Apr 18, 2018

Hukum Membeli Barang Secara Kredit Boleh Atau Tidak, Haram atau Halal, Riba atau Tidak?

Hukum Membeli Barang Secara Kredit Boleh Atau Tidak? Kredit yang dimaksud adalah mencicil selama waktu tertentu. Misalnya membeli motor, mobil, KPR Rumah, Kebutuhan rumah tangga dan lain-lain.

Berdasarkan penelusuran saya 2 hukum yakni
  1. Boleh
  2. Tidak boleh
Anda cenderung yang mana? Saya yakin kalau anda saat ini sedang kredit barang tentu ikut pendapat nomor 1. Sementara jika anda sedang tidak ada kredit akan dukung pendapat yang kedua.

Silahkan saja dengan pendapat masing2 yang penting jangan berantem.


Kali ini saya mau mengulas hal ini dari berbagai sumber

HUKUM KREDIT BOLEH

Membeli dengan kredit menjadi solusi instan bagi konsumen yang hendak memiliki kendaraan, baik motor maupun mobil. Di Indonesia, pembelian dengan cara ini cukup populer. Mayoritas pembelian kendaraan masih lewat kredit.

Majelis Tarjih PP Muhammadiyah menjelaskan, hukum asal dalam muamalah adalah mubah, kecuali terdapat nas shahih dan sharih yang melarang dan mengharamkannya. Berbeda dengan ibadah mahdhah, hukum asalnya adalah haram kecuali ada ayat yang memerintahkan untuk melakukanya. Dengan demikian, tidak perlu mempertanyakan dalil yang mengakui keabsahan sebuah transaksi muamalah. Sepanjang tidak terdapat dalil yang melarangnya, transaksi muamalah sah dan halal.

Jika dilihat dari ayat Alquran maka jual beli secara umum dihalalkan. Riba merupakan hal yang diharamkan. QS al-Baqarah ayat 275, "... padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." (QS al-Baqarah: 275). Adanya unsur tolong-menolong dalam transaksi jual beli kredit dikarenakan pembeli memungkinkan untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan tanpa harus langsung membayarnya. Prinsip tolong-menolong ini sesuai dengan semangat Alquran surah al-Maidah ayat 2, "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran."

Di dalam Alquran pun tertera jelas tentang bagaimana ketentuan jual beli tidak secara tunai. "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya." (QS al-Baqarah: 282).

Meski demikian, ada sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah tentang dua transaksi dalam satu akad. "Dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa menjual dua transaksi dalam satu transaksi maka baginya kerugiannya atau riba". [HR at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan al-Baihaqi). Majelis Tarjih menjelaskan, ulama menafsirkan dua akad dalam satu transaksi tersebut adalah ketika penjual menyebutkan harga jual baik dengan kontan maupun lewat kredit tanpa ada kesepakatan.

Misalnya, seseorang berkata, "Aku jual sepeda motor ini, tunai seharga Rp 12 juta, kredit Rp 15 juta," kemudian keduanya berpisah dari majelis akad tanpa ada kesepakatan pembelian, tunai atau kredit. Maka, akad jual beli ini batal adanya. Adapun ketika pembeli menentukan satu pilihan dari dua opsi yang ditawarkan maka jual beli itu sah dan berlaku atas harga yang disepakati.

Kepentingan penjual untuk menaikkan harga jual lebih tinggi dari harga tunai karena penambahan jangka waktu pembayaran adalah sebagai bagian dari harga jual tersebut, bukan sebagai kompensasi waktu semata yang tergolong riba. Sudah menjadi hal lumrah bahwa sebuah komoditas mempunyai nilai yang berbeda dan bisa berubah nilainya dari masa ke masa. Di antara jumhur ulama fikih yang berpendapat demikian adalah al-Ahnaf, para pengikut Imam asy-Syafi'i, Zaid bin Ali, dan Muayyid Billah.

Transaksi muamalah dibangun atas asas maslahat. Syara' datang untuk mempermudah urusan manusia dan meringankan beban yang ditanggungnya. Syara' juga tidak akan melarang bentuk transaksi kecuali terdapat unsur kezaliman di dalamnya. Contohnya riba, penimbunan, penipuan, dan lainnya. Jual beli kredit akan menjadi maslahat bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah yang memungkinkan untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan dengan keterbatasan dana yang dimiliki.



Dengan demikian, jual beli komoditas dengan cara kredit yang termasuk di dalamnya kendaraan bermotor, bukanlah transaksi utang piutang ataupun transaksi atas barang ribawi. Transaksi tersebut adalah jual beli murni yang keabsahannya diakui oleh syariat. Tentunya, dengan ketentuan-ketentuan yang telah tersebut di atas. Hanya, ada kalanya pembeli melakukan pengajuan kredit lewat lembaga pembiayaan atau leasing.

Saat ini pun ada leasing yang sudah berstatus syariah. Bedanya dengan leasing konvensional, yakni leasing tersebut menggunakan akad murabahah atau jual beli. Dengan demikian, margin keuntungan pihak leasing dapat diketahui di awal. Leasing syariah juga tidak mengenal bunga harian yang jadi pendapatan saat pihak pembeli tak mampu melunasi setelah jatuh tempo.

Sementara itu, Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelaskan, transaksi jual beli secara kredit hukumnya sah dan halal asalkan akad (transaksinya) antara penjual dan pembeli dilakukan secara jelas (aqd sharih). Artinya, penjual dan pembeli sama-sama mengetahui dan terdapat kesepakatan harga barang dan batas waktu pada saat akad.

Transaksi jual beli secara kredit dengan harga yang lebih tinggi dibanding membeli secara kontan hukumnya sah dan halal. Dengan syarat, transaksi antara penjual dan pembeli dilakukan dengan aqd sharih 'adam al jahalah (dilakukan secara jujur dan menyepakati batas waktu dan harga barang).

Jangan sampai barang sudah dibawa pulang sementara antara penjual dan pembeli belum ada kesepakatan, apakah membeli secara tunai atau kontan. Sehingga, si pembeli memutuskan sendiri dalam akadnya setelah beberapa waktu dari waktu transaksi. Ketidakjelasan seperti ini hukumnya haram karena akadnya tidak jelas.

Silahkan pelajari Sumber sumber yang saya ambil dalam link2 dibawah ini (Sekali lagi baca dan pelajari dengan seksama supaya kita tidak menghukum sesuatu dengan ceroboh hanya karena 1 artikel)


Hukum Membeli Barang Secara Kredit Boleh Atau Tidak, Haram atau Halal, Riba atau Tidak?

Sumber yang Mengatakan Kredit Leasing Hukumnya BOLEH

Sumber2 yang membolehkan dan atau cenderung membolehkah. Artinya tidak haram dan tidak riba. Mohon baca sumber2 dibawah ini serta darimana daftar pustaka yang digunakan.

1. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/17/01/30/okl5le313-beli-kendaraan-dengan-kredit-apakah-termasuk-riba

Dan http://www.republika.co.id/berita/syariah/keuangan/12/01/24/lyaicu-mui-kredit-itu-halal-bukan-riba

Dengan demikian, jual beli komoditas dengan cara kredit yang termasuk di dalamnya kendaraan bermotor, bukanlah transaksi utang piutang ataupun transaksi atas barang ribawi. Transaksi tersebut adalah jual beli murni yang keabsahannya diakui oleh syariat

2. https://muslim.or.id/20961-tinjauan-syariat-terhadap-jual-beli-kredit.html

Pendapat yang lebih kuat –wallahu a’lam– adalah pendapat yang pertama yang mengatakan bolehnya transaksi seperti ini.

3. http://www.konsultasislam.com/2010/10/hukum-jual-beli-secara-kredit.html

Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini, ada yang mengharamkan dan ada yang membolehkan. Dan yang paling rajih adalah dibolehkannya jual beli kredit dengan beberapa syarat dan ketentuan. Sedangkan yang mengharamkan adalah pendapat yang lemah dan telah terbantahkan.

4. http://www.akidahislam.com/2016/09/hukum-jual-beli-secara-kredit-dalam.html

Tetapi jumhur  ulama membolehkan jual beli secara kredit ini, karena pada asalnya boleh dan nash yang mengharamkannya tidak ada. Jual beli kredit tidak bisa dipersamakan dengan riba dari segi manapun

5. http://khalifaland.com/fiqih-muamalah/hukum-kredit-barang-menurut-syariat-islam

Menurut hukum kredit menurut Islam, sistem jual beli kredit yang mana harga barang akan menjadi lebih mahal dari harga aslinya diperbolehkan saja. Sistem jual beli kredit diperbolehkan dengan catatan kedua belah pihak telah sepakat mengenai jumlah angsuran, bunga dan jangka waktu

6. http://www.nu.or.id/post/read/12455/hukum-transaksi-jual-beli-secara-kredit

Transaksi jual beli secara kredit dengan harga yang lebih tinggi dibanding membeli secara kontan hukumnya sah dan halal.


Sumber yang Mengatakan Kredit Leasing Hukumnya Tidak Boleh

Berikut beberapa sumber web islami yang mengharamkan atau cenderung mengharamkan adanya transaksi jual beli dengan kredit. Baca dengan seksama dan juga daftar pustaka yang digunakan.

1. https://rumaysho.com/701-kredit-lewat-pihak-ketiga-bank.html

Perkreditan dengan cara ini adalah salah satu bentuk akad jual beli yang haram, baik dengan penafsiran pertama atau pun kedua tadi. Wallahu a’lam.

2. http://www.muslimedianews.com/2013/11/hukum-kredit-menurut-syariat-islam.html

Dan pembeli harus membayar cicilan mobil seharga 140 juta tersebut dan ditambah bunga Bank serta untung untuk Showroom sebanyak 30 Juta, maka pada saat itu secara tidak langsung pembeli telah membantu Show-room dan Bank dalam transksi Riba ini. Maka jelas pembelian kredit yang semacam ini adalah HARAM.

3. https://konsultasisyariah.com/1625-hukum-jual-beli-kredit.html

Dengan penjelasan ini, dapat kita simpulkan bahwa pembelian rumah atau kendaraan dengan melalui perkreditan yang biasa terjadi di masyarakat adalah terlarang karena merupakan salah satu bentuk perniagaan riba.

4. https://pengusahamuslim.com/1476-tanya-jawab-hukum-jual-beli-kredit.html

Dengan penjelasan ini, dapat kita simpulkan bahwa pembelian rumah atau kendaraan dengan melalui perkreditan yang biasa terjadi di masyarakat adalah terlarang karena merupakan salah satu bentuk perniagaan riba.

----------------------------------

Bagaimana dengan Leasing Konvensional?

Kesimpulannya jual beli dengan kredit berdasarkan semua sumber2 diatas tidak ada masalah. Masalahnya ada pada leasing konvensional. Jika anda menggunakan jasa leasing konvensional maka mayoritas mengatakan tidak boleh alias haram.

Sebab ada 2 transaksi atau transaksi ganda yakni jual beli dan sewa menyewa. Pun adanya 3 pihak yakni penjual, pembeli dan leasing itu tadi. Padahal jual beli itu melibatkan 2 pihak saja. Ditambah lagi dalam leasing konvensional ada bunga dan denda.

Oleh sebab itu solusinya ada 2.
  1. Pakai jasa leasing syariah. Sekarang ada adira syariah, fif syariah, baf syariah dll.
  2. Pakai jasa leasing konvensional dengan akad lisan. Misalnya begini, "Pak dealer, saya mau beli mobil tapi gak punya uang tunai. Oleh sebab itu akadnya kamu jual mobil itu ke leasing ya? nanti saya beli secara kredit dari leasing bukan dari anda. Setelah itu tolong pertemukan saya dengan leasing (yang barusan secara akad sudah membeli mobil) supaya saya bisa melakukan akad jual beli"

SO.. Bagaimana Hukum Membeli Barang Secara Kredit Boleh Atau Tidak, Haram atau Halal, Riba atau Tidak? Tentu saja jawabannya Wallahu A'lam.

Saya hanya coba mengulas dan menyimpulkan saja. Sekali lagi cuman mengulas tidak menentukan hukumnya sebab saya bukan ustadz.. hehe

Saran saya kalau mau ambil kredit ambillah jasa leasing syariah, sekarang sudah banyak kok. Biar lebih aman. Atau yang terbaik adalah kalau belum mampu beli ya jangan beli. Hehe :)

"Lalu bagaimana kalau sudah terlanjur?"

Silahkan tanya ustadz anda ya? Saya tidak tahu. Wallahu A'lam. Tapi lebih aman jangan ambil lebihan/ bunga jika terkait dengan pinjam meminjam. Terkait dengan leasing konvensional atau KPR segera lunasi setelah itu banyak2 istighfar.

"Tapi menurut beberapa ulama boleh kok Mas Ji?"

Ya sudah ikuti pendapat beliau kalau anda yakin. Yang penting terus belajar dan belajar tanpa henti.

Doain saya ya? Doain kita semua dan teman2 yang berada dalam lingkaran leasing konvensional yang menurut mayoritas ulama tidak diperbolehkan. Doakan supaya bisa lepas dari jeratan riba. Doain saya dan kita semua agar supaya Allah ampuni dosa2 kita. Aamiin.

Wallahu A'lam

Salam
EAB





Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment