Jan 1, 2016

Merayakan Tahun Baru, Dimana Salahnya???

Hari ini sebagian besar isi khutbah Jum'at bertema tentang tahun baru. Tentang tasyabuh atau menyerupai sebuah kaum yang berbeda keyakinan dengan kita. Tul gak? Demikian juga khatib di Masjid dekat rumah ane, temanya juga demikian.
Image result for tahun baru



Kita semua setuju bahwa kita dilarang menyerupai suatu kaum, karena bisa dianggap sebagai kaum itu sendiri. Dalam hal ini temanya adalah larangan ikut merayakan tahun baru.

Artinya sebagai orang2 yang beriman kita PASTI beriman kepada apa kata Rosulullah saw berkenaan dengan tasyabuh itu tadi. Tidak ada penyangkalan. Namun kemudian masalahnya biasanya ada pada tafsir yang berbeda antar golongan. Pemahaman yang berbeda dan lain sebagainya.

Berkenaan dengan tasyabuh atau menyerupai suatu kaum biasanya kita tidak melihat skala global. Kita seperti kaca mata kuda didalam melihat sebuah permasalahan, oleh karena itu tidak memecahkan masalah yang sebenarnya kecuali hanya memperkeruh saja.

Kita melarang memperingati tahun baru, melarang membunyikan terompet dll. Celakanya kalender didalam rumah kita termasuk yang ceramah barangkali masih memakai/ merujuk kalender masehi, dimana tahun baru jatuh pada 1 januari 2016. Kemudian libur kerja pada hari minggu dan seterusnya. Penanggalan itu semua merujuk pada aktifitas kaum lain. Artinya suka tidak suka (dalam level tertentu) mmuuaayyoritas ummat (atau bahkan seluruhnya?) sudah tasyabuh, nyadar nggak bro. Cilaka 12 deh....

Mungkin banyak yang komplain. Nggak apa-apa, ini hanya pendapat ane yang sangat bisa salah. Kalau kita memakai penanggalan Masehi maka otomatis kita sadar atau tidak sadar mengikuti budaya ummat lain, yakni nasrani. Mereka menganggap hari libur, hari saat istirahat, hari dimana Tuhan istirahat setelah menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari dan seterusnya.

Seharusnya libur khan hari Jum'at, yakni saat jum'atan. Tahun baru jatuh pada 1 Muharram yakni awal Hijrahnya Nabi saw. Namun terpaksa karena kita mengikuti system, mengikuti budaya, peradaban dan lain sebagainya kita adobsi penanggalan Masehi.

Oleh karena itu yuk BERJUANG bareng-bareng untuk mengganti penanggalan seluruh DUNIA dengan penanggalan Hijriyah. Asalkan peradaban bisa kita ganti maka tahun baru otomatis juga mudah kita ganti. Kalau hal itu terjadi niscaya kita sudah tidak akan merayakan tahun baru masehi lagi dimana dianggap ikut merayakan kelahiran dewa Api, kecuali merayakan tahun baru Hijriyah, dimana memperingati awal Hijrahnya Nabi saw. Mudah2an tidak dianggap Bid'ah.. hehe

Syaratnya apa? Sekali lagi BERSATU.

Jangan salahkan tahun baru, tapi salahkan KITA yang susah sekali untuk BERSATU. Wallahu A'lam


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment