Aug 5, 2015

Begini Caranya Menghadapi Ketidakpastian dalam Hidup

Menurut saya... Ini menurut saya loh? Sobat boleh beda pendapat tidak ada masalah. Menurut saya orang yang beriman (yakin kepada Allah swt) adalah tipikal orang yang berani menghadapi ketidakpastian dengan selalu menyandarkan diri kepada ketentuan dan takdir Tuhan. Mereka berani melakukannya, kenapa? Karena percaya bahwa dalam ketidakpastian yang tak terhitung jumlahnya, ada 1 kepastian sebagai sebuah janji Tuhan Semesta Alam

Image result for ketidakpastian dalam hidup

Sampai disini mungkin sobat belum begitu paham. Tidak apa-apa karena akan saya lanjutkan kok. Namun sebelumnya saya hanya ingin menyampaikan bahwa artikel/ ulasan saya ini penting, mohon baca dengan baik-baik. Klo perlu hentikan kesibukan anda untuk sementara waktu.

Hidup ini pasti apa nggak? Jelas nggak pasti meskipun kita sudah mempersiapkan masa depan dengan sebaik-baiknya. Ada parameter yang tidak terhitung jumlahnya, dimana sebagian buesar sudah bukan wilayah kontrol kita lagi. Kita jelas tidak akan mampu mengontrol semuanya kecuali hanya secuil.

Ketidak pastian kehidupan ini akan dihadapi oleh orang yang beriman dengan jauh lebih tegar dan tangguh meskipun ada badai. Meskipun ada dinamika dan suka duka bahkan mengharu biru sekalipun. Mengapa? Karena orang beriman yakin akan result atau hasil akhir. Mengapa yakin? Karena itu semuanya ada dalam bingkai janji Tuhan Sang Pencipta. Kalau bahasa saya adalah sunnatullah.

Sementara orang yang tidak beriman (tidak yakin kepada Tuhan) atau keyakinannya minim, maka ia akan menghadapi ketidakpastian hidup ini dengan dipenuhi oleh rasa cemas, was-was, takut dsb. Sedikit saja ujian hidup yang dialaminya akan membuatnya stress. Mengapa? Karena ia sudah membayangkan kesulitan-kesulitan didepan dan dimasa depan, dimana kesulitan itu semakin lama akan nampak semakin berat.

Sampai disini semoga mulai kebuka...

Jadi sama saja antara orang beriman dan tidak beriman, semuanya mengalami yang namanya dinamika hidup. Kadang diatas kadang pula dibawah. Orang beriman akan jauh lebih enjoy didalam menjalani kehidupan seraya mengatakan,
  • "Ah ini cuman sementara sebelum pertolongan Tuhan datang"
  • "Ah ini cuman ujian untuk menguji kadar keimanan saya"
  • "Alhamdulillah dikasih ujian, semoga bisa menggugurkan dosa"
  • "Asyik banget ujian ini ya? Bikin goncang sih, tetapi pasti momentum kemudahan itu segera datang"
  • "Hutang nambah, usaha bangkrut, uang habis.. Alhamdulillah, sebentar lagi dilentingkan"

Lain halnya dengan respon orang2 yang imannya tipis, atau malah sebenarnya tidak beriman. Apa responnya menghadapi ketidakpastian hidup?
  • "Ampuuuun hutang kok gak lunas2, harus gimana lagi?"
  • "Hidup kok susah begini, Tuhan apa salah dan dosaku?"
  • "Gimana mau ngambil resiko ini, orang saat ini saja hidup ane sedang susah?"
  • "Gajian kok mampir doang, sampai kapan hidup saya bisa berubah?"
  • "Pengin usaha, nggak ada modal, nggak ada skill, hadeeeh"

Begitulah kurang lebih respon mereka yang imannya tipis, dimana mudah sekali menyerah, mengeluh, dan kalah. Mengapa demikian? Catet ini.. Karena yang mereka fokuskan adalah keterbatasan diri atau kemampuan diri. Padahal sehebat apapun manusia tidak mungkin bisa menembus bumi.

Lain halnya dengan orang yang beriman. Sementok apapun ia tetap yakin ada saatnya perubahan positif itu datang. Mengapa? Karena ia sudah sukses menggeser paradigmanya bahwa kekuatan diri itu terbatas. Oleh karenanya ia fokus kepada Dzat dengan Kekuatan Tiada Batas.

Kita kembali kepada pembahasan awal.. Karena kalau saya ikutin alur ini maka penjelasannya bisa puajaaanng.

Kita akan fokus kepada ketidak pastian dalam hidup sebagai sebuah hal yang pasti adanya. Kita tidak akan tahu masa depan, dimulai dari detik, menit, jam, hari, tahun dan sepuluh tahun kedepan atau lebih sampai tak terhingga. Sekali lagi ada jutaan parameter diluar kontrol kita. Misalnya
  • Kita tidak tahu besok menu pastinya apa
  • Kita tidak tahu lulus sekolah atau tidak
  • Kita tidak akan pernah tahu teman kita setahun mendatang
  • Kita tidak akan tahu besok hujan atau tidak
  • Kita tidak akan tahu masa depannya cerah atau gelap
  • Kita tidak tahu pasangan kita dimasa depan
  • Kita tidak tahu berapa jumlah anak kita nantinya
  • Kita tidak akan tahu rezeki kita esok hari
  • Kita tidak akan tahu hidup miskin atau hidup kaya

Dan jutaan parameter diluar kontrol kita lainnya yang tidak mungkin bisa saya sebutkan satu persatu.

Orang beriman akan menghadapi ketidak pastian dengan keyakinan bahwa hidup memang tidak pasti. Sementara orang yang imannya tipis sangat takut dengan ketidak pastian. "Jangan-jangan entar begini dan begitu". Oleh karenanya orang yang imannya tipis menghendaki kepastian.

Misalnya,
  • Mereka akan rela bekerja menjadi pelayan meskipun sering dihina majikan
  • Mereka rela bekerja menjadi buruh rendahan, meskipun bayarannya minim
  • Mereka rela diperbudak oleh waktu
  • Mereka rela diperbudak oleh sistem buatan manusia

Semuanya dikarenakan mereka semua menginginkan kepastian, meskipun kepastian itu semakin memperberat hidup mereka. Padahal kita semua mahfum, bahwa kepastian diatas adalah kepastian semu, dimana akan ada saatnya kepastian semu tersebut akan mendorongnya ke lembah yang paling dalam.

Contoh,

Karena menginginkan kepastian, masih banyak orang2 yang rela bekerja menjadi buruh dengan bayaran rendah. Puluhan tahun bahkan sampai pensiun ia tetap bertahan dalam pekerjaan tersebut, sehingga sampai masa tuanya. Pada akhirnya setelah masa pensiun tiba ia hanya mengandalkan uang pesangon yang hanya cukup untuk satu dua tahun saja. Selepas itu mampir yang namanya penyakit post power sindrome akut. Yakni merasa menjadi sampah masyarakat yang tiada guna. Masa tuanya berakhir dengan tragis dan mengerikan.

"Gimana mau pindah pekerjaan Mas, secara umur saya sudah kepala 3. Mana ada pabrik yang mau nerima sementara skill juga nggak mendukung?"

Saya sudah pengalaman menerima pertanyaan semisal diatas. Jawabannya satu, anda kurang iman. Cas lagi sehingga keluhan diatas tidak keluar.

Kesimpulan

 Image result for ketidakpastian dalam hidup

Saya sudah terbiasa menulis, jadi kalau tidak dihentikan akan ngaliiir aja terus. Ditambah semua tulisan khan berdasarkan pengalaman pribadi dan pengamatan orang lain. Makanya satu tema yang dibahas akan bisa bercabang kemana-mana.

Kesimpulannya gini aja. Kita manusia, sebagai sebuah mahluk yang memang ditakdirkan untuk menerima ujian hidup. Makanya banyak kejadian2 yang menguji kita sampai sebatas mana sih kita mampu bertahan?

Kita manusia tentu menghendaki kesenangan, kebahagiaan, kemuliaan, derajad dll. Ini software default dalam jiwa. Kalau nggak ada kecondongan seperti diatas maka tidak akan ada manusia yang berharap surga dan segala manifestasinya, kemudian menghindari neraka dan segala manifestasinya dunia akherat.

Ini software default lho? Jadi jangan melihat sinis orang yang memburu dunia terlepas caranya baik atau buruk. Malahan orang yang memburu dunia artinya software defaultnya sedang dalam proses install. Yang jadi masalah adalah orang yang seolah-olah tidak butuh uang, kemuliaan, derajad dll, ini perlu dipertanyakan. Jangan2 software defaultnya sudah kedelete.

Makanya kemdian Tuhan memberikan jalan yang benar, dan menjamin adanya pencapaian keinginan manusia semuanya. Dan jalan Tuhan berbeda dengan jalan syetan. Jalan syetan itu menipu, sementara jalan Tuhan adalah jaminan.

Tuh khan? kesimpulan kok panjang banget malahan diluar tema tentang ketidakpastian dalam hidup. hehe

Gini aja deh, mari kita belajar apa itu iman, sampai kena feel nya. Iman itu ada pada rukun iman, satu diantaranya adalah percaya dan yakin kepada Allah swt. Pelajari itu sampai paham makna dan substansinya sehingga feel atau rasanya jelas dalam dada. Setelah itu akan terasa juga conneting atau merasa terhubung dengan Sang Pencipta.

Kalau sudah begitu maka persentasi diri akan mengecil, karena sedang berproses untuk melihat ke Besar an_Nya. Diri menjadi zero atau fana, atau terbatas sementara DIA Tiada Batas. Kalau sudah begitu apapun gelombang kehidupan yang dihadapinya akan ia hadapi dengan lebih tangguh, karena yakin ia sedang bersama Yang Maha Kuasa.

Kemudian ia akan menghadapi ketidakpastian dalam hidup dengan tegar. Malah ia mencari dan mencari ketidakpastian itu kemudian menghadapinya, bukannya merasa nyaman dalam zona pasti yang semu. Ia akan tertantang untuk mencari ketidakpastian kemudian menyulapnya menjadi seperti apa-apa yang diimpikan dan didoakan. Karena apa? Karena dalam jutaan peluang ketidakpastian pasti ada 1 yang dicari selama ini. Dan ia meyakini akan menemukannya karena merasa sudah dibimbing oleh cahaya Tuhan Semesta Alam.

Faktanya untuk benar-benar menerapkan "keberanian karena iman" ini tidak mudah. Bahkan sangat tidak mudah. Kita suka ngeyel dengan alasan ini dan itu yang menjadi wasilah beratnya hidup yang harus dijalani.

Oleh karenanya sekali lagi belajar dan terus belajar. Blog ini adalah sarana pembelajaran saya juga, semoga menjadi pembelajaran pula buat anda.

Mudeng? Kalau belum mudeng baca lagi.. hehehe

N/B:

Atau gini aja deh. Gabung dalam member rahasia kunci sukses, untuk media pembelajaran tentang hikmah rezeki dan kehidupan. Klik aja disini

Atau mau belajar lebih dalam tentang software dafault tadi. Yakni bagaimana caranya kita bisa atau mampu bertahan dalam menghadapi dinamika hidup dengan cara manajemen jiwa. Gabung aja dalam magis7, caranya klik disini



Artikel Terkait



1 comment:

  1. Assalamu'alaikum wr wb
    setelah membaca dan menghayat artikel diatas Alhamdulillah hati saya semakin mantap,kesmpulan saya bahwa orang yg manya lemah menganggap keterpurukan adala ujiian sementara orang yg tidak beriman menganggap keterpurukan adaah bencana namun bag orang yg beriman dan tagwa kepada Allah keterpurukan danggap sebagai perwujutan kasih Allah kepada kita..betapa tidak dari keterpurukan itulah kita bisa belajar lebih baik insya Allah dibarengi dengan iman dan Tagwa kita akan bisa membangun kehidupan yg lebih baik,itula cara Allah mendidik kita untuk menjadi insan yg lebih baik,mengajari kita untuk menjadi pribadi yg lebih tangguh. Wasalamu'alaikum wr wb

    ReplyDelete