Apr 29, 2015

Sabar Itu Ternyata Berat dan Tidak Mudah

Sungguh banyak yang mempunyai keahlian mampu merangkai kata indah. Banyak pula yang berilmu tinggi bahkan sampai hafidz. Tetapi itu masih setengah jalan. Apakah buruk? Tentu saja baik sekali, namun masih perlu pembuktian.


Kita melihat tak terhitung kawan2 yang menulis status yang indah. Memberi nasehat yang bijaksana. Misalnya begini, "Bersabarlah kawan, semua pasti akan ada akhirnya. Percayalah Allah swt akan menolong orang-orang yang sabar". Anggap saja begitu contohnya. Artinya apa?
  • Pertama ia sudah punya ilmu, terlepas copy paste atau karena memang sudah mengetahuinya.
  • Yang kedua mendapatkan kebaikan. Karena kita dituntut untuk selalu belajar baik darimanapun dan kapanpun.

Cuma masih kurang 1 hal yakni aplikasi di dunia nyata. Apakah benar ketika yang menulis status di media sosialnya bisa sabar ketika menerima ujian dan cobaan? Mengapa saya katakan demikian? Karena nyata sekali untuk bersabar itu membutuhkan ketangguhan.

Asli sabar itu butuh yang namanya KETANGGUHAN jiwa dalam bingkai KEIMANAN yang alami. Tanpa itu susah untuk benar-benar bersabar terhadap ujian apalagi ujian yang bertubi-tubi.

Contoh analogi..

Budi biasa nulis di facebooknya tentang ilmu dan hikmah. Ia piawai didalam merangkai kata sehingga menjadi enak dibaca. Status2nya banyak yang mendapatkan komentar positif dari teman2 media sosial. Hal ini membuatnya bangga.

Syahdan disuatu ketika perusahaan tempat Budi bekerja tutup sehingga seluruh karyawan mau tidak mau harus berhenti bekerja dengan pesangon ala kadarnya. Sebulan dua bulan masih ngebul dapurnya, namun menginjak bulan ketika persediaan sudah sangat menipis, apalagi dalam 3 bulan ini Budi belum dapat kerjaan baru karena faktor umur.

"Bismillah pasti dapat kerja sebentar lagi" Gitu kata Budi. Apa yang diharapkan ternyata tidak terealisasi. Budi masih juga menganggur. Hal ini membuatnya panik. Bagaimana tidak, keluarganya khan butuh makan. Hingga pada sebuah titik duit pesangon benar-benar habis. Makin cemaslah Budi, apalagi istrinya yang tidak terbiasa prihatin. Pertengkaran antara Budi dan istrinya mulai sering terjadi. Dan ini wajar karena bagaimanapun juga anaknya yang masih kecil butuh susu.

"Tuhan, kok bisa begini?" Nah Budi mulai goyah. Ia mulai malas ibadah dan suka melalaikannya. Mengapa demikian? Karena ternyata sama saja bahkan makin memburuk. Harusnya, menurut Budi kalau sudah Ibadah maka hidupnya menjadi lebih mudah. Nyatanya tidak demikian, hidupnya malah kacau balau.

Budi sudah jarang mengingat Tuhan, yang ia ingat adalah bagaimana caranya cari utangan. Mulailah Budi berhutang ke sana kemari untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Hal ini menyebabkan ia gali lubang tutup lubang.

Pada saat kondisinya benar-benar anti klimaks Budi berteriak keras, "Aaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrggggghhhhhhh". Teriakan yang menggambarkan betapa beban hidupnya begitu berat.

Ah ternyata Budi sama saja dengan mereka yang pandai merangkai kata indah dan bijaksana. Pandai dalam berhujjah tentang kesabaran namun ketika ujian hidup mampir dalam kehidupannya ternyata ia goncang dan goyah juga. Seharusnya khan tetap ibadah, malah seyogyanya lebih banyak dan khusuk. Seharusnya Budi tetap mengucap Hamdalah, karena ujian kehidupan ini sebenarnya ajang pembuktian. Kalau lulus maka sempurnalah nilainya, kalau belum lulus maka cacatlah keilmuannya.

Kesimpulannya apa? Kesimpulannya adalah sabar itu tidak mudah. SABAR ITU TIDAK MUDAH, dan membutuhkan perjuangan untuk mencapai level kesabaran. Kalau ada yang bilang sabar itu mudah ada 2 kemungkinan.
  • Kemungkinan pertama ia memang orang yang tangguh dan keimanannya sudah mencengkeram kuat dalam jiwa.
  • Kemungkinan kedua ia belum merasakan ujian yang sesungguhnya. Orang ini biasanya fasih bicara kesabaran karena belum pernah merasakan ujian yang berat.

Celakanya kebanyakan adalah nomor 2. Maka saya mengkhawatirkan wabil khusus khawatir terhadap diri saya sendiri yang sering menulis tentang hikmah kehidupan. Jangan-jangan keimanan saya hanya sebatas hapalan? Dan inilah salah satu ciri-ciri akhir jaman yakni ketika "Keimanan hanya sebatas pemikiran dan hapalan". Hadeh.. kacau...

Oleh karena itu terus belajar dan belajar terus. Mari berlatih tangguh ketika ujian itu datang dan bertubi-tubi. Memang tidak mudah, cenderung berat, tetapi sikapilah dengan tangguh. Maksud saya hati boleh saja goncang tetapi sikap tetap kalem. Jangan keluarkan kegoncangan anda sehingga orang lain melihatnya, karena itu artinya kalah.

Sabar saat hutangnya banyak, tidak punya uang untuk beli susu, bisnisnya bangkrut, mobilnya hilang dan lain sebagainya tidak mudah. Asli ini... Beneran... Hanya orang2 yang merasakannya saja yang setuju dengan saya. Tetapi pahamilah bahwa disini kita sedang belajar... Belajar apa? Belajar IMAN, dimana janji Tuhan akan menolong hamba-hamba_Nya yang sabar.

Kapan pertolongan datang? Tidak ada kapan-kapanan, yang sabar saja. Allah swt lebih tahu momentumnya. Tugas kita bukan memprediksi kapannya, tetapi tugas kita fokus kepada kesabaran itu sendiri.

Sehingga ketika kita lulus yang satu, maka kita akan menerima ujian lain yang lebih besar dan begitu seterusnya. Sampai kapan? Sampai jiwa kita layak dan pantas untuk memasuki dimensi surgawi.

Terakhir baca puisi saya tentang kesabaran berikut ini

Sabar itu bukan sekedar rangkaian kata nasehat indah..NAMUN,
Ketika ibadah sudah geber-geberan
Ketika sedekah sudah jor-joran
Ketika usaha sudah maksimal
Tetapi DOA serasa tak kunjung menjadi realitas
Hutang tak kunjung ada tanda-tanda lunas
Kesulitan serasa tak kunjung lepas
Sehingga goncanglah hati... RESAH
Namun masih menegakkan dagu, dan bertahan untuk menunggu.. TEGAR
Menunggu JANJI TUHAN, ditengah badai
Menunggu ketidakmungkinan akal, dan terurai
Sabar itu SIKAP MENTAL, bukan sekedar UCAPAN

Presented by
  • Magis7, panduan 77 hari melatih kesabaran. Klik disini untuk detail.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment