Mar 3, 2015

Yuk Bersatu Jangan Bercerai Berai

Seringkali saya melihat bahkan dilingkungan saya sendiri antara NU dan Muhammadiyah nggak mau ngumpul, nggak mau jamaah. Bahkan saling nyindir dan nyinyir. Celakanya lagi malah berantem gara-gara beda organisasi. Ini di lingkungan saya lho? Saya yakin dilingkungan anda..... Mmmmm mungkin sama kali, hehehe

Pun dimedia sosial. Saya mengkritik diri saya sendiri yang kadangkala nyinyir terhadap orang lain, pun dengan tokoh islam tertentu yang tidak sesuai dengan organisasinya. Sebenarnya sama saja, tidak sesuai dengan organisasi sama dengan tidak sesuai dengan hawa nafsu kita.

Misalnya Ustadz Felix Siau dengan statement profokatif tentang Selfie lalu mengundang bully. Padahal kalau dicerna lebih dalam dan menggunakan akal sehat apa yang dibilang Felix benar lho? Saya saja sering selfie, namun merasa nasehat beliau kena ke saya. Pasti kalau saya selfie ada unsur kesombongan, ujub, riyak atau pamer. Apalagi dibroadcast kesana kemari, lebih kentara pamernya. :(



Kalau diibaratkan ummat Islam di indonesia seperti lidi yang kurus. Sudah kurus tercerai berai lagi. Makin nggak ada tajinya bak macan ompong. Makin ompong karena ribut terus didalam. Padahal Allah swt memerintahkan kita untuk bersikap lemah lembut kepada sesama muslim (siapapun dia dan dari mazhab apapun), dan bersikap keras terhadap orang kafir.

Sekarang mah kebalik-balik. Sesama saudara seiman kerasnya minta ampun, giliran kepada orang kafir lembutnya nggak ketulungan. Sedikit saja beda penafsiran khilafiah (misalnya qunut dan tidak qunut) main bid'ah-bid'ahan, kafir-kafiran. Atau paling tidak sindir-sindiran, nyinyir-nyinyiran. Karena sumbunya pendek lalu cepat sekali marah dan nggak mau sholat bareng. Aih aih... Celakanya lagi nggak mau sholat bareng karena memang jarang berjamaah, bahkan jarang sholat tetapi paling pandai menilai cacat. Beuuuh saya banget.. hehehe

Kebanyakan kita dalam menyikapi perbedaan hujjahnya nggak pake Al Qur'an, namun make perasaan. Kacau khan? Emang tuhannya perasaan??. Padahal Allah swt memerintahkan ketika ada perbedaan kembalikan saja kepada Allah dan rosul_Nya. Biarlah yang menilai niat kita adalah Allah swt melalui malaikat-malaikat_Nya. Janganlah alih profesi menjadi asisten malaikat, jangan suka menilai niat orang lain karena kitalah yang dinilai. Tunjuk dada masing-masing, kitalah yang dinilai... Oleh sebab itu perbaiki diri dulu, setelah merasa sudah baik lalu lebih diperbaiki lagi. Lalu kapan menilai orang lain? Nggak usah itu, lebih baik berikan contoh yang baik dengan ahlak yang indah dan mulia, yakni meniru ahlak Nabi saw.

Sudahlah sobat, berhenti nyindir dan nyinyir. Kalau masih tuhannya Allah swt, nabinya Muhammad saw, artinya masih saudara kita. Jika mereka masih awam khan namanya proses pembelajaran. Beri nasehat dengan lemah lembut, dengan hikmah dan kebijaksanaan. Bisa jadi saat ini masih awam namun setahun kedepan mereka lebih jago dari kita-kita.

Tidak lain dan tidak bukan niat saya adalah mengajak, Ayuk bersatu, ayuk berjamaah. Kita memang lidi yang kurus, namun sekurus-kurusnya lidi jika bersatu tetap saja menjadi kuat dan cukup kuat untuk menggebuk guk guk

Bacalah QS Ali Imran: 103 yang saya upload gambarnya diatas. Barangkali eh barangkali sanggup menahan nafsu anda untuk menilai cacat saudara sendiri. Semoga mampu mengendalikan lidah kita dari mencederai saudara sendiri. Sifat kami hanya menyampaikan saja, masalah hidayah itu urusan Allah. Orang saya sendiri juga lagi mencari hidayah kok. Hehehe

Terakhir, kebenaran sejati itu milik Allah swt, maka kembalikanlah kebenaran itu kepada_Nya. Wallahu A'lam



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment