Jul 13, 2016

Sebab Kita Pengecut, Maka diberikan Kebesaran Kepada Umat Lain

Sebab Kita Pengecut, Maka diberikan Kebesaran Kepada Umat Lain, ini adalah fakta. Kebesaran itu dikuasai orang lain, kekayaan itu dimiliki bangsa lain, kekuatan itu dimiliki ummat lain. Sedangkan kita hanya dianggap sebagai pelengkap penderita saja.. Miris khan..?? Why kenapa?

Mungkin... Sekali lagi mungkin kita takut berpikir besar. Kita enggan bermimpi besar. Padahal kata UYM, kita punya Allah yang akan mewujudkan mimpi besar kita.

Kita enggan bermimpi besar mungkin (sekali lagi mungkin) takut resiko. Takut konsekwensi dari sebuah mimpi. Sebab semakin besar mimpi maka akan semakin besar pula TUNTUTAN kepantasan.

Sedangkan tuntutan kepantasan itu memang merupakan proses panjang yang mengharu biru. Tuntutan kepantasan adalah proses yang penuh dinamika, yang hanya bisa dihadapi oleh mereka yang KUAT saja. Kalau kita lemah DIJAMIN tidak akan kuat menghadapi tuntutan kepantasan.

Makanya kemudian dalam dunia nyata (mungkin) sebab kita takut berpikir dan bermimpi besar, maka yang BESAR orang lain. Yang berkuasa orang lain, bahkan ummat lain yang seharusnya tidak boleh berkuasa. Celakanya yang BESAR dan BERKUASA adalah orang lain yang akan menginjak-injak harga diri kita.

Sebab apa..??? Mungkin disebabkan kitanya yang enggan berpikir dan bermimpi BESAR, maka diberikanlah kebesaran itu kepada orang lain.

Lalu apa yang kita lakukan, saat KEBESARAN itu diberikan kepada orang/ummat lain, kemudian mereka menggunakan kebesarannya untuk mengelabui kita, menipu kita, memanfaatkan kita dsb? Yang kita lakukan (mungkin) mencela, mengumpat, menyalahkan dan semacamnya..

Wajar sebagai manusia atau ummat yang merasa terzalimi. Namun sebenarnya (kalau kita peka) segala fenomena yang ada menggelitik kita untuk melakukan sesuatu. Sayangnya kita susah sekali tergelitik sebab seringkali yang dilihat adalah kulit/ permukaan saja.

Sebenarnya KEBESARAN yang dberikan kepada orang/ ummat lain menggelitik kita untuk BERPIKIR DAN BERMIMPI lebih besar lagi. Disinilah kita diuji seberapa YAKIN dengan mimpi yang BUESAARRR yang kita panjatkan kepada Sang Pencipta. Endingnya adalah seberapa yakin kita kepada_Nya. Endingnya adalah TAUHID... see?

> Kalau ada yang melegalkan miras sebab ia berkuasa, maka saya harus punya kekuasaan yang seperti dia atau lebih
> Kalau ada orang yang tidak seharusnya masuk masjid namun disambut masuk masjid sebab dia kaya, maka saya harus lebih kaya lagi sehingga bisa bebas masuk masjid manapun

Teman2 kenal Hari Tanu? Kemungkinan besar mengenalnya. Beliau orang kaya, orang hebat dan berkuasa. Makanya wajar kalau beliau lolos masuk masjid dan disambut layaknya Ustadz. Sekali lagi wajar, tidak usah protes.

Sebab apa? Sebab beliau hebat, kaya raya dan punya kuasa. Padahal kata sebagian orang, tidak seharusnya beliau masuk masjid. Makanya kalau kita mau seperti Hari Tanu, tentu saja kita harus menjadi orang kaya, orang hebat dan berkuasa.. Kira2 mampu nggak?

Insya Allah mampu sebab sekali lagi kita punya Allah

Mungkin saat ini kita bukan siapa-siapa. Tetapi paling tidak dimulai dari ucapan dalam keyakinan dahulu bahwa kita punya MIMPI besar, dan berkomitmen mewujudkannya.

Sekali lagi ngomong saja dulu, misalnya, "bismillah saya bisa mempunyai usaha dengan ribuan cabang", "saya bisa mengumrohkan orang tua dan keluarga", "saya bisa berpenghasilan jutaan perhari" atau apa saja boleh.

Atau ngomong begini, "Saya bisa melebihi Pak Hari Tanu, Insya Allah"

Setelah dream dan DOAnya diucapkan baru kemudian, Istikomah dalam DOA

Salam
Adhin Busro

NB

Presented by: Magis7, panduan 77 hari meraih ketangguhan, sebagai prasyarat ujian kepantasan, klik disini





Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment