Mar 28, 2018

Pola Pertolongan Allah Bagian 3, Konsep UJIAN

Pola Pertolongan Allah Bagian 1 Jangan Fokus Kepada Solusi silahkan BACA DISINI. Pola Pertolongan Allah Bagian 2, Keajaiban DOA silahkan baca DISINI. Sekarang bagian 3 tentang konsep ujian.

Materi ini saya ambil dari kuliah online Reza Novary, silahkan share kalau dirasa bermanfaat



Konsep Ujian

Baik ya kawan-kawan, sekarang kita lanjut dengan konsep ujian.

Saya coba analogikan sesuatu, ya.

Misalnya di depan teman-teman ada sebuah gelas yg berisi air, air tersebut berguncang-guncang hebat sekali.

(baca baik-baik)...

Saya pengen sekali "ngediemin" itu air, tapi caranya salah. Saya goyang-goyangkan gelas, gregetan berharap air itu akan tenang.

Nah... Pertanyaannya; ketika kita berusaha mau menenangkan isi air, tapi cara kita itu terlalu memaksa mendiamkan air dengan menggoyangkan air itu, kira kira airnya jadi diam atau malah tambah bergerak-gerak?

Begitulah dengan konsep ujian kawan kawan

Ketika datang masalah, biasanya kita itu dengan 'sombong' berusaha sekuat tenaga untuk segera menyelesaikannya. Kita cari solusi sekeras kita berfikir, rata-rata kita gregetan ingin segera menyelesaikan masalah tersebut, tapi apa yang terjad i?

Ketika kita ada masalah dan sekuat tenaga kita cari solusinya, justru kita semakin pusing! Betul ga?

Malahan ketika kita sudah pusing, capek, kemudian kita menyerah, eh masalahnya kelar gitu aja!

Ada yang udah pernah ngalamin kayak gitu?

Bisa dirasakan, ya? Dan pasti banyak yang pernah mengalaminya.



Nah makanya... Ketika kita ada masalah, 'sebaiknya kita tenangkan dulu kepala kita', kita diamkan dulu gelasnya. Kita tenangkan dulu airnya.

Padahal permasalahan itu sebenernya solusinya dekeeet banget!

Cuma kadang-kadang kitanya yang 'terlalu sok aksi'

Jadi sekali lagi, ketika masalah datang jangan pernah mengawali dengan ikhtiar, tapi merenung dulu, berdoa mohon petunjuk Allah dulu (jangan dibalik ya!)

Ketika ada masalah terus ikhtiar solusi, terus ga kelar. Baru deh berdoa... Lalu kemudian selesailah masalahnya. Akhirnya baru nyadar raga kita capek duluan kan?

Jadi kalo ada masalah ga perlu ikhtiar, mas?

Bukan gitu juga, kita tetap ikhtiar, tapi jangan ikhtiar berontak. Berdoalah pada Allah, kemudian ikhtiar sewajarnya saja.

Ikhtiar berontak dimaksud adalah ikhtiar yang dilakukan karena kita tidak terima air itu berguncang, oleh karenanya kita ingin air itu cepet-cepet tenang.

Bahasa mudahnya kita tidak ikhlas ketika sesuatu menimpa diri kita.

Misalnya..., Anak nakal, hutang banyak, bisnis bangkrut, ditipu orang, lalu kita mentah-mentah menolak dan "agak kesal menerimanya."

Lantaran kita tidak menerimanya itulah, maka kita berusaha mengubah sesuatu itu dengan secepatnya. Yang terjadi pada akhirnya malah makin kacau.

Contoh:

Kawan-kawan punya anak yang 'bandel' pastinya kita inginkan anak tersebut jadi baik, kan?

Ingin kebandelannya cepet selesai, kan?

Kalo sudah begitu, biasanya kita malah jadi membentak anak kita, betul ya? 'Kamu ini gimana sih? Dibilangin ko susah banget! Nurut ga?'

Semakin Anda galak sama anak dan makin nafsu menyelesaikan masalah, anehnya permasalahan tersebut malah tambah bikin ruwet. Dan si Anak malah tambah "bikin onar.

Terus caranya gimana? Begini kuncinya;

Setiap ada masalah, jangan langsung gundah, tapi tangkap dulu dan ambil pesan cintaNya.

Kira-kira Allah mau kita apa, kita ingat-ingat beberapa waktu yang lalu kita melakukan apa? Ibadah kita selama ini gimana? Intinya, setiap ada masalah kita terima dulu, ikhlas dulu.

Gimana tanda ketika pesanNya udah kita ambil? Tandanya... Hati kita ini jadi tenang, ikhlas, ridho.

Kalo udah kaya gitu, biasanya masalah kelar sendiri tanpa kita harus capek-capek buang energi.

Hal itu juga berkaitan dengan ketika kita memotivasi orang lain.

Kawan-kawan, Bahaya loh kalo ada orang yang lagi jatuh ketimpa masalah, terus kita malah motivasinya.

Loh, kok bahaya?

Bahasa jelasnya gini... Orang tuh kalo lagi ditimpa musibah atau masalah, berati Allah lagi sayang sama itu orang, Allah lagi ingin deket-deket sama dia, makanya diamkan aja dulu, nasehatin buat tenang dan cari pesan cintaNya.

Bukan malah dimotivasi agar kuat dan dikasih semangat melangkah lagi yang pada akhirya justru mengakibatkan pesannya ga sampai. Dia malah fokus lagi ke ikhtiar, bukannya fokus ke Allah.
Moga kawan-kawan ga bingung, ya.

Jadi... Allah itu ketika memberi kita masalah, sebetulnya bukan untuk kita segera nyari solusi, tapi agar kita kembali fokus dulu pada Allah, mendekat dulu ke Allah, curhat dulu ke Allah.

Coba deh kalo misal kita motivasi, terus yang bersangkutan semangat lagi ikhtiar tapi ga berdoa dan malah mendewakan ikhtiar? Astaghfirulloohal 'adziim...

Pastinya Allah makin jauuuh sama dia (Na'uudzubillaahi min dzaalik)

Moga penjelasan saya bisa kawan-kawan pahami, ya. Intinya kuatkan niat Focus on Allah dulu, baru yang lain.

Dunia PPA itu dunia 'keajaiban' tapi... Bagi yang. mau aja sih. Yang mau fokus kerja keras, yaaaa monggo.

Inget kan kisah nabi Yunus yang kisahnya sering kita dengar?

Ketika nabi Yunus ditelan ikan Paus, fokusnya nabi Yunus bukan mencari jalan keluar, tapi dia merenung dulu ke dalam hatinya, mencari pesan CintaNya. Begitu sudah paham, nabi Yunus mengakui kesalahan dirinya dan terus berdoa, sehingga pada akhirnya Allah jualah yang menyelesaikan masalahnya.

Dan karena Allah sudah menghendaki, maka masalah pun selesai dengan sendirinya.

Kok bisa ya, mas?

Bisa! Asalkan kita tidak sombong, dan Total Bergantung padaNya.

Melanjutkan materi tentang total bergantung, mohon kawan kawan sekali lagi harap dibaca pelan-pelan, ya.

Mohon dipahamkan oleh Allah SWT (Aamiin....)

Kalo belom paham juga moga dimudahkan Allah untuk bisa ikut private classnya (karena rasanyat lebih beda)

Baiklah...

Kawan-kawan yang saya cintai karena Allah, Total Bergantung = DIPENUHI

Ketika kita total bergantung (berserah diri/ tawakkal) pada Allah, hajat kita pasti dipenuhi olehNya.

Jika kawan-kawan praktekan pola ini, insyaa Allah bi idznillah...

Hutang milyaran jadi lunas!

Mau mobil gratis, bisa!

Umroh gratis, mudah!

Masalah keluarga terselesaikan dengan mudah.

Hal tersebut di atas banyak dibuktikan oleh testimoni Alumni PPA.

Intinya, kita hanya total bergantung (tawakkal) pada Allah. Baik, saya jabarkan ya, biar ga bingung.
Begini...

Awal mula kita diciptakan bentuknya apa?

Ruh!

Ketika kita berbentuk ruh, kita bisa apa?

Ga bisa apa-apa kan? Total bergantung pada Allah, kan?

Dan ketika ruh total bergantung pada Allah, kebutuhan si ruh ini dipenuhi olehNya.

Kira-kira apa kebutuhan ruh itu? Jasad!

Terus, kebutuhan sperma apa?

Sel telur, kan?

Apakah dulu kita latih sel sperma kita agar bisa lebih cepat sampai ke sel telur?

Engga, kan?

Total bergantung padaNya dan Allah yang memenuhi kebutuhan sel sperma akan sel telur.

Lanjut lagi...

Setelah sperma bergabung dengan sel telur, makanya jadilah zigot.

Terus, apakah zigot kita arahkan atau urut-urut supaya berenang ke rahim?

Jawabannya... Pasti engga, kan?

Total bergantung pada Allah, dan Allah yang mengarahkan zigot agar pindah ke rahim.

Dan seterusnya, dan sebagainya. Kalo dijelasin, bakalan panjang!

Dengan total bergantung padaNya, pasti Allah akan penuhi segalanya.

Contoh lagi...

Anggap aja bayinya sudah lahir.

Apakah bayi yang sudah lahir terus bisa berusaha sendiri? Minum dan makan langsung ambil sendiri?

Engga!

Bayi itu total bergantung pada Allah. Dia tinggal

Oeeeek... Makanan datang.
Oeeeek... Susu datang.
Oeeeek... Popok datang.
Oeeek... Minyak telon datang.

(tentu saja semua ada perantaraNya)

Semua orang dibuat jatuh cinta pada bayi tersebut, dan semua kebutuhannya dipenuhi.

Itu karena bayi total bergantung pada Allah.

Lalu... Sekarang ini kita udah berapa kali 'oek-oek'nangis, tapi kenapa masalah ga kunjung kelar?

Berapa kali kita 'oek-oek' nangis, tapi mau umroh ko rasanya susah banget?

Itulah bedanya, kawan-kawan. 'oek-oek' kita ini udah ada 'berhalanya!'

Beda dengan oeknya bayi yang mengandung TAUHID, pasrah, bergantung penuh hanya kepada Allah Subhanahu Wata'aala.

Karena bayi 'sadar diri' dia ga bisa melakukan apa-apa, kecuali atas izin Allah.

Kawan-kawanku yang saya cintai karena Allah.

Yang membedakan kita dengan bayi, adalah dari total bergantungnya.

Kalo bayi total bergantung pada Allah itu "full" maksimal, oleh karenanya semua kebutuhan bayi di penuhi oleh Allah.

Beda dengan kita manusia yang sudah dewasa.

Kita mah makin dewasa malah makin kurang bergantung pada Allah?

Kalo mau umroh, pasti bilang/ nyebutin uang. Kalo mau kerja, pasti bilangnya butuh ijazah. Betul, ga?

Malahan ketika kita diajari atau diberitau bahwa kita ini butuh Allah, eh kita malah bilang ga logis (Sungguh tragis!)

Astaghfirulloohal 'azhiim...

Kita masih berpikiran bahwa yang ngasih kita rezeki itu bos!

Kita masih meyakini bahwa yang bisa bikin bahagia itu... keluarga, jabatan, dan lain-lain.

Contohnya kalo di antara kita ada yang di-PHK, pasti deh ada berujar; "duh, mau makan apa nih kita?"

Padahal ya, rezeki makan kita itu sudah dijamin oleh Allah. Ga percaya?

Coba sekarang Anda resign, ga usah kerja, kira-kira... bakalan mati kelaparan, ga?

Buktinya orang gila aja ga kerja, masih idup, tuh!

Begitulah kawan-kawan, bisa jadi juga yang menyebabkan doa kita ga segera dikabulkan oleh Allah, karena...



Ketika berdoa minta rezeki, fokusnya moga moga dapet THR.

Ketika berdoa minta mobil, fokusnya moga dapet undian berhadiah.

Ketika berdoa minta umroh, fokusnya moga gaji naik. Dan lain-lain yang bersifat keduniaan (duniawi)

Astaghfirulloohal 'adziim... Sampai-sampai di saat berdoa pun fokus kita bukan ke Allah. Padahal Allah yang memberi kita rejeki.

Itulah hambatannya kawan-kawan, kita terlalu bergantung pada makhluk. Padahal kalo bergantung pada makhluk, kita tuh pasti was-was dan ujung-ujungnya harus rela merasakan 'sakit hayi' dan kekecewaan.

Kalo udah banyak bergantung pada makhluk, gimana Allah mau mengabulkan doa-doa kita?

Tau syirik, kan ya?

Itulah syirik-syirik kecil kita, kebanyakan dari kita bergantung pada mahluk.

Terus mas Reza, gimana cara memahamkan hati agar total bergantung pada Allah?

Ada 3 level pemahaman yang harus dilalui, yaitu:

1. Dengan menyendiri dan memikirkan hakikat diri, penciptaan kita, kita tahajud mohon petunjuk Allah, kita renungi dan pahami siapa sebenarnya yang mengatur rezeki kita, bos ataukah Allah? (inget ya... Pasrah aja, jan gan ngebut, jan gan terlalu men ggebu, karena yang memahamkan kita hanyalah Allah)

2. Cara tercepat adalah dengan benar-benar hadirkan suasana yang membuat Anda total menyerah pada Allah. Misalnya... yang ingin bebas dari riba, ya sudah tinggalkan semua harta yang ada kaitannya dengan riba. Jalanin hidup dengan pasrah pada Allah, dan fokus ibadah yang utama, ikhtiar yang kesekian.

3. Menjaga pertemanan dengan kawan-kawan yang sudah mencapai level total bergantung padaNya.

Moga2 group ini menjadi wasilahnya, tetapi bukan berarti saya lebih baik daripada Anda, ya.

Saya juga masih berlatih dan terus melatih diri untuk total bergantung hanya ada Allah.

"Dan Dialah yg berkuasa atas sekalian hamba-hambaNya, dan Dialah yanng Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui" (Qs Al An'am 18)

Allah itu sutradara terbaik, penulis scenario yang handal. Mudah bagi Allah melakukan apapun atas diri kita.

Ahhh....ga masuk akal, mas?

Ya... Kalo logika kita masih saja terbelenggu oleh kontak WA atau BBM, pasti jawabnya begitu. Hehehe...

Iya, karena menurut logika kita yang bisa menolong kita itu hanya orang-orang disekitar kita, atau orang-orang yang kita kenal.

Mungkin itu dulu ya sharing malam ini.

Moga kita semua dipahamkan Allah, dan menjadikan Allah hanya sebagai satu-satunya tempat bergantung.

(Aamiin Allahumma Aamiin)

Syaithon pasti akan terus membisiki kita dengan logika, dilawan yaaa kawan-kawan!

Jangan sampe bisikan logika membenarkan hati kita, yang pada akhirnya kita tidak merasakan kekuasaan Allah di dalam hidup kita.

Inget loh saat inipun Allah melihat kita, menantikan kita mengangkat tangan, teruslah meminta padanya kawan, hanya kepadaNya. - Wallahualam bishowab.

------------------------------------------

Demikian Pola Pertolongan Allah Bagian 3, Konsep UJIAN semoga bermanfaat

Salam
EAB







Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment