Nov 6, 2016

Seperti Inilah Rasanya Ujian Hidup di Dunia

Magis7.com. Mau tahu seperti apa rasanya ujian hidup di dunia? Mau tahu rasanya belajar IMAN dan atau keyakinan? Mau tahu rasanya belajar menunggu Tuhan untuk memberikan pertolongan? Rasanya sensasional, mengharu biru, penuh dinamika.


Seperti Inilah Rasanya Ujian Hidup di Dunia

Sedih
Pedih
Perih

Namun kita tetap harus melawan kepedihan, meski dengan sisa2 kekuatan. Kalau kita tidak mau mengahadapi, niscaya tertelan dan mati.

Seperti inilah rasanya ujian

Sakit... Nyeri...

Apalagi yang baru saja belajar IMAN dan atau keyakinan. Apalagi yang sedang belajar bertahan dan ber Tuhan.

"Ah berley alias berlebihan Mas"

Memang kenyataanya begitu, bagi orang2 yang memutuskan belajar keyakinan sejati (IMAN). Namun bagi orang2 yang tidak peduli dengan IMANnya mungkin saja tidak diuji. Mungkin.. :) Namun kalau tidak merasa ada ujian, perlu waspada. Bisa jadi sudah dilupakan oleh Tuhan YME.

Seperti inilah rasanya ujian

Sakit... Nyeri... Menguras air mata

Takut, harap, cemas...... yang kadang teramat sangat cemas...


Bayangkan saja saat anda hampir tenggelam, terseret arus banjir bandang. Tidak ada yang sanggup menolong, tidak ada, kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sementara (menurut kita) DIA selalu saja datang didetik detik terakhir. Saat nafas hampir saja putus.

Bagaimanakah rasanya?

Tentu kita cenderung mencari penolong selain_Nya.

Sebab bayangan kematian itu begitu dekat. begitulah syetan2 merayu-rayu menipu.

Hampir2 saja kita kehilangan kepercayaan dan keyakinan kepada_Nya. Kalaulah bukan disebabkan DOA kita dahulu kala, mungkin saja kita hilang IMAN. Lalu mulailah mencari pertolongan kepada mahluk. Mengemis kepada yang tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat.

Sebab luka akibat ujian itu rasanya nyeri.
Sakit hampir2 tiada bisa ditahan.
Pedih dan perih

Sementara dalam kehausan kita diberikan minuman yang pahit. Getir rasanya dilidah namun mau tidak mau harus ditelan. Seperti itulah gambaran ujian kehidupan. Ujian bagi mahluk pendosa seperti kita2.

Hampir2 hidangan itu tidak bisa ditelan. Seperti duri pahit dari pohon beracun. Pada akhirnya kegetiran itu harus masuk dalam perut

Pada akhirnya ujian hidup itu harus kita hadapi, suka atau tidak suka.

Disinilah kita belajar menahan diri. Menahan dari bantuan mahluk dan hanya mengharap Tuhan secepatnya memberikan bantuan. Mengurai benang kusut kehidupan.

Jika kita tidak mampu bertahan dalam gempuran ombak bertubi-tubi dan banjir bandang kehidupan, maka tangan2 lemah ini niscaya akan berpegang kepada rumput yang rapuh.

Lalu rapuh pula jiwa kita seiring dengan tercabutnya rumput yang dipikir mampu menahan banjir. Lalu hilanglah kita ditelan ombak. Tragis

kecuali dengan sisa2 kekuatan, kita tetap bertahan. Kecuali dengan badan penuh luka dan darah mengalir kita tetap bangkit memandang langit.

Dan (biasanya) memang begitu. Tangan2 langit akan mengangkat kita ke daratan, di detik2 terakhir. Disaat nafas kita hampir saja putus.

Tangan langit mengangkat kita dari kehinaan menuju kemuliaan. Kemuliaan yang abadi dunia dan akherat abadi selamanya.

Seperti itulah rasanya

Sedemikian itulah harganya

Wahai kawan, jikalau memang engkau merasa tidak tahan, maka janganlah berani2 belajar IMAN. Namun waspadalah, jika engkau tidak mau belajar bisa jadi kehinaan itu abadi melekat dalam hidupmu.

Kecuali engkau siap dengan segala dinamikanya. Kecuali engkau siap dengan segala resikonya maka START dari sekarang. START belajar iman, belajar bahwa DIA sedang memberikan UJIAN, sekaligus kunci jawaban.

Sebab balasan IMAN itu kebahagiaan, abadi selamanya.

START dengan mulai berdoa sepenuh jiwa raga, "Robb ajarkan aku mengenal_Mu, ajarkan aku yakin kepada_Mu"

Seperti itu saja.. Lalu siap2lah dengan segala drama yang akan digelar, drama yang mengharu biru dan sensasional. Siap??

Wallahu A'lam

Salam
ABTeam

NB:  Yang mau belajar Manajemen Rasa, Manajemen keajaiban bareng kami dan member2 lainnya silahkan KLIK DISINI 

Yang belum berkenan belajar juga gpp. Semua kita doakan semoga sukses dan bahagia dunia akherat. Aamiin





Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment