Jun 9, 2015

DOA meminta dunia VS Ibadah, Bolehkah?

Saya mengamati, sekali lagi cuman ngamatin bukan mendalil. Karena urusan dalil bukan wilayah sayang yang al fakir ilmu ini. Namun dari hasil pengamatan itulah kemudian saya mendapatkan sesuatu yang besar. Yakni hikmah dan pencerahan, paling tidak menurut versi saya sendiri. :)

Yang saya maksud kali ini adalah tentang tipe-tipe orang dalam beribadah secara ritual baik sholat, baca Qur'an, puasa dan lain sebagainya. Sudah tidak bisa terhitung lagi muslim yang menjalankan perintah agama dengan sebaik-baiknya. Namun masing-masing membawa muatan tersendiri.

Golongan pertama. Ada yang menggeber ibadah dengan paradigma bahwa ibadah adalah perintah. Mereka tidak menginginkan apapun (apalagi menginginkan dunia) kecuali hanya ibadah ritual dengan tenang. Yang ini maqomnya sudah tinggi, jelas bukan level kita-kita. Apa yang didapatkan? Berdasarkan pengamatan ternyata hidupnya ya gitu gituu aja.

Ditempat ane ada seorang yang bisa dibilang Ustadz, dimana masalah ibadah sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Namun sayang seribu sayang keluarganya malah terbengkalai atau terkesan tidak terurus. Sepertinya mereka hidup sangat prihatin. Bagaimana tidak? Sudah beberapa kali ane ngelihat makan cuman pakai nasi dan kecap plus kerupuk.
http://rahasiakuncisukses.com/?id=wahyu

Apa ada yang salah? Padahal beliau sudah menggeber ibadah. Seharusnya hidup beliau paling tidak cukup lah. Lah ini malah kekurangan banget-banget.

Kemudian ada Golongan kedua. Ada yang menggeber ibadah karena ada sejuta keinginan. Mereka mempunyai paradigma dengan ibadah maka kemudahan akan datang. Apa yang didapatkan? Berdasarkan pengamatan, ibadah mereka berenergi. Ibadahnya lebih berisi karena bermuatan sejuta doa. Energi akibat dipicu oleh ibadah menyembul keluar dalam aktifitas action/ usahanya.

Saya kenal seseorang, bukan ustadz, kyai atau ulama. Terkesan ia biasa saja namun ibadahnya luar biasa. Bagaimana dengan hidupnya? Yang jelas dikelilingi oleh kekayaan, status sosial dan kemuliaan lainnya. Namun dengannya beliau tidak bersikap sombong, malahan sangat dermawan. Ane saja dahulu pernah dipinjemin uang puluhan juta rupiah karena untuk urusan tertentu. Dengan gampangnya beliau transfer ke saya uang itu tanpa menjelaskan waktu pencicilannya. 

Yang ane amatin, antara golongan pertama dan golongan kedua jauh lebih manfaat golongan kedua. Mereka bisa lebih luas dalam memberikan manfaat kepada sesama dan semesta alam. Kalau ada pembangunan masjid, maka golongan kedua inilah penyandang dana utamanya. Ketika musim haji, merekalah yang kurban sapi. Ketika ada permintaan bantuan untuk anak yatim maka mereka berlomba memberikan harta bendanya.

Kalau golongan pertama nyaris tidak bisa apa-apa kecuali hanya ke masjid untuk ibadah. Mereka beranggapan meminta dunia adalah hal yang tidak etis karena akheratlah yang dituju. Yang penting ibadaaaaah terus, masalah orang lain sepertinya tidak terlalu dipikirkannya. Jangankan orang lain, keluarga sendiri diabaikan.

Mana yang baik? Tentu saja ane nggak tahu. Wong cuman ngamatin sinambi belajar doang. Tapi bagi saya, ibadah yang bermuatan doa lebih digdaya. Dan yang jelas ibadah seperti ini menunjukkan bahwa ada hamba lemah yang sedang membutuhkan bantuan dan pertolongan kepada Yang Maha Kuat.

Ternyata baru saya tahu bahwa ada kaitan erat antara DOA dan IBADAH.

"Dan Rabb-mu berfirman: 'BerDOA'alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari BERIBADAH kepada-Ku, akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina'." (QS Al Mukmin: 60)

Kalau begitu orang yang ibadah tanpa ada permintaan itu sombong dong? Khan sudah ane bilang, ane nggak tahu.. hehehe. Yang jelas level ane masih ibadah dengan jutaan permintaan/ doa. Karena ane nyadar bahwa ane adalah mahluk yang lemah yang butuh bantuan dan pertolongan_Nya. Bahkan tiap detik kita butuh DIA.

Presented: Rahasia Kunci Sukses



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment