Apr 29, 2015

Berbahaya, Ternyata Hati Kita Keras Membatu Bag. 1

Tahukah anda dengan batu karang? Tentu semua tahu. Batu karang adalah jenis batu di area lautan yang keras, bahkan sangat keras. Namun sekeras-keras batu karang nyatanya bisa luluh dan luruh perlahan-lahan disebabkan air laut. Tahukah anda dengan hati manusia? Tentu semuanya tahu. Dan tahukah anda bahwa hati itu bisa jauh lebih keras dari batu karang? Nah ini dia yang kadangkala anda tidak menyadari.

Image result for hati yang keras

Sebelum membahas lebih dalam marilah kita sepakat bahwa makna hati adalah JIWA, NAFS, NAFSU, EGO atau DIRI. Hologram diri anda dalam dada sebagai tempat/ letak kehendak manusia. Bisa dipahami?. Untuk lebih mudah memahami baca contoh berikut,
  • Kalau anda lapar maka anda berkehendak/ berkeinginan untuk makan
  • Kalau kehujanan anda berniat untuk berteduh
  • Kalau di marahi anda sakit hati dan berkeinginan untuk membalas
  • Kalau anda dipukul maka anda berkeinginan kuat untuk balik memukul

Nah kehendak untuk melakukan sesuatu itulah JIWA manusia. Sampai disini saya yakin sudah paham. Jadi bukan tubuh secara fisik yang bisa anda lihat dicermin, namun hologram diri anda yang berbentuk niat/ keinginan/ kehendak/ kemauan untuk melakukan sesuatu. Kehendak itu kemudian diaplikasikan atau tidak oleh tubuh anda secara fisik. Itu maksud saya...

Hati manusia ada yang lemah lembut dan ada yang lalai, egois dan keras membatu. Bahkan lebih keras daripada batu karang. Kalau tidak percaya simak saja firman Allah swt berikut ini, (Sumber disini dan disini)

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Baqarah:74)

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhya Allah menyukai orang-orang berbuat baik. (QS. 5:13)
 
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya) Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS. 39:22)

"Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan." (At-Taubah : 54)

"Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" (At-Taubah :126)

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci." (Muhammad : 24)

Naaah silahkan dibaca dan direnungkan beberapa firman Allah swt diatas lalu coba resapkan dalam hati, semoga mendapatkan pencerahan.

Untuk memudahkan pemahaman anda tentang apa yang saya tulis ini silahkan baca kisah nyata berikut ini,

A: Rokok, menurut MUI haram dan memang menurut beberapa ulama itu makruh.
B: Kalau saya pribadi hukumnya makruh

A: Iya saya juga demikian karena saya juga perokok. Tetapi ternyata mayoritas ulama mengharamkannya. Mudah2an Allah ampuni kebodohan kita ya?
B: Enggak dong, hukumnya makruh. Kyai saya juga ngerokok.

A: Saya juga menginginkan demikian. Tetapi kita tetep harus banyak belajar lagi, siapa tahu pendapat yang haram lebih dekat kepada kebenaran.
B: Terserah yang mengharamkan. Kalaupun haram, yang tanggung jawab adalah kyai yang bilang makruh dong?

A: Iya bener, tetapi tidak sebegitunya juga. Kalau hanya taklid buta bisa bahaya. Kita sang perokok juga harus membuka pemahaman yang berbeda dari apa yang menjadi prinsip hidup kita.
B: Sekali makruh tetap makruh. Yang tanggung jawab adalah yang mengatakan makruh. Kita ikut aja

A: Yeee kok begitu. Enak dong. Kalau masuk neraka tinggal nyalahin kyai itu, sehingga kita bisa beralasan ya?
B: Ember

A: Emang selain ngikut kyai, apa ente punya dalil sendiri? Atau paling tidak pernah baca.
B: Enggak, tapi khan menurut logika kita memang makruh. Kalau haram bagaimana dengan nasib mereka yang bekerja di pabrik rokok?

..............................................................

Ceritanya segitu aja lah, sudah cukup untuk menilai bahwa ada yang keras mempertahankan pendapatnya tanpa hujjah yang jelas. Hujjahnya hanya "Menurut pendapat saya", "Menurut perasaan saya", "Logikanya" dsb, celakanya pendapat pribadi dipertahankan sampai mati. Ini yang dimaksud hati yang keras membatu.

Masalah rokok adalah area yang debatable, artinya memang menjadi ajang perdebatan. Lalu bagaimana dengan hal2 yang jelas hukumnya namun tetap saja ditolak mentah2? Misalnya tentang poligami, hukum islam, jilbab dsb. Ini khan hukum yang jelas, namun tetap saja banyak yang menolaknya dengan berbagai alasan. Dan sayangnya alasannya tidak jauh dari "menurut pendapat saya". Mengapa tidak dirubah menjadi menurut pendapat/ firman Tuhan?

Mengapa kita tidak membuka diri untuk menerima pemahaman luar lalu merenungkannya? Mengapa kita tidak coba baca Al Qur'an lalu menemukan dalilnya?

Ini saja mukadimah artikel hati yang keras membatu. Insya Allah akan disambung dengan artikel lanjutan. Wallahu A'lam

Presented by
  • Magis7, panduan 77 hari melembutkan hati. Klik disini untuk penjelasan detail.




Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment