Sep 6, 2015

Tips Berdebat dan Berargumen dengan Orang Jahil/ Bodoh

Imam Syafi'i kalau tidak salah pernah mengatakan begini kurang lebihnya, "Saya bisa berdebat dengan 10 orang ahli ilmu, namun saya tidak bisa berdebat dengan 1 orang saja yang jahil". Maksudnya apa? Kok berdebat dengan orang pintar, pakar, ahli dan semacamnya malah berani menghadapi puluhan orang, sementara berhadapan untuk adu argumen dengan satu orang saja yang jahil tidak bisa?

Mungkin begini jawabannya,

Orang pintar, ahli atau pakar tentu saja menguasai ilmu berdasarkan kepakarannya. Mereka menggunakan kecerdasan dan logika positif didalam menilai sesuatu. Namun ketika logika dan teori2 yang diberikan ternyata bertentangan dengan fakta terbaru maka orang ahli tersebut berkemungkinan sangat besar untuk menerima fakta terbaru.

Why? Karena memang selama ini mereka memakai pemikiran, akal dan logika positif didalam menilai sesuatu. Oleh karena itu ketika ada sebuah fakta baru yang bertentangan dengan keyakinan lamanya, maka ia akan meninggalkan teori lama untuk menuju kepada fakta baru yang tak terbantahkan. Begitu kurang lebih

Beda dengan orang jahil..

Orang jahil itu seumpama orang bodoh yang tiada ilmu. Atau punya ilmu namun sangat sedikit, sehingga menjadi penyebab mereka berbicara segala sesuatu tanpa ilmu. Kalau tanpa ilmu lalu menggunakan apa ketika bicara?

Biasanya mereka memakai perasaan, katanya-katanya, dan keyakinan-keyakinannya yang seringkali salah fatal karena tidak menggunakan ilmu itu tadi. Ngomongnya cenderung ngawur, nabrak sana nabrak sini nggak keruan.

Saya menulis artikel ini dan juga Insya Allah artikel2 lainnya biasanya setelah mengalami sebuah peristiwa. Dan kebiasaan saya ketika ada peristiwa yang menarik untuk ditulis lalu saya tulis, plus dengan hikmah2nya.

Jadi memang bisa dikatakan percuma saja berbicara dengan orang jahil alias bodoh. Mereka biasanya sangat kuat memegang keyakinannya yang sebenarnya salah fatal. Kalaupun sudah hampir kalah didalam argumentasi, lalu mereka berbicara ngawur. Pada intinya mereka nggak mau kalah dengan menyodorkan bahasa-bahasa orang yang tidak berilmu.

Biasanya kata-katanya dibuka dengan statement ini,
  • Menurut saya....
  • Menurut perasaan saya...
  • Oh itu tidak benar, karena seharusnya khan.... (ujung2nya argumen yang jahil)
  • Logikanya.... (padahal kalau dilihat dari sisi logika, statement berikutnya tidak logis)
  • Saya tahu, karena sudah belajar... (Padahal belajar dari perasaannya sendiri)

Kurang lebih begitu...

Oleh karena itu lebih baik tidak usah diladenin ketika berbicara dengan orang jahil. Nggak akan ada gunanya, malah akan memperkeruh suasana. Orang jahil itu tidak akan pernah mau salah dan mau ngalah, percaya deh sama ane.. hehehe

Mau dibilang 1 + 1 = 2 tetap akan ngeyel, karena keyakinan ngawurnya 1 + 1 = 3. Mau dibilang gula itu manis karena mengandung glukosa, tetap saja ngeyel. Mungkin mengatakan gula itu manis karena sejarahnya pas pembuatan gula ada nyi roro kidul yang sedang mesem. Ngawur, takhayul, khurafat, mistis dan semacamnya menjadi kesenangannya.

Lalu bagaimana sikap kita?

Senyum aja ketika sudah merembet kepada pembicaraan yang membutuhkan ilmu, namun jangan diladenin. Diiyain saja biar cepet selesai. Namun bukan berarti kita setuju dengannya, tapi bentuk penghargaan saja. Kemudian tunjukkan bahwa kita adalah golongan orang yang berpikir dan berbuat dengan ilmu. Karena seiring proses pasti akan berbeda resultnya.

Result apa?

Result orang yang berbicara dan bertindak dengan ilmu Insya Allah akan mempunyai nasib baik kedepan, sementara orang jahil akan berkubang kepada kejahilannya terus menerus. Harapannya ketika melihat perkembangan jiwa, kharakter, keuangan, dan lain2 yang terjadi pada diri kita kemudian mereka yakni orang jahil berkenan untuk sedikit demi sedikit menggeser keyakinan jahilnya.

Semua harus dalam bingkai dakwah dan ketulusan. Jangan sekali-kali anda menganggap diri kita lebih tinggi dari orang jahil kemudian merendahkannya secara tidak sadar. Slow aja...

Kalau kita merasa benar, merasa lebih tinggi, merasa ahli ilmu, merasa hebat, merasa tidak ada celahnya, merasa benar hujjahnya dsb maka hakikatnya kita juga termasuk orang jahil. Naah.. Kena lagi deh.. hehe

N/B

Pembahasan kejiwaan seperti ini ada dalam panduan magis7. Silahkan bagi yang berkenan belajar hikmah2 seperti ini pesan panduannya. Caranya klik disini lalu klik menu order



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment