Jan 19, 2018

The Power of Spiritual Beliefs bag.4, Merasakan Setrum Iman dan Keyakinan

Serial the Power of Spiritual Beliefs ini rekomend untuk sobat baca. Serial belajar keyakinan tanpa batas menembus ruang dan waktu. Inilah IMAN. Yakin dan percaya masa lalu, dan masa depan serta yakin adanya kejadian setelah masa depan.

Yakin dan percaya bahasa arabnya iman. IMAN ini ilmu yang paling sakti sebenarnya. Sebab dengan iman kita bertahan. Sebagai contoh misalnya keadaan saat ini sedang GONCANG namun kita yakin hanya sementara.

Sebab apa? Sebab sudah melakukan amalan-amalan sebagai syarat untuk masa depan yang akan berubah lebih baik. Masa depan sukses.

Sobat perlu sekali membaca bagian satu tentang The Power of Spiritual Beliefs, Membangkitkan Keyakinan Spiritual yang Digdaya SILAHKAN BACA DISINI

Kemudian lanjut ke pembahasa keajaiban Al Qur'an, The Power of Spiritual Beliefs, Keajaiban Ilmu Pengetahuan Al Qur'an Bag. 2 SILAHKAN BACA DISINI

Lalu The Power of Spiritual Beliefs, Keajaiban Ilmu Pengetahuan Al Qur'an Bag. 3 SILAHKAN BACA DISINI

Setelah membaca 3 artikel panjang diatas diharapkan kita khususnya sebagai muslim semakin YAKIN dan PERCAYA akan kebenaran hakiki dari kitab suci Al Qur'an untuk kemudian mencari dan mencari ilmu dan hikmah lain yang terkandung didalamnya.
  • Mau lunas hutang? Strategi dan solusinya ada dalam Al Qur'an
  • Mau kaya raya? Ada dalam Qur'an
  • Mau punya keturunan? Ada dalam Al Qur'an


Dan segala masalah hidup manusia, obat dan solusinya ada dalam Al Qur'an. Cuma untuk yakin dan percaya ternyata kita butuh bukti kuat, dan artikel sebelumnya adalah bukti.


Artikel ini sekali lagi hanya satu buah ebook dari sekian ebook yang ada dalam Bundle Rahasia Kunci Sukses. Membahas satu saja sudah ribuan paragraf apalagi membahas semuanya? Bagi sobat yang mau memiliki koleksi tulisan saya silahkan LIHAT2 DULU WEBNYA DISINI

Lanjut ke materi berikutnya yakni The Power of Spiritual Beliefs, Merasakan Setrum Iman dan Keyakinan. Merasakan rasa. Rasa yakin dalam dada.

Bagaimana pembahasannya? Cek it dot


SANDARAN KEYAKINAN YANG SALAH

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah." (Qs Al Hajj 73)

Seringkali kita meyandarkan diri dan hidup kita kepada keyakinan yang salah. Keyakinan yang rapuh dimana kita anggap sebagai kekuatan yang mampu memberikan solusi padahal yang terjadi sebaliknya.

Pada pembahasan sebelumnya kita telah belajar dari orang-orang yang mempunyai keyakinan yang salah dimana semua berakhir dengan kebinasaan. Seyogyanya kisah tersebut bisa menjadikan kita paham, bahwa keyakinan tersebut tidak akan mampu membawakan kemanfaatan sama sekali.

Kita mungkin dikaruniakan kecerdasan, kepandaian dan kelebihan diatas orang lain. Dengannya kita bisa mendapatkan sesuatu dimana orang lain tidak bisa melakukannya. Namun janganlah akal/ kecerdasan tadi dijadikan tuhan. Karena kehebatan akal kita kadangkala menganggap apa yang kita capai sebagai akibat dari kepintaran kita kemudian melupakan Tuhan sebagai pemberi karunia kelebihan tersebut.

Seharusnya kita bersyukur lebih banyak dibandingkan orang lainnya dikarenakan kelebihan tersebut supaya boleh kita langgeng dalam kebahagiaan. Namun apabila kita melupakan pemberi karunia maka akhir dari kesombongan adalah kebinasaan.

Termasuk dalam hal ini adalah menyandarkan diri kepada kekuatan diluar Kekuasaan Tuhan baik langsung maupun tidak langsung baik disengaja maupun tidak. Percaya dan yakin kepada kekuatan orang lain, benda-benda, pohon, rajah bahkan laut dijadikan sumber pegangan.

Ini adalah pemahaman yang salah mengenai sumber kekuatan yang dipikir bisa menolong untuk menyampaikan hajat atau keinginan.


DUA TUJUAN HIDUP MANUSIA
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyaat 56)

Seringkali ketika ditanyakan kepada kita, apa sebenarnya tujuan hidup, maka jawabannya pasti akan beragam. Ada yang tujuannya untuk mencari harta sebanyak-banyaknya, ada yang tujuannya kekuasaan, ada yang tujuannya untuk menguasai sebuah ilmu dan lain sebagainya. 

Namun sebenarnya ada dua tujuan utama yang pada hakikatnya sudah menjadi program default dalam diri manusia sadar atau tidak sadar. Tujuan default tersebut adalah memakmurkan bumi dalam rangka mengabdi kepada Tuhan.

Memakmurkan bumi dalam hal ini adalah memanfaatkan segala potensi yang ada dalam diri kita untuk kemudian dimanfaatkan untuk mengelola bumi ini demi manfaat semesta alam. Karena setiap manusia adalah unik dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka manfaatkanlah keunikan tersebut untuk digunakan dalam hal kebaikan. 

Jika kita mempunyai kelebihan didalam bidang keilmuan baik biologi, fisika, geografi, pertanian, perikanan dan ilmu-ilmu lainnya maka niatkanlah untuk mempelajarinya guna mengelola bumi ini dengan kaidah-kaidah yang baik dan seimbang. Jika kelebihan kita adalah ilmu atau skill dalam bidang hubungan sosial, marketing, jasa dan lain sebagainya maka manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya dengan tujuan bermanfaat untuk sesama.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS Al Baqarah 30)

Menjadi khalifah atau pemimpin atau pemakmur bumi tersebut harus dalam kaidah mengabdi kepada Sang Pencipta. Inilah sebenarnya tujuan default yang ada pada diri manusia. Kemudian dalam prosesnya syetan dan hawa nafsu membelokkan tujuan tersebut. Orang yang pandai memanfaatkan kepintarannya untuk membodohi orang lainnya. 

Orang yang berkuasa memanfaatkan kekuasaannya untuk mendzalimi rakyat. Orang kaya memanfaatkan hartanya untuk memenuhi hawa nafsu dan menghina yang miskin. Maka menyadari tujuan default tadi adalah hal yang wajib kita renungkan agar syetan dan hawa nafsu tidak berhasil membelokkan tujuan tersebut.

Mulai hari ini dan seterusnya mulailah hidup di dunia ini dengan tujuan jangka panjang yang sudah default dalam diri manusia, yakni menjadi orang yang berguna dan bermakna bagi semesta alam (khalifah) dalam rangka mengabdi kepada_Nya. Inilah visi hidup yang harus diingat kembali kemudian dijadikan prinsip sekarang dan selamanya. 

Dua tujuan inilah yang akan membangkitkan daya yang luar biasa dahsyat. Inilah tujuan sejati yang akan menghasilkan emosi dan power spiritual didalam langkah demi langkah meraih kemuliaan (kesuksesan dan kebahagiaan).

Adapun bidang yang akan membawa kepada tujuan besar tersebut akan kita bahas lebih detail pada pembahasan berikutnya. Sekarang ada sebuah pertanyaan yang harus anda jawab dengan tepat, apakah tujuan hidup anda?


INI SANDARAN YANG BENAR
"Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" tentu mereka akan menjawab: "Allah", Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba- hamba-Nya dan dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. Dan Sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" tentu mereka akan menjawab: "Allah", Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (QS Al-Ankabut 61-63)

Seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya dimana tujuan hidup manusia secara default adalah menjadi pemakmur bumi dalam rangka mengabdi kepada Tuhan. Namun dalam prosesnya syetan dan hawa nafsu membelokkan tujuan sejati tersebut, yang menyebabkan manusia salah mengambil jalan. Pada akhirnya bukan kebahagiaan yang didapatkan namun kebinasaan.

Untuk membuktikan program default tersebut maka dalam ayat diatas diberikan sebuah pertanyaan mendasar. Siapakah yang menciptakan langit dan bumi beserta isi dan aturan-aturannya? Maka secara fitrah/ default kita akan menjawab, Tuhan lah Yang Menciptakan. Namun pada prakteknya ketika ada ujian kehidupan kita menyandarkan diri kepada selain_Nya sadar atau tidak sadar.

Ketika kita akan melakukan perbuatan yang jahat maka secara default/ fitrah kita akan merasa cemas, was-was, takut dan lain sebagainya. Namun jika kejahatan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita rasa was-was itu semakin lama semakin hilang. Ini dikarenakan syetan dan hawa nafsu sudah sukses mengendalikan jiwa kita.

Untuk mengembalikan program default pada diri manusia mau tidak mau kita harus refresh kembali diri kita dengan merenung, apakah benar tujuan hidup saya seperti ini. Apakah benar selalu mengikuti hawa nafsu dan bisikan syetan. Insya Allah kita akan teringat kembali tujuan hidup yang sudah diprogramkan dalam jiwa manusia pada awal penciptaannya. 

Setelah anda ingat kembali fitrah tersebut maka langkah berikutnya tanamkan ia dalam-dalam di nurani kita. Sehingga ketika tujuan tersebut hendak dibelokkan oleh syetan dan hawa nafsu, akan ada rem yang menghambatnya.

Jadikan Allah swt sebagai sandaran sejati. Karena Dia yang akan menunjukkan jalan, membimbing serta menolong kita untuk melewati setiap batu ujian kehidupan. Sehingga pada akhirnya tujuan sejati tersebut akan tercapai, yakni kemuliaan (kebahagiaan dan kesuksesan) baik didunia maupun diakherat. 


BELAJAR FAKTA SEJARAH
"Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul. Kami tenggelamkan mereka dan kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih." (QS Al Furqon 37)

Pada pembahasan sebelumnya kita sudah berbicara mengenai sandaran hidup yang salah dan pada ujungnya akan membinasakan. Menyandarkan diri kepada selain Allah swt adalah sandaran yang lemah. Bukti-bukti masa lalu dan sejarah bisa kita baca, pelajari dan pahami dimana menuhankan selain Allah akan berakhir dengan sia-sia, tragis.

Anda sudah membaca bagaimana kisah Namrudz, Firaun, Qurun, Abu Jahal dan lain sebagainya yang mengandalkan akal, kecerdasan, kekuasaan, harta dan lain sebagainya berakhir dengan tragis. Anda juga bisa melihat sejarah masa lalu seperti kisah Hittler, Musollini dan banyak yang lainnya. Mereka semua bisa dijadikan pelajaran bagi generasi sesudahnya.

Selain itu ada juga pelajaran yang bisa diambil dari akhlak nabi dan utusan Tuhan dimulai dari Adam as, Ibrahim as, Musa as, Isa as dan Nabi kita Muhammad saw. Jalan/ cara hidup mereka yang bisa kita teladani agar sampai kepada tujuan sejati. Ada juga kisah kehidupan sahabat nabi serta ummat mereka yang tetap lurus pada jalan Tuhan akan berakhir dengan kebahagiaan abadi. bahagia di dunia juga diakherat.

Itu semua adalah ibroh atau pelajaran yang bisa kita petik. Sehingga sudah tidak ada alasan lagi untuk melalui jalan kesesatan. Sudah tidak ada hujjah lagi untuk melakukan keburukan dan kejahatan. Namun semua pilihan ada ditangan anda. 

Jika pelajaran yang baik anda ambil maka baiklah akhirnya, namun jika kejahatan yang anda ambil maka kebinasaan adalah kepastian. Semua itu ada dalam sebuah hukum sebab akibat sebagai konsekuensi logis dari sebuah keadilan Tuhan.

Kebenaran sudah jelas. Kami sudah berusaha memberikan segala daya dan upaya, semua data dan fakta yang logis dan rasional bahwa kebenaran itu dari Tuhan, maka janganlah kita ragu. Tentukan pilihan anda sekarang, apakah mau menjadi tentara Tuhan atau tentara syetan, jangan ambil jalan tengah. Kalau mau menjadi hamba Tuhan maka lakukanlah dengan yakin dan sempurna. 

Masuklah dalam kepasrahan secara total, utuh dan keseluruhan. Kalau berkehendak menjadi teman hawa nafsu dan syetan silahkan lakukan secara total. Hal ini bertujuan supaya keyakinan kebenaran akan menjadi sempurna atau sebaliknya. Jadi jangan setengah-setengah. Itu nasehat kami pribadi yang mungkin sedikit berbeda dengan orang lain.

-------------------------------------


Meskipun panjang kali lebar harap bisa dibaca semua dari awal sampai akhir. Insya Allah jika anda membacanya dari awal sampai akhir akan mendapatkan energi spiritual yang digdaya dan energinya tidak akan mati.

Terus menyala dan menerangi dunia. Semakin terang dan semakin menyilaukan cahayanya seiring proses. Insya Allah. Wallahu A'lam


Salam
EAB



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment