Oct 10, 2015

Meninggalkan Sesuatu Karena Allah, atau Meninggalkan Allah Karena Sesuatu?

Mana yang lebih kita pilih? Meninggalkan sesuatu karena Allah? Atau meninggalkan Allah karena sesuatu? Ayooo jawab yang jujur. Jawaban pertanyaan ini bisa jadi akan menyebabkan debat kusir. Daripada debat kusir mending baca nih..
  • Kalau enggan bangun malam untuk qiyamul lail berarti lebih suka meninggalkan Allah demi memeluk bantal guling
  • Jika enggan bangun subuh kemudian sholat berjamaah artinya lebih suka meninggalkan Allah demi ngabisin rasa kantuk.
  • Jika setelah mandi kemudian jam 7.15 pagi langsung berangkat kerja, berarti suka meninggalkan Allah demi pekerjaan
  • Kalau sudah dhuhur namun malah makan siang, berarti lebih suka meninggalkan Allah demi isi perut
  • Kalau sudah ashar namun masih saja miting, berarti lebih suka meninggalkan Allah demi target pekerjaan
  • Kalau sudah maghrib masih saja miting, berarti.....
  • Kalau sudah isya malah pulang kantor duluan dari pada sholat isya, berarti....
  • Kalau lebih milih nonton sinetron dari pada hadir di pengajian berarti.....
  • Kalau punya uang 100.000 lalu yang disedekahin cuman 2000 berati.....


Kalau dikulitin satu persatu maka kita semua akan ketahuan belangnya, ketahuan dustanya. Termasuk saya juga... Hehehe

Karena dalam banyak kasus kita lebih suka mengutamakan dunia dari pada berzikir kepada Allah. Kita seringkali menempatkan Allah swt hanya dalam posisi mentok atau terjepit saja. Kalau mentoknya sudah diilangin kumat lagi.

Oleh karena itu ya wajar saja kalau hidup kita rasanya kurang terus, susah terus, miskin terus. Karena kita suka meninggalkan Allah demi sesuatu yang remeh temeh. Naaah ketahuan khan, mengapa hidup anda susah??

Jadi nggak usah berdebat deh. Nggak usah kebanyakan alasan,

"Gimana mau dhuha ntar kalau saya telat ngantor bisa dipecat..!"
"Gimana mau subuhan berjamaah, orang tadi malam ronda dan baru bisa tidur jam 3 dini hari"
"Gimana mau sedekah banyak, orang buat makan aja susah!"

 "Gimana......" STOP...!!

Khan sudah dibilang nggak usah kebanyakan alasan. Mending semuanya introspeksi diri aja sinambi terus belajar. Kalau alasan itu dipikirkan ntar syetan bisa masuk dan bisik2 membenarkan alasan anda. "Iya kamu benar kok? Alasan kamu masuk akal. Nggak dhuha, nggak sedekah, nggak berjamaah nggak apa2 kok. Allah pasti mengampuni" Gitu kurang lebih kata Syetan.

Untuk bisa dekat dengan Allah swt memang butuh niat kuat. Untuk lebih memilih meninggalkan sesuatu karena Allah memang butuh perjuangan. Karena di etape inilah tentara Syetan berupaya sekuat tenaga mengagalkan niat kita dan memberikan perasaan was-was. Celakanya perasaan was-was itu seringkali masuk akal banget..

Syetan: "Apaaaa..!!! Mau sedekah emas??? Ntar ibu2 arisan melihat ente datang gak pake gelang bisa diketawain lho?

Kita: "Nggak.. ane mau sedekah emas ini. Insya Allah diganti berlipat ganda"

Syetan: "Aaaah elo.. Korban UYM ya? Mana ada 10-1 = 19. Itungan dari mana? Anak SD aja tahu 10-1=9"

Kita: "Mmm ane mau nyoba sedekah ekstrim kok, biar balasannya juga ekstrim"

Syetan: "Ya udah coba aja, dijamin nyesel. Lagian anak ente lagi nangis minta susu tuh. Mending jual aja emasnya buat kebutuhan"

Kita: "Hadeeeh gimanaaa yaaa?? Jadi bingung.. Ya udah deh sedekahnya ntar aja"

Kayak gini nih perang antara manusia VS syetan yang berlangsung dari zaman Nabi Adam as sampai sekarang dan sampai hari kiamat kelak. Sayangnya kita seringkali kalah ketika berperang melawan syetan, karena belum faham.

Coba baca QS An Falaq dan QS An Naas. Salah satu bunyi QS An Naas ayat 5, adalah tentang sosok yang memberikan was-was dalam dada kita. "Alladzii yuwaswisu fii shuduuri nnaas"

Ketahuilah was-was itu dari syetan, dan dari manusia yang menjadi sahabat syetan. Yakni manusia yang suka berpikir negatif karena kurang keimanan. Manusia yang mengajak manusia lainnya supaya menjadi the looser dan tidak percaya kepada janji-janji Allah swt.

Nah sehubungan sekarang udah faham, maka jangan sampai jadi pihak yang kalah. Jangan sampai syetan beneran dan syetan manusia mempengaruhi keimanan kita semua. Lempengin aja didalam berjuang dan memilih mendahulukan Allah dari apapun. Abaikan segala was-was yang masuk dalam dada kita, lalu amati proses yang terjadi.

Ketika seiring proses kita merasakan sendiri bahwa janji Allah adalah benar (dan memang janji Allah pasti benar), jadikan itu motivasi untuk lebih giat didalam mendahulukan Allah untuk hal-hal lainnya.

Wallahu A'lam

NB

Pembahasan kayak gini ada dalam pembelajaran magis7. Yakni panduan 77 hari manajemen hati. Sensasional banget2 deh. Klik disini untuk mulai belajar hari ini.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment