Jun 23, 2015

Cara Melihat Kebenaran Sejati

Persepsi sudah membutakan kita. Kebenaran yang didasarkan pada prasangka sudah menyeret kita kedalam jurang kesesatan yang dalam tanpa kita sadari. Mengapa? Karena kebenaran hanya didasarkan pada persepsi dan prasangka pribadi. Inilah biang kerok kerugian kita baik dunia maupun akherat.

Gak percaya? Silahkan lihat gambar dibawah ini


Silahkan logika anda bermain. Silahkan persepsi dan prasangka anda ungkapkan dengan kata-kata. Kemungkinan ada beberapa jawaban, dimana semuanya bersikeras merasa benar.
http://abtreni.com/?id=adhinbusro
  • Itu gambar kapal
  • Itu gambar kapal dan tembok dilaut
  • Itu gambar tembok di laut
  • Itu cuma ilusi awan saja

Lalu masing-masing merasa benar, kemudian berantem, bahkan sampai bunuh-bunuhan. "Sudah saya bilang itu gambar kapal kamu kok ngeyel?". Kata si A. "Kamu yang bodoh, sudah bodoh tolol lagi, itu gambar tembok" Kata si B.

Analogi ini mengingatkan kita bagaimana ummat Islam malah ribut sendiri, berantem sendiri, ramai melebihi pasar. Nggak pernah mau bersatu, karena menganggap pemikiran atau golongannyalah yang paling benar.

"Itu bid'ah, itu haram". Atau "Kafir dan jatah neraka bagi muslim yang suka melakukan ini dan itu" Ramai bener berantemnya padahal bisa jadi SEMUA SALAH.

Apakah tidak lebih baik kalau kemudian ada perbedaan kita kembalikan kepada kebenaran menurut Versi Tuhan? "Yah sudahlah, perbedaan ini barangkali rahmat. Lebih baik bersatu dari pada terpecah belah gara-gara beda penafsiran". Kayaknya ini lebih adem.

Asalkan dalilnya adalah Al Qur'an dan sunnah maka itulah yang dijadikan sandaran bagi muslim. Dalilnya bisa sama, namun penafsiran bisa saja beragam.

Saya jadi heran, ada sebuah masjid di lingkungan kami yang isinya semuanya adalah mereka yang berjenggot dan bercelana cingkrang. Masjid besar namun jamaahnya hanya segelintir orang saja. Mengapa demikian? Karena sudah kadung dicap bahwa diluar golongan tersebut tdk boleh jamaah disitu, padahal aslinya khan tidak demikian.

Dan juga jamaah masjid tersebut seolah-olah diam tidak mau merangkul, atau cenderung menyalahkan mereka yang tidak sepaham. "Biarlah jamaah sedikit yang penting kami mengamalkan sunnah". Misalnya begitu. Sementara orang lain yang beda paham juga memandang sinis. Salahkah? Hadeh ane juga nggak faham benar. Yang ane impikan hanyalah persatuan terlepas bagaimanapun penafsiran terhadap ayat atau hadist. Itu saja...

Mau NU, Muhammadiyah, atau yang lainnya tetap sholat jamaah bebarengan. Salah satu nggak merasa paling benar. Hidup rukun yang dibingkai dalam akidah Islam. Itulah keindahan yang sebenarnya. Karena yang merasa benar itulah yang sebenarnya salah. Itulah kesombongan..

Pembahasan ini juga menyangkut permasalahan lainnya. Jangan sampai kita melihat kebenaran itu dari persepsi pribadi. Nanti malah terjerumus pada kesesatan yang menyebabkan kita merugi. Lakukan jika menurut anda benar, dan ada hujjah atasnya, namun jangan merasa benar. Tetap kebenaran sejati milik Tuhan seluruh alam.

”Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS Al-Baqarah ayat 147).

Wallahu A'lam



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment