Jul 14, 2016

Belajar Mendesain Jiwa Leader/ Pemimpin

Dari masih muda, dengan ijin Allah, saya sedikit banyak bersinggungan dengan urusan orang banyak. Saat sekolah berurusan dengan karang taruna, OSIS organisasi lainnya. Saat kuliah juga sama banyak berkecimpung dalam dunia organisasi mahasiswa. Saat bekerja mengurusi banyak orang sebab posisi terakhir saya saat itu adalah manager. Pun dengan kehidupan bermasyarakat menjadi tokoh masyarakat.

Dan dari berhadapan dengan banyak orang yang berbeda keyakinan, sifat dan kharakter itulah saya berkesimpulan bahwa tidak mudah menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu.

Bagian yang paling sulit ternyata bukan dari luar, namun dari dalam. Yakni bagaimana kita melakukan manajemen jiwa kita sendiri.


Belajar memahami orang terdekat saja penuh tantangan, misalnya Istri, apalagi belajar memahami 10 orang, 100, 1.000 bahkan jutaan orang lain?? Pasti Hati/ Jiwa serasa diaduk-aduk.

Ada yang cerdas, ada yang loading, ada yang keras, ada yang lembut, ada yang kalem, ada yang ngotot, ada yang maunya ngetan, ada yang ngulon dan 1.001 perbedaan lainnya. Kalau tidak tulus dan niat lillaahi ta'ala biasanya kita mudah goncang, berprasangka buruk kemudian memutuskan benang. Bahasa jawanya "mutung"

Kalau dalam kehidupan bermasyarakat biasanya sebaik-baik kita pasti ada yang ngomongin (menyalahkan). Kerja salah apalagi nggak kerja. Pasti ada satu dua oknum atau tokoh antagonis dalam kehidupan bermasyarakat. Bagi tokoh masyarakat yang membaca artikel ini pasti sangat setuju dengan tulisan saya ini :)

Nabi Yunus as saja sempat menyerah dalam berdakwah, padahal beliau adalah seorang manusia hebat, yang mengakibatkan 3 hari 3 malam dalam perut ikan hiu sebagai bagian dari teguran Allah swt. Apatah saya dan kita2 yang bukan apa-apa jika dibandingan dengan Nabi Yunus as?

But show must go on. Sudah saatnya kita tidak hanya memikirkan diri sendiri, namun juga memikirkan orang lain. Terlepas bagaimanapun kondisinya, sudah saatnya kita melihat keluar, melihat kondisi ummat. Sudah saatnya kita belajar menjadi LEADER. Kalau bukan kita siapa lagi?

30 hari yang lalu kita semua sudah belajar manajemen jiwa. Yang mau marah, nggak jadi marah sebab sedang puasa. Yang mau dongkol, sebel, benci, nggak cocok, dsb bisa kita kendalikan. Yang merasa pinter, hebat, bener, dsb bisa ditekan. Untuk kemudian diarahkan kepada pendesainan jiwa2 yang bersih yakni jiwa yang khusuk dan tunduk. Jiwa yang penuh syukur, sabar dan tawakal. Inilah hakikat taqwa.

Sekaranglah ujian yang sesungguhnya, yakni saat Ramadhan telah pergi meninggalkan kita. PASTI akan banyak kejadian selepas ramadhan yang membuat jiwa kita serasa diaduk-aduk. Apakah kita masih bisa mempertahankan kharakter seperti diatas atau tidak, kita yang tahu..

Jika kita mau belajar dan berjuang maintain jiwa yang tenang sebagaimana pada bulan ramadhan, maka sejatinya seperti itulah jiwa seorang LEADER/ pemimpin.

Kalau jiwa LEADER sudah ada dalam diri kita, maka Insya Allah jauh lebih mudah menggerakkan orang lain untuk berjuang sekuat tenaga menggapai visi dan misi untuk kebaikan bersama. Wallahu A'lam

Semoga kita salah satunya.. Aamiin

Salam
Adhin Busro
Kampung Paytren Nusantara
www.eyang.kampungpaytren.net





Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment