Jul 19, 2015

Seputar Kerusuhan dan Pembakaran Masjid di Tolikora Papua Saat Sholat Ied

Pertama..Diberitakan oleh berbagai media tentang pembakaran masjid Tolikora Papua, termasuk metrotvnews.com dengan headline yang kurang lebih judulnya saat imam takbir pertama, sekelompok orang datang..., dst..., kemudian berubah menjadi amuk massa terjadi di tolikora. Kenapa bisa berubah? Ah itu sudah biasa :)

Metrotvnews.com, Tolikara: Kekacauan terjadi pada pelaksanaan salat Idul Fitri 1436 Hijriah di Kabupaten Tolikara, Papua. Warga setempat jadi ketakutan.

Sekelompok orang melempari dan membakar rumah dan kios di Tolikara, Papua, 17 Juli 2015, Metrotv/ Ricardo Hutahaean

Peristiwa itu terjadi sekira pukul 07.00 WIT, Jumat 17 Juli. Umat Islam tengah melaksanakan salat Id di halaman Koramil 1702 / JWY. Beberapa orang tibs-tiba datang berteriak.

Jemaah bubar dan menyelamatkan diri ke markas Koramil. Sejam kemudian, orang-orang itu melempar batu dan membakar bangunan  di sekitar lokasi kejadian. Enam rumah dan sebelas kios pun menjadi sasaran amukan orang-orang itu.

Hingga berita ini dimuat, polisi dan TNI berjaga-jaga di sekitar lokasi kejadian. Petugas gabungan mengantisipasi kerusuhan berlanjut. Alasan pengrusakan dan pembakaran tersebut pun belum diketahui. Belum ada pula keterangan resmi dari aparat setempat.

Kedua: Lalu setelah berita ini tersebar dimana-mana dan banyak yang berasumsi kemudian Pak JK mengatakan bahwa pembakaran Masjid di Tolikora Papua disebabkan masalah speaker. Statement ini membuat banyak rakyat yang geram karena faktanya tidak demikian. "Ada-ada saja Pak JK"

 JK: Kerusuhan Antaragama di Tolikara Disebabkan Speaker

Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai penyebab kerusuhan yang terjadi di Kabupaten Tolikara, Papua pada Jumat (17/7) pagi tadi disebabkan oleh pengeras suara (speaker).

JK menjelaskan, di daerah tersebut ada dua acara yang letaknya berdekatan yang digelar dari dua umat agama berbeda, Islam dan Kristen Protestan.

"Ada acara Idul Fitri, ada pertemuan pemuka masyarakat gereja. Memang asal-muasal soal speaker itu," ujar JK dalam konferensi pers di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat.

Ia menuturkan, masyarakat seharusnya dapat mengetahui bahwa ada dua kepentingan yang terjadi bersamaan. "Satu Idul Fitri, satu karena speaker, saling bertabrakan. Mestinya kedua-duanya menahan diri. Masyarakat yang punya acara keagamaan lain harus memahami," kata JK.

Ketiga. Setelah diusut ternyata bukan faktor speaker

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Wakil Presiden Jusuf Kalla memastika peristiwa penyerangan jamaah salat Idul Fitri dan pembakaran masjid serta kios-kios di Tolikara, Papua, bukan karena permasalahan pengunaan pengeras suara atau speaker.

JK menjelaskan di Tolikara memang terdapat peraturan daerah (Perda) tentang penggunaan speaker di rumah atau di tempat ibadah. Namun pihak muslim di Tolikara telah mendapatkan ijin dari aparat keamanan maupun pemerintah daerah untuk menggunakan speaker selama Shalat Idul Fitri.

Tetapi karena ada acara bersamaan di Gereja, maka jemaat gereja meminta agar pemerintah daerah menegakan Perda tersebut dan melarang umat muslim menggunakan speaker meski saat salat Idul Fitri.

"Jadi mereka menggunakan alasan speaker, tapi berkembang seperti itu," ujar JK, Ahad (19/7).

Keempat: Sudah menjadi kebiasaan setelah terjadinya gesekan antar umat beragama ini kemudian ramai pro dan kontra di media khususnya media sosial. Silahkan buka facebook anda maka akan ada keramaian disana.

Kelima: Nasehat dari Ustadz Papua Ustadz Fadlan yang menyejukkan, sumber http://www.suaranews.com/2015/07/akhirnya-dai-asal-papua-ini-angkat.html



Ulama dan Da’i asal Papua Ustadz Fadlan Garamatan menghimbau kepada umat Islam untuk tidak tersulut emosi terhadap kejadian pembakaran masjid dan penyerangan saat Sholat Ied diwilayah Tolikara Papua pada Jum’at 1 Syawal 1436 H (17/7/2015).

“Umat Islam hendaknya menghadapi kasus pembakaran masjid ini dengan hati yang dingin, mereka yang membakar masjid karena ketidak tahuannya tentang Islam,” ujar Ustadz Fadlan Garamatan sebagaimana dikutip dari Page Facebook ODOJ.

Ustadz Fadlan sangat yakin orang aseli Papua baik-baik dan toleran, namun provokasi dari misionaris yang membuat tragedi pembakaran masjid terjadi.


"Biangkeroknya adalah misionaris dari luar negeri dan dlm negeri," ujar peraih perhargaan Tokoh Perubahan versi Republika 2011 ini melalui akun twitternya @fadlannuuwaar (18/7).

Hikmah:

Jelas sekali masjid terbakar plus puluhan ruko. Jelas sekali yang dirugikan adalah Muslim..
Mari kita lihat berita apa lagi yang akan mengikuti kasus ini

> Apakah hanya sekelompok massa, bukan dari Jemaat Gereja?
> Apakah memang karena faktor TOA?
> Apakah yang menjadi korban justru dari pihak perusuh (Gereja?)
> Apakah karena muslim tidak mematuhi perjanjian?
> Apakah karena dipicu oleh muslim itu sendiri?


Faktanya muslim yang dirugikan, namun bisa saja kemudian beritanya berubah. Semuanya GARA-GARA MUSLIM. Begitulah hebatnya propaganda media.

Kalau memang benar seperti itu, maka itu sudah biasa... Dimana-mana yang salah, yang radikal, yang teroris, yang ekstrimis, yang layak ditekan, di sudutkan bahkan dibantai hanya 1, yaitu MUSLIM. Selalu saja begitu... 

Ujung-ujungnya muslim diminta menahan diri, menjaga toleransi dan hubungan baik. Seakan-akan perbuatan pembakaran masjid disebabkan karena salah paham antara keduanya. Muslim salah, pihak perusuh (kristen) juga sedikit salah.

Lalu berita ini akan menghilang. Lain cerita kalau pelakunya adalah oknum beragama islam, maka anda bisa menebak apa yang akan menjadi headline di media.

Semoga bisa membuka mata...

Apa yang harus dilakukan?

Daripada ramai menghujat mending salurkan bantuan minimal doa. Mau membela seperti apapun tetap saja diminta menahan diri.

Nah buat mitra paytren Ustadz Yusuf Mansur ada cara yang cantik didalam berbagi simpati dan empati yakni memakai aplikasi sedekah paytren



Syahdan....
Nasib tragis Masjid Tolikora Papua yang memilukan
Terbakar habis, oleh ulah tangan-tangan penuh hasad dan kebencian

Mari...
Kita bangun kembali puing rumah Tuhan yang berserakan
Dengan kedahsyatan kekuatan berjamaah atau persatuan
Dilengkapi dengan Lembaga Tahfidz Qur'an
Dan Pesantren Terintegrasi Insya Allah, jalan


Gunakan aplikasimu untuk membuktikan diri bahwa kita masih peduli
Sekecil apapun dihargai, jika besar akan lebih memberi arti



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment