Oct 11, 2015

Hikmah Kehidupan Dunia dan Sampah Dunia

Ada sebuah hadist yang menyentak kita semua. Hadist yang saya copas dari inspirasi SMI (Selamat Morning Indonesia) asuhan Ustad Yusuf Mansur, yang pointnya adalah bahwa dunia ini sebenarnya remeh temeh alias tidak ada harganya. Seandainya ada harganya meskipun seimprit, tentu tidak akan disisakan untuk orang2 yang melawan atau ingkar kepada Allah swt.

Lengkapnya bunyi hadist sbb,

“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi).


Jadi dihadapan Allah swt, dunia dan segala perhiasannya, segala kekayaannya, dan apapun yang ada didalamnya itu tidak lebih baik dari sekedar sayap nyamuk. Dunia itu nggak ada harganya oleh karena itu di kasih-kasih aja sama Allah swt kepada siapapun baik yang minta ataupun yang nggak minta.

Oleh karena itu banyak venomena real dilapangan sbb,
  • Orang2 kafir malah diberikan kekayaan dan kelimpahan luar biasa
  • Orang2 musrik juga demikian
  • Orang yang jarang sholat seringkali juga diberikan kekayaan lebih banyak daripada yang sholat
  • Orang yang jahat, zalim dan lalim malah diberikan kekuasaan

Hal kayak diatas mah udah sangat biasa, dimana kadang memicu kecemburuan orang2 yang imannya masih lemah kayak kita2 ini. Namun setelah membaca artikel ini Insya Allah keimanan kita akan Yaziid atau bertambah.

Simak apa kata UYM dalam artikel SMI berikut ini,
Disisi Allah, dunia ini sampah. Jadi kalau ada yg mau minta, nyari, ya dibagi. Diberi. Jika ada yg mau beli sampah, tambah dikasih ga? Diminta aja dikasih apalagi bayar. Sedekah itu bagaikan membeli sampah. 

Btw jika kita bicara sampah beneran, sobat mau ambil sampah dirumah ane? Atau kalau mau lebih banyak bisa pergi ke Bantar Gebang, silahkan ambil sebanyak-banyaknya gratis. Tentu saja kita nggak mau. Lha buat apa ambil sampah yang baunya minta ampun? Buat apa coba?

Lalu kenapa ketika ada orang zalim yang Allah limpahkan kepadanya tumpukan sampah, lalu kita sebagai orang mukmin merasa cemburu? Mau dikasih juga tumpukan sampah? So, kita paham sekarang. Marilah sama2 belajar menyamakan persepsi dan prasangka kita dengan apa yang sudah Allah swt katakan. Kalau sudah sefrekuensi maka sampah ya tetap sampah.

Kalau dunia dan segala perhiasannya adalah sampah atau sesuatu yang remeh temeh nggak ada gunanya, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana supaya dunia ga jadi sampah?

Mau tahu jawabannya? Mau tahu azzaa apa mau tahu banget? Hehehe

Dunia itu bagai tumpukan sampah yang tiada guna. Mau tidak mau kita akan menemui sampah ini dimana-mana bahkan dirumah sendiri. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Ada 3 tipe orang didalam memaknai sampah ini
  1. Tipe orang yang menjauhi sampah sejauh-jauhnya. Padahal semakin ia menjauhi maka semakin terlihat adanya sampah2 disekitarnya. Maksud hati ingin bersih dari lumpur apa daya seluruh tubuhnya dikotori oleh lumpur. Maksud hati ingin beribadah secara totalitas dan melupakan dunia, apa daya dalam beribadah itu pasti butuh dunia. Memangnya pakaian, makanan, produk2 yang dipakai bukan produk dunia?
  2. Tipe orang yang mengeruk sampah dan memakannya dengan rakus. Dialah orang zalim yang hanya menghendaki kehidupan dunia.
  3. Tipe orang cerdas yang memanfaatkan sampah demi sebuah tujuan

Nah kita akan ngebahas tipikal orang cerdas nomor 3, yakni dia yang memanfaatkan sampah untuk sebuah tujuan. Jadi orang cerdas ini hendak mengolah dan atau merecyle/ mendaur ulang sampah tersebut menjadi sesuatu yang lebih baik.

Dan untuk mendaur ulang sampah membutuhkan ilmu, skill dan teknologi. Oleh karenanya ia berkomitmen untuk belajar dan terus belajar, khususnya belajar dari DIA Yang mengirimkan sampah dunia tersebut. Belajar mengelola sampah ini adalah bagian dari misi manusia di dunia yakni "beribadah". Dan makna beribadah itu khan luas banget. Pada intinya adalah ikhlas menjadi hamba atau murid untuk kemudian belajar kepada sang guru. Dalam hal ini belajar dalam bingkai ibadah kepada Allah swt.

Ikhlas belajar atau menghamba hanya kepada Allah swt itulah iman. Sedangkan aplikasi ilmu yang didapatkan dari iman disebut dengan amal shalih. Dan result dari amal salih inilah yang akan menjadi tabungan abadi kita kelak.

Then....!

Salah satu tujuan manusia dikirimkan ke alam dunia selain beribadah adalah untuk mengolah sampah tersebut kok. Pernah dengar bahwa manusia itu dikirimkan ke alam dunia sebagai khalifah dimuka bumi dan rahmat semesta alam?

Atau bahasa kita2nya begini deh, "Nih ada sampah, silahkan diolah sebaik-baiknya, setelah jadi barang yang lebih berguna, manfaatkan seluas-luasnya untuk sesama". Jadi bahasa kita2 kurang lebih begitu, yakni kita diminta mengelola dan mengolah sampah menjadi sesuatu yang lebih berguna buat sesama. Sekali lagi mengolahnya dengan ilmu, skill, teknologi dsb dimana semuanya dibingkai dalam sebuah kata yakni, "ibadah"

Kalau sampahnya kurang, bisa cari lagi. Atau silahkan beli dengan sedekah. Masak sih kita beli sampah nggak dikasih? Pasti dikasih berlipat ganda sampai meluber-luber. Yakiiinnn...!! Yang jadi masalah seringkali sampahnya belum nyampai kitanya teriak-teriak, "Mana sampahnyaaaa...!!". Giliran sudah sampai bukannya diolah malah langsung dimakan tuh sampah..Ini dikarenakan kitanya yang kurang ilmu, kurang pemahaman.

Akibatnya apa kalau kita makan sampah tanpa diolah? Tentu penyakit demi penyakit akan menjangkiti tubuh kita, yang bisa menjadi wasilah kebinasaan. Oleh karena itu kadangkala sampah dunia yang jumlahnya ada 100 tronton yang kita minta melalui sedekah sering dilambatkan pengirimannya. Ini dimaksudkan agar seiring waktu kita paham dulu bahwa yang dikirim adalah benar-benar sampah yang mana kudu diolah sedemikian rupa demi manfaat sesama dan semesta alam.

Mulai sekarang sama-sama belajar. Karena saya juga masih belajar kok. Belajar memaknai dunia ini dengan bijak. Belajar memahami bahwa dunia itu memang hanya perhiasan semu, permainan, senda gurau, dan manifestasi sampah lainnya. Oleh karenanya sekali lagi olah manifestasi sampah2 tersebut dengan sebaik-baiknya demi tujuan jangka panjang yaitu jannah. Dan jannah itulah kehidupan kita sesungguhnya.

Wallahu A'lam

NB

Hikmah2 yang lebih dalam lainnya ada dalam panduan manajemen hati, silahkan belajar 77 hari mengelola jiwa dalam magis7, klik disini



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment