Jan 18, 2018

The Power of Spiritual Beliefs, Membangkitkan Keyakinan Spiritual yang Digdaya Bag. 1

Serial artikel tentang ILMU KEYAKINAN ini dibaca ya? Sekali lagi dibaca dan dibaca dan dibaca. Selanjutnya sambil jalan sambil dipahami. Ilmu yakin, kuantum keyakinan, keyakinan spiritual dan semacamnya yang penting banget untuk kita baca dan resapi

"Waduuh tulisannya panjang kali lebar ji?" Meski tulisannya panjang kayak ular teman2 harus membacanya dengan seksama. Sebab banyak ilmu yang akan didapatkan. Sepakat ya?

Serial The Power of Spiritual Beliefs, Membangkitkan Keyakinan Spiritual yang Digdaya Bag. 1 sampai terakhir sebenarnya sudah saya tulis di blog yang lain disini. Saya reshare ulang disini dengan ulasan yang lebih rapih sehingga enak membacanya.

Ilmu yakin ini didunia barat menjadi LOA. Law of Attraction. Cuman mereka menyandarkan keyakinan kepada alam semesta. Kalau bahasa muslimnya adalah sunnatullah.

Jadi bisa dikatakan ilmu warisan leluhur. Ilmu yang sudah ada sejak jaman kuno. Begitulah apa kata mereka. Dan bisa dibilang begitu meski nggak segitunya juga.



Sebab ilmu YAKIN sudah ada sejak jaman Nabi dahulu kala. Yakin kepada Allah. Yakin kepada rukun iman. Adapun LOA yang mana yakin kepada sunnatullah dan hukum2 yang ada didalam alam semesta hanya satu bagian kecil dari rukun iman.

Mari kita ke bagian pertama yaitu tentang urgensi dan pentingnya keyakinan. Tapi sebelumnya saya minta tolong bagi teman2 yang nemu artikel ini share linknya ya? Share di Facebook, Twitter, WA dan lain sebagainya agar makin banyak yang membacanya.

Semoga mendapatkan manfaatnya. Aamiin.

Mari kita mulai..

PENTINGNYA KEYAKINAN

Orang yang telah berhasil menaklukan keraguan dan ketakutan adalah orang yang telah menaklukan kegagalan karena kegagalan bersumber pada keraguan dan ketakutan. (James Allen)

Kesimpulannya adalah keyakinan merupakan rasa yang sangat penting. Ia adalah bahan bakar bagi segala impian anda. Keyakinan itu harus mampu kita rasakan dengan jelas dalam dada. Tanpa itu kegagalan adalah kepastian. Bagaimana mungkin bisa meraih impian/ cita-cita sementara hati ragu?. Ragu-ragu adalah jaminan kegagalan.

Menjadi sangat penting bagi kita untuk bisa meyakini segala hal agar hidup menjadi lebih mudah dan membahagiakan. Menjadi wajib hukumnya bagi yang menginginkan impian/ cita-citanya bisa terealisasi. Dalam hal ini keyakinan menjadi sebuah esensi yang harus bisa dibangkitkan kemudian dirasakan dengan rasa yang nyata. Keyakinan yang jelas, keyakinan yang nyata tanpa keraguan.

Bagaimana supaya “keyakinan tanpa keraguan” tersebut bisa benar-benar secara jujur kita rasakan setrumnya dalam dada? Inilah jawabannya.

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS Al Baqarah 147)

DASAR LANDASAN ILMU KEYAKINAN


Bab berikutnya tentang dasar dan landasan ilmu keyakinan/ ilmu yakin. Jangan sampai karena kebodohan kita menyebabkan landasan keyakinan kita salah alamat. Kalau sudah salah alamat bakalan susah.

Penginnya makan nasi padang, tapi kita pergi ke tukang tambal ban, mana nyambung? Sampai kapanpun tidak akan bisa kenyang. Mosok makan ban? hehe

Bagaimana penjelasannya. Dimulai dengan kisah Fadlan Cek it dot ya?

Sebuah cerita inspiratif yang saya ambil dari ebook 17 Kisah Penuh Hikmah menceritakan sebagai berikut. Fadlan datang kepada seorang kyai di kampungnya. Ia merasa bingung. Sudah banyak cara telah ia tempuh, namun rezeki masih tetap sulit ia cari. 

Kata orang, rezeki itu bisa datang sendiri, apalagi kalau sudah menikah. Buktinya, sudah 3 tahun ia menikah dan dikarunia dua orang anak, ia masih tetap hidup luntang-lantung tak menentu.

Benar, keluarganya tidak pernah kelaparan sebab tidak ada makanan. Namun kalau terus-terusan hidup kepepet dan tidak punya pekerjaan, rasanya tidak ada kebanggaan diri. Ia pun datang kepada Kyai Ahmad untuk minta sumbang saran. Kalau boleh sekaligus minta do’a dan pekerjaan darinya. Terus terang, ia sendiri kagum dengan sosok Kyai Ahmad yang amat bersahaja. 

Tidak banyak yang ia kerjakan, namun dengan anak 9 orang, sepertinya mustahil bila ia tidak pusing memikirkan nafkah keluarga. Tapi nyatanya, sampai sekarang Kyai Ahmad tetap sumringah di mata Fadlan. Tidak pernah ia lihat Kyai Ahmad bermuka muram seperti dirinya. Makanya hari itu, Fadlan datang untuk meminta nasehat kyai tersebut.

“Hidup ini adalah adegan. Kita hanya wayang, sementara dalangnya adalah Gusti Allah! Jadi, manusia itu hidup karena disuruh ‘manggung’ oleh Dalangnya!” Kyai Ahmad membuka penjelasan dengan sebuah ilustrasi ringan.

“Gak mungkin kalau wayang itu manggung sendiri. Pasti, ia dimainkan oleh Dalang. Sementara selama di panggung, pasti Dalang akan memperhatikan nasib wayang itu! Begitu juga manusia, gak mungkin dia hidup di dunia, tanpa diperhatikan segala kebutuhannya oleh Gusti Allah! Sudah paham belum kamu, Fadhlan?” Kyai Ahmad mengakhiri penjelasannya dengan sebuah pertanyaan.

“Tapi pak kyai, kalau Gusti Allah benar menjamin hidup hamba-Nya, kenapa hidup saya seperti sia-sia begini ya, nyari nafkah saja kok susah!” Fadlan menyampaikan keluhnya.

“Oh… itu karena kamu belum datang kepada Gusti Allah. Kalau kamu datang kepada Gusti Allah, hidupmu gak bakal sia-sia!” Kyai Ahmad menambahkan.

Fadhlan belum mengerti betul apa maksud sebenarnya dari kata ‘datang kepada Allah’, ia pun menanyakan gambaran kongkrit tentang hal itu kepada Kyai Ahmad.

Dengan santai Kyai Ahmad menjelaskan, “Fadlan, semua masalah di dunia ini bakal selesai asal kita datang kepada Allah. Banyak di dunia ini orang yang bermasalah, punya hutang segunung, rezeki sulit, ditimpa berbagai macam penyakit, kemiskinan, kelaparan dan lain-lain. Itu disebabkan karena mereka tidak datang kepada Allah. Kalau saja mereka datang kepada Allah, maka segala masalah mereka terselesaikan!”

“Apakah hanya sesederhana itu, pak Kyai?” Fadlan bertanya dengan nada penasaran.

“Ya, hanya sesederhana itu!” Pak kyai menegaskan.

Pak Kyai bercerita, “Pernah terjadi di Rusia di sebuah negeri yang terkenal atheis, seorang pria pergi ke tukang cukur. Saat rambutnya dicukur, ia terserang kantuk. Kepalanya mulai mengangguk-angguk karena kantuk. Tukang cukur merasa kesal. Untuk membangunkan pelanggannya, si tukang cukur mulai bicara.

“Pak, apakah bapak termasuk orang yang percaya tentang adanya Tuhan?”

Pelanggan menjawab, “‘Ya, saya percaya adanya Tuhan!”

Agar pembicaraan tak terhenti, si tukang cukur menimpali, “Saya termasuk orang yang tidak percaya kepada Tuhan”

“Apa alasanmu?” pelanggan melempar tanya.

“Kalau benar di dunia ini ada Tuhan, dan sifat-Nya adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, menurut saya tidak mungkin di dunia ada orang yang punya banyak masalah, terlilit hutang, terserang penyakit, kelaparan, kemiskinan dan lain-lain. Ini khan bukti sederhana bahwa di dunia ini tidak ada Tuhan!” tukang cukur berbicara dengan cukup lantang.

Si pelanggan terdiam. Dalam hati, ia berpikir keras mencari jawaban. Namun sayang, sampai cukuran selesai pun ia tetap tidak menemukan jawaban. Maka pembicaraan pun terhenti. Sementara si tukang cukur tersenyum sinis, seolah ia telah memenangkan perdebatan.

Akhirnya, saat cukuran itu selesai, si pelanggan bangkit dari kursi dan ia berikan ongkos yang cukup atas jasa cukuran. Tak lupa, ia berterima kasih dan pamit untuk meninggalkan tempat. Namun dalam langkahnya, ia masih tetap mencari jawaban atas perdebatan kecil yang baru ia jalani.

Saat berdiri di depan pintu barber shop, ia tarik tungkai pintu kemudian hendak melangkahkan kakinya keluar. Saat itulah Allah Swt mengirimkan jawaban padanya. Matanya tertumbuk pada seorang pria gila yang berparas awut-awutan. 

Rambut panjang tak terurus, janggut lebat berantakan. Demi melihat hal demikian, pintu barber shop yang tadi telah ia buka maka ditutup kembali. Ia pun datang lagi kepada tukang cukur dan berkata, “Pak, menurut saya yang tidak ada di dunia ini adalah tukang cukur”

Merasa aneh dengan pernyataan itu, tukang cukur balik bertanya, “Bagaimana bisa Anda berkata demikian. Padahal baru saja rambut Anda saya pangkas!”

“Begini pak, di jalan saya dapati ada orang yang kurang waras. Rambutnya panjang tak terurus, janggutnya pun lebat berantakan. Kalau benar di dunia ini ada tukang cukur, rasanya tidak mungkin ada pria yang berperawakan seperti itu”, si pelanggan menyampaikan penjelasannya.

Tukang cukur tersenyum, sejenak kemudian dengan enteng ia berkata, “Pak… bukan tukang cukur yang tidak ada di dunia ini. Masalah sebenarnya adalah pria gila yang Anda ceritakan tidak mau hadir dan datang ke sini, ke tempat saya… Andai dia datang, maka rambut dan janggutnya akan saya rapihkan sehingga ia tidak berperawakan sedemikian!”.

Tiba-tiba si pelanggan meledakkan suara, “Naaaahhhh…. itu dia jawabannya. Rupanya Anda juga telah menemukan jawaban dari pertanyaan yang Anda lontarkan!”. “Apa maksudmu?” si tukang cukur tidak mengerti dengan pernyataan pelanggannya.

“Anda khan bilang bahwa di dunia ini banyak manusia yang punya masalah. Kalau saja mereka datang kepada Tuhan, pastilah masalah mereka akan terselesaikan. Persis sama kejadiannya bila pria gila tadi datang kemari dan mencukurkan rambutnya kepada Anda!”

Kyai Ahmad mengakhiri kisah yang ia sampaikan. Terlihat Fadlan menganggukkan kepala tanda mengerti.

“Jadi…, kamu hanya tinggal memohon saja apa yang kamu inginkan kepada Allah Swt., pasti Allah bakal berikan apa yang kamu pinta!” Kyai Ahmad berkata memberi garansi.

Fadlan sudah mulai yakin, tapi ia masih mengejar dengan satu pertanyaan, “Pak Kyai, saya sudah niat untuk datang dan semakin mengakrabkan diri kepada Allah. Tapi bagaimana caranya ya pak Kyai agar saya bisa memohon nafkah yang cukup kepada Allah?

Kemudian Pak Kyai membacakan ayat dalam Al Qur’an:

“Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam kedalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup, dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”. (QS. Ali Imran 26-27)

“Bacalah ayat itu sesering mungkin dan perbanyak doa memohon nafkah serta rezeki yang halal dari Allah Swt. Yakinlah bahwa Allah Swt akan senantiasa menjamin penghidupanmu dan keluarga!” Kyai Ahmad mengakhiri pembicaraan dengan memberi pesan.

Usai pembicaraan dengan Kyai Ahmad, Fadlan merasa yakin bila dirinya hendak mencari nafkah, maka cara termudah yang dapat ia kerjakan hanyalah dengan ‘Datang dan Memohon kepada Pemilik Nafkah!’ Fadlan telah meyakini hal ini.

Kisah diatas memberikan pengajaran dan pelajaran yang teramat dalam kepada kita. Ternyata selama ini kita tidak mengenal Tuhan dengan sebenar-benarnya, sehingga hidup kita selalu diliputi oleh masalah yang tiada bertepi. Hal ini mau tidak mau harus kita akui.

Makanya sobat, seiring perjalanan hidup ini niatkanlah dengan penuh pengharapan, supaya kita bisa mengenal Tuhan kita dengan sebenar-benarnya. Jika kita sudah mengenal_Nya maka saya yakin sekali, kedepan Anda akan menjadi pribadi yang sakti mandraguna. Tidak akan takut kepada apapun, karena hanya Dia yang wajib ditakuti.

Masalah hidup? Ia bukanlah menjadi beban, tetapi pembelajaran Tuhan. Apapun permasalahan akan terasa ringan dan segera menemukan jalan keluarnya. Lalu bagaimana cara mengenalnya? Tentunya hal ini adalah wewenang dari_Nya untuk menunjukkan eksistensi_Nya kepada kita. 

Yang terpenting niat sudah ada, maka Dia akan datang. Engkau berjalan mendekat kepada_Nya maka Dia akan berlari menujumu. Seperti itulah analogi, bagaimana Kasih_Nya begitu dalam.

-----------------------------------------------

Bersambung ke bagian 2.

Kalau versi lengkap ada dalam ebook The Power of Spiritual Beliefs karangan Adhin Busro Al Hafiz yang berisi 300an halaman file pdf arial 14 inch (kalau tidak salah). 

Salah satu ebook dari puluhan ebook yang terangkum dalam bundle RAHASIA KUNCI SUKSES. Klik kalau mau melihat isinya lebih detail ya?


Bagian 2 kita akan membahas tentang belajar sejarah dalam Al Qur'an. Belajar keajaiban didalam Al Qur'an. Keajaiban ilmu pengetahuan dalam Al Qur'an yang pembuktiannya baru diketahui akhir2 ini.

Tujuannya agar keyakinan spiritual kita semakin dalam. Semakin yakin kepada Ilmu Yang Maha Berilmu. Endingnya yakin kepada hari akherat untuk kemudian melakukan persiapan. Inilah yang penting


Semoga bermanfaat

Salam
EAB





Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment