Mar 29, 2018

Adab Bertetangga dalam Islam dan Ancaman Bersikap Buruk Kepada Tetangga, Baca ya?

Dalam kehidupan bertetangga ada kalanya adem ada kalanya runyem. Ada kalanya damai dan rukun ada kalanya berantem. Ini sesuatu yang wajar adanya. Dan saya pikir dimana-mana sama kok.

Tetangga yang dahulunya dekat sekarang jadi jauh, celakanya jadi musuh. Tetangga yang dahulunya bermusuhan sekarang menjadi dekat.


Biasanya venomena ini terjadi pada ibu2. Dan jarang terjadi pada bapak2. Sebab bapak2 sudah sibuk ngurusin kerjaan dan tidak sempat ngurusin yang kayak gituan.. hehe

Kalau sudah demikian diperlukan kedewasaan. Artinya kalau dengan tetangga anda ada permusuhan perlu adanya kedewasaan dan juga tentunya perlu belajar adab2 bertetangga dalam islam.

Sebab mendiamkan tetangga lebih dari 3 hari hukumnya haram lho? Nah loh..

Baca ini ya?

Adab Bertetangga dalam Islam dan Ancaman Bersikap Buruk Kepada Tetangga, Baca ya?





Menghormati Tetangga dan Berperilaku Baik Terhadap Mereka

Diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” (Muttafaq ‘alaih).

Berkata Al-Hafizh (yang artinya): “Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamrah mengatakan, ‘Dan terlaksananya wasiat berbuat baik kepada tetangga dengan menyampaikan beberapa bentuk perbuatan baik kepadanya sesuai dengan kemampuan. Seperti hadiah, salam, wajah yang berseri-seri ketika bertemu, memperhatikan keadaannya, membantunya dalam hal yang ia butuhkan dan selainnya, serta menahan sesuatu yang bisa mengganggunya dengan berbagai macam cara, baik secara hissiyyah (terlihat) atau maknawi (tidak terlihat).’” (Fathul Baari: X/456).

Memelihara Hak-hak Tetangga, Terutama Tetangga yang Paling Dekat

Diantara hak tetangga yang harus kita pelihara adalah menjaga harta dan kehormatan mereka dari tangan orang jahat baik saat mereka tidak di rumah maupun di rumah, memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan, serta memalingkan mata dari keluarga mereka yang wanita dan merahasiakan aib mereka.

Adapun tetangga paling dekat memiliki hak-hak yang tidak dimiliki oleh tetangga jauh. Hal ini dikutip dari pertanyaan ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki dua tetangga, manakah yang aku beri hadiah?’ Nabi menjawab,

‘Yang pintunya paling dekat dengan rumahmu’” (HR. Bukhari (no.6020); Ahmad (no.24895); dan Abu Dawud (no.5155)).

Tidak Mencari-cari Kesalahan Tetangga

Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan tetangga kita. Jangan pula bahagia apabila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.

Sabar Atas Perilaku Kurang Baik Mereka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda (yang artinya): “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah, … Disebutkan diantaranya: “Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah boleh kematian atau keberangkatannya” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Sumber disini

Ancaman Atas Sikap Buruk Kepada Tetangga




Disamping anjuran, syariat Islam juga mengabakarkan kepada kita ancaman terhadap orang yang enggan dan lalai dalam berbuat baik terhadap tetangga. Bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menafikan keimanan dari orang yang lisannya kerap menyakiti tetangga. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabdaL

“Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘” (HR. Bukhari 6016, Muslim 46)

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: “Bawa’iq maksudnya culas, khianat, zhalim dan jahat. Barangsiapa yang tetangganya tidak aman dari sifat itu, maka ia bukanlah seorang mukmin. Jika itu juga dilakukan dalam perbuatan, maka lebih parah lagi. Hadits ini juga dalil larangan menjahati tetangga, baik dengan perkataan atau perbuatan. Dalam bentuk perkataan, yaitu tetangga mendengar hal-hal yang membuatnya terganggu dan resah”. Beliau juga berkata: ”Jadi, haram hukumnya mengganggu tetangga dengan segala bentuk gangguan. Jika seseorang melakukannya, maka ia bukan seorang mukmin, dalam artian ia tidak memiliki sifat sebagaimana sifat orang mukmin dalam masalah ini” (Syarh Riyadhis Shalihin, 3/178)

Bahkan mengganggu tetangga termasuk dosa besar karena pelakunya diancam dengan neraka. Ada seorang sahabat berkata:

“Wahai Rasulullah, si Fulanah sering shalat malam dan puasa. Namun lisannya pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda: ‘Tidak ada kebaikan padanya, ia di neraka’” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak 7385, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad 88)

Sebagaimana Imam Adz Dzahabi memasukan poin ‘mengganggu tetangga’ dalam kitabnya Al Kaba’ir (dosa-dosa besar). Al Mula Ali Al Qari menjelaskan mengapa wanita tersebut dikatakan masuk neraka: “Disebabkan ia mengamalkan amalan sunnah yang boleh ditinggalkan, namun ia malah memberikan gangguan yang hukumnya haram dalam Islam” (Mirqatul Mafatih, 8/3126).

Sumber disini

---------------------------------------

Naah loh.. Sudah dibaca?

Meski amalan anda banyak, ada sholat, puasa, sedekah, dan lain sebagainya namun kalau suka menyakiti orang lain dan tetangga anda maka sia-sia amalan tersebut. Itu kata hadist diatas.

Sebab memang segala amalan dan ibadah ujung2nya bertujuan supaya hati dan jiwa kita lebih tenang, tidak mudah emosi, tidak mudah membuat permusuhan dll. Kalau sudah ibadah namun masih suka bermusuhan artinya ibadahnya belum bener.

Oleh karena itu saya mengajak kepada pembaca semua yuk mulai menjadi tetangga yang baik.

"Khan mereka yang duluan Pak Ji?"

Sekali lagi jadilah tetangga yang baik tidak peduli siapa yang duluan. Jadilah baik meski tetangga anda tidak baik. Jadilah pemaaf meski tetangga anda tidak mau memberi maaf. Jadilah penyabar meski tetangga anda suka emosian.

Jika kita melakukannya Insya Allah balasannya berlipat ganda.. Aamiin Wallahu A'lam

Salam
EAB




Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment