Mar 5, 2018

Serial Melunasi Hutang 4, Jujur Saja Apa Adanya Jangan Kata "Insya Allah" Jadi Alasan

Jujur adalah kata yang sulit khususnya bagi the hutangers alias orang yang sedang berhutang ketika ditagih. Sebenarnya kita mau ngomong, "Maaf belum ada duit, kalau saya ditagih seminggu lagi juga dipastikan belum ada duitnya", tapi disingkat menjadi Insya Allah.

Kata Insya Allah jadi alasan, jadi alibi. Jadi kata pemanis meskipun sebenarnya bohong. Lebih baik jujur. Jujur Saja Apa Adanya Jangan Kata "Insya Allah" Jadi Alasan


Seperti apakah pembahasannya? Sebelum membahas jauh silahkan yang mau baca2 artikel berserin ini saya kasih linknya.

Sebelum membaca serial melunasi hutang 3 baca dulu seri 1 dan 2. Serial Melunasi Hutang, Menangis Karena Hutang atau Karena Allah? BACA DISINI. Serial Melunasi Hutang 2, Diantara Ketakutan akan Kehilangan dan Harapan BACA DISINI.

Sementara Serial Melunasi Hutang 3, Antara Harta Sejati dan Harta Palsu, yang Manakah Anda? BACA DISINI

Nah sekarang kita bahas "Serial Melunasi Hutang 4, Jujur Saja Apa Adanya Jangan Kata "Insya Allah" Jadi Alasan".

Ini dia tulisa dari sahabat saya



------------------------------------------

#HutangLunas_AwakWaras (4)
JUJUR SAJA !

MENGAPA para penagih hutang alergi bila mendengar jawaban : Insyallah ? Seolah kalimat itu tak bermakna dihadapan debt collector (juru tagih), ketika diucapkan oleh para penghutang.

Mungkin, para juru tagih sudah hafal. Kata INSYALLAH  kerap diucapkan untuk janji yang potensial dilanggar. Komitmen yang tidak teguh. Atau harapan yang tidak pasti. Meski lebih sering kita jumpai, bukan berarti semua itu tepat.

Orang menyebutnya salah kaprah alias kekeliruan yang sudah menjadi kebiasaan. Apa Wahyu ALLAH SWT yang salah ? Sama sekali bukan. Bisa jadi kita salah menempatkan kalimat INSYALLAH.

“Dan janganlah engkau mengatakan tentang sesuatu, ‘Aku akan melakukannya besok.’ Kecuali jika ALLAH menghendaki atau mengucapkan INSYALLAH.” (Al-Qur’an Surah al-Kahfi Ayat 23-24)

Kata Insyaallah sesungguhnya bersumber dari perintah Al-Qur’an. Secara literal ia berarti ‘Jika ALLAH SWT Menghendaki’. Ayat ini mengandung pendidikan bagi pengucapnya tentang pentingnya rendah hati.

Maknanya adalah agar setiap hamba ALLAH SWT, tidak terlalu mengandalkan kemampuan pribadi karena ada kekuatan yang lebih besar dibanding dirinya. Mengucapkan Insyaallah bentuk keinsyafan bahwa di balik segala perinstiwa ada Sang Penentu, ALLAH SWT.

Tak selalu apa yang kita inginkan terwujud. Seluruhnya bersifat tidak pasti, dan justru karena itulah manusia dituntut berikhtiar. Kata Insyallah merupakan wujud pengakuan atas kelemahan diri di hadapan ALLAH SWT.

Manusia dilarang memastikan perbuatan yang masih dalam rencana, karena yang demikian termasuk cermin keangkuhan. Manusia tidak mungkin mengandalkan secara mutlak dirinya sendiri.

Sebagai makhluk, ia membutuhkan Sang Khaliq. Seberapapun besar jerih payah seseorang, tetaplah ia sebatas pada level ikhtiar. ALLAH SWT telah menganugerahi manusia nurani, akal, tenaga, dan segenap kemampuan lainnya.

Semua itu merupakan modal sekaligus tanggung jawab untuk dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Islam mengajarkan umatnya untuk berusaha, menyusun rencana, dan mempersiapkan diri.

Selebihnya adalah tawakal atas kehendak ALLAH SWT. “Sesungguhnya ALLAH SWT tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (l-Qur’an Surah Ar-Ra’du Ayat 11)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada ALLAH SWT, dan hendaknya setiap pribadi memerhatikan apa yang dia persiapkan untuk hari esok, dan bertakwalah kepada ALLAH SWT. Sungguh, ALLAH SWT  Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Al-Qur’an Surah Al-Hasyr Ayat 18)

Tawakal adalah sikap yang muncul dari kesadaran manusia atas dirinya yang dla‘îf di hadapan Rabb. Menggantungkan keputusan final kepada Sang Pencipta selepas daya upaya dikerahkan secara maksimal.

Sikap inilah yang membuatnya selalu merasa penting untuk berdoa, memohon pertolongan dan petunjuk sehingga kehendak yang dirumuskannya diridlai dan dikabulkan ALLAH SWT subhânahu wata‘âla.

Dan bilapun tak terkabul, juga tak lantas menyesali diri sendiri karena sejak awal memang sudah memasrahkan hasil bukan kepada diri sendiri.

Dengan demikian, kita bias menarik sebuah kesimpulan ringkas, bahwa Insyaallah bukan ucapan basa-basi atau tempat berlindung dari ketidakteguhan janji. Insyaallah mengandung pendidikan tentang sikap tawaduk.

Penghayatan kepada makna hakiki Insyaallah juga membawa manusia pada puncak kesadaran Tauhid. Hanya ALLAH SWT tempat bergantung segala sesuatu. Insyaallah juga mengandaikan seseorang untuk mempercayai adanya takdir dan irâdah ALLAH SWT.

Insyaallah merupakan janji tertinggi umat muslim, dan kita dituntut berusaha semaksimal mungkin dan ALLAH SWT yang menentukan. Bukan malah sebaliknya, menjadikan kata Insyallah sebagai dalih untuk mengingkari atau melanggar janji.

Untuk saudaraku yang mungkin masih sering ‘bandel’ memakai kata Insyallah sebagai dalih untuk ingkar janji : Ayo segera berubah njih ? Jika dirasa kita nggak bisa tepat janji, sebaiknya jujur saja sampaikan apa adanya.

Mulai sekarang, bila para penagih hutang datang ke rumah, ke kantor, atau dimana saja, ucapakan salam. Katakan dengan tenang :

“Mohon maaf Bapak/Ibu/Mas/Mbak, hari ini ALLAH SWT belum menurunkan rizki buat kami. Insyallah bila rizki dari ALLAH SWT itu sudah ada (Dalam bentuk uang), akan kami lunasi atau angsur.” (bersambung)

--------------------------

Artikel ini bersambung. BACA SAMBUNGANNYA DISINI

Demikian artikel"Serial Melunasi Hutang 4, Jujur Saja Apa Adanya Jangan Kata "Insya Allah" Jadi Alasan". Siapa tahu bermanfaat.

Kalau dirasa bermanfaat silahkan copas atau share boleh. Wallaahu A'lam





Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment