May 21, 2015

Kaya Dulu Baru Bahagia, Benarkah?

Kaya dulu baru bahagia: Prinsip hidup (yang seringkali tidak disadari) bahwa kekayaan adalah pangkal kebahagiaan. Dipegang oleh para pekerja keras, pemburu harta benda dan atau pengejar karier. Bisa saja terlihat kaya pada masa produktifnya, sayangnya pada masa tua seringkali mengalami post power sindrome. Kebahagiaan yang ia yakini ternyata ilusi.

Mohon maaf kalau kurang berkenan saya ingin memberikan contoh sbb,

Karyawan/ pekerja/ buruh yang hanya menggantungkan penghasilan dari bekerja pada hakikatnya sedang menuju post power sindrome. Mungkin saja sewaktu bekerja bisa naik karier sampai level manager namun percayalah jika kita tidak cerdas maka masa tuanya akan terlunta-lunta.

Pada saat jaya banyak kawan dan sahabat, namun ketika pensiun tak ada yang mendekat. Menjadi tua dan sakit-sakitan plus menjadi beban keluarga dan orang lain. Sungguh keadaan yang tidak menyenangkan sama sekali.

Sayangnya para pekerja lebih banyak yang tidak sukses daripada mereka yang sukses dalam gaji dan karier. Mayoritas hanya begitu-begitu saja. Ini sungguh memprihatinkan.

Bahagia dulu baru kaya: Prinsip hidup (biasanya disadari dengan penuh) bahwa kebahagiaan adalah tentang rasa hati. Biasanya saat muda bekerja dengan passion untuk menciptakan "meaning" dan "branding". Mungkin saja kelihatan hidup susah dan apa adanya, namun pada saat tuanya kekayaan mengejar kemanapun perginya. Mengapa demikian? karena meaning dan branding sudah melekat pada dirinya.

Namun golongan ini ternyata hanya sedikit, karena untuk komitmen menciptakan meaning dan branding memerlukan proses yang panjang. Lebih banyak yang takut untuk berusaha menemukan passionnya sendiri, dan lebih suka bertahan pada zona nyaman meskipun ia tidak menyukainya.

Saya banyak menerima pertanyaan tentang keluhan para pekerja/ buruh kecil-kecilan yang puluhan tahun tetap bertahan dipekerjaannya. Mereka komplain padahal sebenarnya salah mereka juga. Kalau tidak menghendaki bekerja menjadi buruh dan menginginkan sebuah pekerjaan yang layak mengapa mereka tidak hijrah kemudian mencoba usaha baru? Jawabannya pasti klasik, "Takut resiko". ya sudah, kalau takut maka selamanya akan begitu-begitu saja. Lalu pada masa tuanya akan mengalami penderitaan berkepanjangan.

Ketakutan akan resiko hanyalah ilusi. Itu dari syetan, waspadalah...

 Image result for hati yang bersyukur

Untuk meminimalisir ketakutan tersebut paling tidak mulai sekarang sukuri saja apa yang ada. Berbahagialah karena faktanya masih banyak yang lebih memprihatinkan. Berbahagialah sekarang atau paksakan untuk bahagia dengan apapun keadaan kita saat ini. Karena dengan suasana hati yang positif Insya Allah meaning dan branding dalam bentuk passion seiring proses akan muncul.

"Bukan karena hidup indah kita bahagia, tetapi karena kita bahagia maka hidup menjadi indah". Jangan jadikan ini sebatas pemanis dinding facebook tetapi cobalah untuk benar-benar dirasakan dalam hati, kemudian manifestasikanlah dalam aktifitas pekerjaan, pergaulan dan segenap aktifitas kehidupan. Insya Allah seiring proses hakikat "meaning" dan "branding" yang khas dan unik milik anda sendiri akan terkuak dan ditemukan. Ke depan tidak menunggu masa tua untuk kaya dan bahagia. Mengapa? Karena bahagia (baca= rasa syukur) dan kaya (baca= kenikmatan) adalah satu paket.

Hal2 seputar hati/ jiwa/ nafs memang menarik untuk dibahas. Substansi immaterial inilah awal bagi lompatan dalam skala kuantum. Apapun raihan anda dalam hidup dimulai dari sesuatu yang tidak nampak, yakni manajemen jiwa. Makanya saya sudah membuat panduan manajemen jiwa untuk menciptakan keajaiban. Silahkan klik disini bagi yang berkenan. Mengapa hanya bagi yang berkenan? Karena ada sedikit mahar yang harus anda keluarkan. Jika sobat ingin belajar gratis silahkan buka-buka saja blog ini. Insya Allah cukup.

Kesimpulannya adalah kaya dulu baru bahagia, benarkah? Jawabannya tidak benar. Yang benar adalah bahagia dulu baru kaya. Kekayaan yang hakiki. Wallahu A'lam



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment