resiko waktu luang yang semakin sedikit. Biasanya pulang kantor kita sudah ada di rumah, kali ini anda mungkin setiap hari harus pulang larut malam. Waktu dengan keluarga semakin sedikit. Ini adalah resiko.

Sekarang beranikah anda mengambil resiko-resiko tadi? Beranikah anda dilecehkan? Beranikah anda kehilangan teman-teman? Beranikah anda kehilangan zona kenyamanan? Beranikah anda kehilangan waktu untuk sementara? Beranikah juga anda berinvestasi? Kalau tidak, yaitu tadi, 'pesawat rejeki yang lebih besar' tidak akan bisa mendarat untuk anda.

Eep S. Maqdir

-----------------------------------

Naaah mudah2an dapat pencerahan ya? Bahwa Resiko Besar Rejeki Besar, Resiko Kecil Rezeki Kecil. Ini hukum yang kita semua sepakati.

Semoga sukses

Salam
EAB






Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment