Mar 5, 2018

Serial Melunasi Hutang Final, Kekayaan yang Sebenarnya Adalah Kekayaan Jiwa

Mengapa kita berhutang? Tentu banyak jawaban. Salah satu jawaban supaya bisa sama dengan yang lainnya. Bisa paling tidak selevel dengan tetannga kita, syukur2 bisa diatasnya. Jadi ukurannya adalah materi dan status sosial.

Padahal materi dan status sosial adalah menifestasi kekayaan. Sedangkan sumber dan bahan baku kekayaan bukan itu


"Khan saya hutang buat bayar anak sekolah Mas Adhin?"

Sekolah sekarang gratis dari SD sampai SMA. 

"Tapi anak saya sekolah di swasta, soalnya kualitas negeri di tempat saya gak bagus. Sekolah swasta yang bilingual biar anak saya pinter, bayar bulanannya 250.000. Tiap tahun harus bayar 5 juta"

Naah khan? Kalau dikembalikan lagi kebelakang pasti ada unsur Nafsu. Ada unsur materi dan status sosial, apapun alasannya. Udah deh gak usah bantah. hehe

Padahal anak sekolah di SD negeri juga bagus. Swasta tidak jaminan kedepan anak kita bakalan lebih pinter. Ini kemudian kembali kepada dominan ingin kaya materi dari pada KAYA JIWA. Padahal kekayaan sejati adalah kekayaan hati/ jiwa.

Ocd...

Sebelum membaca serial melunasi hutang FINAL baca dulu seri 1 dan 2. Serial Melunasi Hutang, Menangis Karena Hutang atau Karena Allah? BACA DISINI. Serial Melunasi Hutang 2, Diantara Ketakutan akan Kehilangan dan Harapan BACA DISINI.

Serial Melunasi Hutang 3, Antara Harta Sejati dan Harta Palsu, yang Manakah Anda? BACA DISINI

Sementara Serial Melunasi Hutang 4, Jujur Saja Apa Adanya Jangan Kata "Insya Allah" Jadi Alasan bisa anda BACA DISINI.

Serial Melunasi Hutang 5, Tangguhlah Kemudian Lakukan Amalan Melunasi Hutang Ini, BACA DISINI

Yuk kita mulai, "Serial Melunasi Hutang Final, Kekayaan yang Sebenarnya adalah kekayaan jiwa".

Baca tulisan sahabat saya berikut ini

NB: Artikel ini dipersembahkan oleh Rahasia Kunci Sukses
------------------------------------

#HutangLunas_AwakWaras (6)
MiSKIN ITU INDAH !



BAGI yang hari ini mengalami keterpurukan, janganlah terlalu larut dalam kesedihan, dan kekecewaan.

Ketahuilah bahwa putus asa adalah ajakan syaiton. Tetap optimis, selalu ikhtiar dan berdoa kepada ALLAH SWT.

Kebanyakan seseorang mengalami putus asa, ketika ditimpa musibah dalam hal dunia. Entah sakit, gagal, dan seterusnya.

Bila direnungkan lebih dalam, hampir sebagian manusia stres saat gagal meraih kebahagiaan urusan dunia.

Inti persoalannya manusia sangat ketakutan bila mendapat predikat MISKIN. Manusia cenderung siap KAYA, tak siap MISKIN.

Mungkin kita lupa, bahwa asal-usul kita tidak punya apa-apa. Mengapa demikian ? Karena parameter hidup kita dinilai MATERI.


Padahal kebahagiaan sejati manusia menurut ALLAH SWT, ketika seseorang selalu bersyukur terhadap apa yang diperoleh.

Ketika diuji senang, bersyukur. Sedih, bersyukur. Sehat, bersyukur. Sakit bersyukur. Usaha lancar, bersyukur. Kredit macet, bersyukur.

Kaya, bersyukur. Miskin pun, ya tetap bersyukur. Itulah kebahagiaan sejati. Tak hanya kaya tang indah. MISKIN ITU INDAH !

ALLAH SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Maha Pemurah. Maha Bijaksana. Maha Penentu.

Sebesar dan seberat apapun problem kita selama landasannya syukur, pasti terasa nikmat.

Apalagi hanya sekedar bayar HUTANG, bagi ALLAH SWT urusan kecil. Mau hutang jutaan, miliaran, bahkan triliunan, KECIlL.

“Ibrahim berkata, “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat.” (Al-Qur’an Surah Al-Hijr Ayat 56)

“Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat ALLAH SWT.”

“Sesungguhnya ALLAH SWT mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Qur’an Az-Zumar Ayat 53)

Pesan ALLAH SWT jelas. ALLAH SWT melarang kita untuk berputus asa. Ingat putus asa itu hanya ada bagi orang-orang sesat.

Unat Islam tidak seharusnya  berputus asa. Bila ingin selesai bayar hutang, salah satu kuncinya Pandai Bersyukur. Bukan Putus Asa.

Ingatlah ! Bahaya putus asa adalah membuat kita lupa terhadap kebaikan yang telah diberikan ALLAH SWT.

“Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu.”

“Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.” (Al-Qur’an Surah Ar-Ruum Ayat 36)

Saudaraku, mari bersama-sama kita renungkan beberapa nasihat penulis, yang semoga dapat membangkitkan kembali semangat juang melawan RASA TAKUT. Keluarlah dari zona keterpurukan.

Jadilah seperti pohon yang lebat buahnya. Tumbuh di tepi jalan, dilempar buahnya dengan batu, tapi tetap dibalas dengan buah.

Saat perekonomian sempit, mungkin saatnya memperbanyak sedekah. Tidak harus berupa materi. Bisa sedekah tenaga atau lainnya.

Mengantar tetangga sakit, sedekah. Sapaan salam, sedekah. Bahkan sambut suami dengan senyuman, sedekah.

Itulah realisasi dari Pandai Bersyukur. Maka tak ada sepatutnya terlalu bersedih, ketika ALLAH SWT menguji kekurangan harta.

Nabi Muhammad SAW adalah teladan utama dalam sikap pemurah dan dermawan.

Beliau SAW tidak pernah dimintai sesuatu melainkan beliau akan memenuhinya. Meskipun Nabi Muhammad SAW hidupnya miskin.

Baginda Nabi SAW memberi contoh pada umatnya, bagaimana bentuk seseorang yang pandai bersyukur.

Suatu ketika ada seorang lelaki yang menemui Nabi SAW. Orang tersebut tahu, bila baginda Nabi SAW membutuhkannya.

Beliau SAW lalu memberikan seekor domba yang digembalakan di antara dua bukit kepada orang itu.

Kemudian orang tersebut pulang ke kaumnya dan berkata :

“Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian karena sesungguhnya Muhammad itu suka memberi pemberian (pemurah), dan beliau tidak takut jatuh miskin.”

(Hadits Riwayat Muslim, dalam Kitab Riyadhus Sholihin)

Laa Tabkhal. Jangan Kikir. Sesungguhnya ALLAH SWT tidak menyukai ornag-orang yang sombong dan membanggakan diri.

“(Yaitu) orang-orang yang kikir dna menyeru orang lain berbuat kikir.”

“Dan menyembunyikan karunia ALLAH SWT yang telah diberikan kepada mereka.”

“Dan kami telah mneyediakan untuk  orang-orang kafir siksa yang menghinakan.” (Al-Qur’an Surah An-Nisa Ayat 36-37)

Saat Wahyu ALLAH SWT turun berupa Surah At-Taubah Ayat 34, Baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW berkata : “Kebinasaan bagi emas dan perak.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah SAW, harta apa yang akan kami simpan ?”

“Hati yang pandai VERSYUKUR, Lisan yang GEMAR BERDZIKIR dan ISTRI SHALIHAH.” jawab Beliau SAW.

(Hadits Riwayat At-Tirmidzi, dalam Kitab Nashoihul Ibad Karya Imam Nawawi Al-Bantani Al-Jawi)

“Dan kami telah menghamparkan bumi dna menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.”

“Dan kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup.”

“Dan kami menciptakan pula makhluk-makhluk yang kamu sekali kali bukan pemberi rezeki kepadanya.” (Al-Qur’an Surah Al Hijr Ayat 19 -20)

“Bukanlah kekayaan dengan banyaknya harta, tetap kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa (Hadis Riwayat Imam Muslim, dalam Kitab Nashoihul Ibad)

Orang kaya sesungguhnya, yakni yang bersikap qanaah dan ridha dengan apa yang telah dianugerahkan ALLAH SWT .

Namun, bukan berarti Nabi Muhammad SAW lantas melarang kita menjadi orang yang kaya harta.

“Barang siapa berhijrah di jalan ALLAH SWT, niscaya mereka akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak.” (Al-Qur’an Surah An-Nisa’ Ayat 100)

Hijrah merupakan loncatan besar manusia yang meniupkan semangat perubahan dalam merubah kehidupan. Semangat ! (/habis)



------------------------------------

Dan banyak tokoh mengatakan bahwa KEKAYAAN JIWA misalnya yang dimanifestasikan dengan sabar, syukur, iklhas dll adalah bahan baku kekayaan materi bahkan kekayaan apapun. KAYA DUNIA AKHERAT. Bahan bakunya ada dalam dada.

Oleh karena itu buat hati dan jiwa KAYA terlebih dahulu, niscaya kekayaan materi akan mengikuti. Adapun hutang adalah bagian kecil dari solusi yang Insya Allah akan ketemu jalannya.

Siap belajar KEKAYAAN JIWA?

demikian artikel "Serial Melunasi Hutang Final, Kekayaan yang Sebenarnya Adalah Kekayaan Jiwa". Kalau dirasa bermanfaat silahkan share. Wallaahu A'lam




Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment