Feb 7, 2016

Bahaya Merasa Benar Ketika Sedang Menetapi Kebenaran

Kalau seseorang melihat segala sesuatu dari satu sudut saja, maka jelas ia gampang tersesat. Sebab ada sudut lain yang tidak diketahuinya. Apalagi sesuatu tersebut ada ratusan sudut, waaah bisa tersesat banget2 tuh. :) Nah sudut2an ini memulai artikel saya terkait dengan menetapi kebenaran.

Demikian pula banyak orang yang meniti jalan kebenaran. Namun dikarenakan ia BERPARADIGMA bahwa kebenaran itu hanya sesuai persepsi/ penafsirannya sendiri, maka ia juga gampang tersesat. Sebab apa? Sebab dalam satu kalimat ada ribuan penafsiran.

Dan kita semua paling tidak pernah membaca dan atau mendengar bahwa syetan itu tidak akan pernah berhenti menyesatkan manusia. Gagal disatu sisi, maka syetan mencari sisi lainnya yakni kelemahan manusia tersebut. Betul ya?

Salah satu kelemahan manusia adalah ketika berjalan dalam jalan KEBENARAN kemudian MERASA BENAR. Karena merasa benar kemudian menyalahkan orang lain yang tidak satu persepsi/ satu penafsiran. Misalnya apa? Misalnya terlalu gampang didalam

> Menyesatkan orang lain
> Membid'ahkan orang lain
> Mengkafirkan orang lain
> Dan lain sebagainya

Merasa dirinya tidak melakukan Bid'ah kemudian secara tidak sadar membid'ahkan orang lain saja bisa bahaya. Apalagi terang-terangan menunjuk hidung ke orang lain, celakanya orang lain itu saudara seiman.

Ini bahaya. Bahkan bahaya laten yang membinasakan. Sebab apa? Sebab ketika hebat lalu merasa hebat, ketika benar lalu merasa benar sendiri dan ketika cerdas lalu merasa lebih baik dari orang lain itu sebenarnya sifat syetan itu sendiri. Coba renungkan kata2 saya barusan dengan lebih dalam.

Iblis itu mbahnya malaikat lho...?? Iblis itu dahulunya memang hebat, tinggi dan mulia. Namun apa?? Namun kemudian jatuh ke lembah terdalam sebab satu hal saja, yakni MERASA LEBIH HEBAT alias SOMBONG. Nah lo...!!

So...

Ayuk belajar, sama-sama belajar untuk menundukkan hati dan jiwa kita. Kalau dikaitkan dengan KEBENARAN maka ketahuilah tidak ada kebenaran absolut jika menyangkut penafsiran. Sebab sekali lagi dalam satu kalimat ada ribuan penafsiran.

Lalu kebenaran ABSOLUT itu bagaimana?

Kebenaran absolut tentu saja dari Tuhan Pencipta Alam Semesta. So, hayuuk belajar menetapi kebenaran dengan menjauhkan diri sifat merasa benar. Ayuk belajarlah menahan diri untuk menyesatkan orang lain lalu membenarkan diri sendiri.

Allah swt berfirman

Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk. (QS Al An'am: 117)

So what???

Belajar.. Teruuuuus saja belajar memperbaiki diri. Kalau diri ini sudah baik, sudah benar, sudah tulus, sudah bisa menahan jiwa dsb, maka PASTI result ke orang tersebut adalah dahsyat. Ntar orang juga ngelihat kok. Misalnya begini

"Si Fulan kok disukai orang ya? Si Fulan kok bisnisnya cepat sekali maju ya? Rahasianya apa ya?"

Ntar juga akan dicari orang untuk dimintai petunjuk dan wejangan. Naah saat inilah kita bisa berdakwah dengan jauh lebih mudah.

Jangan sedikit-sedikit Bid'ah, dikit2 sesat, dikit kafir dsb. Padahal kalau kita cek ke lingkungannya ternyata orang yang mengatakan demikian dibenci oleh warga sekitar. Ternyata orang tersebut tidak simpatik, miskin, kumal. dsb... Ini khan tidak bisa dijadikan contoh yang baik.

So....

Kesimpulannya adalah. CARi KACA. Sekali lagi cari kaca untuk bercermin. Bukan untuk memberikan cermin itu kepada orang lain namun untuk bercermin diri sendiri. Perbaiki apa yang salah, apa yang kurang betul dsb, sampai seiring waktu progressnya positif dan membaik. Sekali lagi orang melihat bukti, bukan claim... Understand...??? :)

Wallahu A'lam



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment