Oct 25, 2015

Sistem Riba Membelit Rakyat Bangsa Kita, Bagaimana Cara Menyikapinya?

Masalah riba memang masalah klasik. Banyak perdebatan disini. Dan berdebat bukanlah wilayah ane, karena memang saya nggak suka debat. Kalau diskusi ayo aja, namun kalau berdebat NO. Karna seringkali ketika ada perdebatan yang ada pengin menjadi fihak yang menang. Saling lempar hukum fikih, saling adu kepandaian dalam hapalan.

Misalnya perdebatan seru dibawah ini nih. Saya senang karen masing2 bisa menahan diri ketika adu argumen.


Nah ane hendak menulis tentang Riba dalam sudut pandang saya pribadi dimana tentu saja bisa salah. Kalau salah mohon maaf ya? Wallahu A'lam

Praktik Riba, pembuat sistem, pelaku, pemakai, perantara, penikmat dsb merupakan lingkaran sistem Riba. Oleh karena itu, khusus disini, di negeri atas angin ini, orang yang ingin lepas dari RIBA sebagaimana menyelam dalam air namun tidak menginginkan bajunya basah. Naaah...

Sistem Ekonomi baik perbankan, perpajakan, dan pendanaan untuk menopang berdirinya negeri atas angin ini nyaris tak bisa lepas dari sistem riba. Sistem adalah serangkaian aturan yang kadung membelit dan mencekik orang2 yang terlibat didalamnya tanpa memandang bulu.

So

> Semua yang punya ATM (khususnya konvensional) baik karyawan, buruh, bos, pemilik dan lingkarannya
> Seluruh rakyat yang secara langsung maupun tidak langsung menikmati subsidi negeri atas angin
> Para pengusaha atau pebisnis yang berinteraksi dengan pemerintah negeri atas angin
> Bahkan para tokoh agama yang masih pakai baju dan celana

Semua sudah dan sedang berdiri di kolam penuh riba. Kacau khan?? Bahkan orang yang sangat berhati2 sekalipun sebenarnya sedang berenang dalam kolam riba namun tidak disadarinya. Tambah kacau...
Yah mau gimana lagi? Kolam negeri atas angin berisi air riba sedangkan dalam kolam tersebut hidup berbagai jenis mahluk. Selama kolam tersebut masih berisi air maka selama itu pula lingkaran riba tak bisa terhindarkan.

> Yang sedang dan sudah berusaha menghindari riba itu bagus. Paling tidak 1 level lebih tinggi dari saya dan teman2 lain
> Yang acuh tak acuh juga bagus. Bagus buat di acuhkan hehe..

Kesimpulan: Selama sistem ekonomi sebuah negara belum menganut azas2 atau prinsip islami, maka selama itu pula rawan dengan sistem riba. Sistem apakah itu? Nggak banyak kok, yakni sistem merkantilis, kapitalis, sosialis dan komunis. Mudeng?? Klo belum mudeng PASS aja.

Oleh sebab itu perjuangan kita sebenarnya bukan mengindari riba, meskipun bagi teman2 yang yang mencoba menghindari itu buuuwwaagguusss... Namun seharusnya perjuangan kita adalah mengganti air dalam kolam atau merubah sistem. Kalau sistem sudah diganti maka lingkaran syetan itu otomatis juga akan terurai.

Adakah yang mengusung perjuangan seperti tersebut? Ada dan langsung digencet habis. Ada lagi gencet lagi.. Begitu seterusnya

Banyak2 istighfar dulu. Karena nyata memegang kemurnian akidah pada jaman ini sebagaimana memegang bara api. Maknanya adalah tidak ada orang yang bisa. Kalau ada orang yang mengaku bisa, coba aja bara api taruh di telapak tangan.. TIDAK ADA yang bisa kecuali ksatria baja hitam, sebab tangannya terbuat dari baja.. Hehe

Doain ane yah? Asli doain ane dan kita semua supaya bisa menjadi wasilah perubahan itu. Karena saat itu pasti datang, sebagaimana Janji Allah swt dalam firman_Nya.

Perubahan apa? Janji apa? Udah aminin aja dulu..

Amin..

NB

Ane ngajak gabung kawan2 ke komunitas Kampung Paytren. Yakni sebuah bisnis yang menggunakan sistem ekonomi kerakyatan. Perusahaannya milik rakyat dan keuntungannya juga untuk rakyat yang berinvestasi. Kalau mau gabung sama ane klik saja websitenya disini


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment