Mar 9, 2015

Penting...! Siklus Akal, Islam dan Iman

Baca baik-baik resapkan dalam hati. Ini penting supaya anda bisa memahaminya, setelah paham kemudian semoga terjadi proses pencarian iman yang natural. Sehingga kedepan iman anda adalah iman natural, atau iman yang Islam. Bagaimana caranya memahami hal ini? Berikut siklus pencarian iman dan islam,


1. Dominasi Akal

Dalam proses pencarian iman, maka peran akal wajib dominan. Akal itu adalah bagian dari kecerdasan, misalnya dalam contoh sederhana 1 + 1 = 2. Kalau 1+1= 3 artinya akal anda belum hidup. Kalau saya bilang 1+1=2 lalu anda tersinggung artinya ada kedengkian dalam hati anda. Misanya saya katakan, "Jangan nyembah patung, itu bukan tuhan tapi hanya patung". Kalau anda tersinggung artinya akal anda lemah dan hati anda penuh dengan kedengkian apapun alasannya.

Bagaimana dominasi akal? Misalnya sbb,

A: "Percayalah bahwa patung ini adalah jelmaan Tuhan".
B: "Masak sih? tapi kenapa dia yang katanya tuhan tidak bisa ngomong? Itu ada lalat dikepalanya juga diam saja?"
A: "Pokoknya kamu harus percaya supaya hidupmu sukses dan bahagia"
B: "Maaf ye? No way.. Saya nggak mau didoktrin. Ini benar-benar gak masuk akal"

2. Iman = Islam

Ketika akal kita sudah dominan maka peluang mendapatkan iman yang benar akan lebih besar. Iman itu sudah mulai kelihatan powernya. Ketika menemukan iman, maka dalam prosesnya pasti akan menemukan islam. Iman dan Islam tidak bisa dipisahkan.

Contoh dalam analagi sbb,

A: "Saya yakin dan percaya Tuhan itu Yang Menciptakan langit dan bumi dan segala isinya"
B: "Selamat anda sudah bersyahadat, Laa Ilaaha Illallah. Tinggal ngelengkapin saja"
A: "Oh maaf saya nggak mau menjadi muslim teroris"
B: "Silahkan saja, tetapi hati anda sudah muslim, namun anda tidak sadar"
A: "Benarkah?"
B: "Ya, dan hanya perlu waktu saja untuk anda menerima Islam"

3. Akal Merasa Takjub

Ketika percaya bahwa Tuhan itu adalah Pencipta langit dan bumi maka sejatinya ia sudah bersyahadat namun seringkali tidak sadar. Pengakuan Sang Pencipta dalam bahasa arabnya adalah Laa Ilaaha Illallah. Hanya perlu waktu untuk menerima Islam secara utuh. Hanya perlu melepaskan ego dan membangkitkan ketulusan sehingga Islamnya tumbuh. Ketika menemukan Islam maka akal semakin merasa takjub. Bagaimana penjelasan tentang hal ini?

Misalnya

A: "Saya baru saja membaca bahwa Mumi Firaun ternyata masih ada, padahal sejarahnya dia tenggelam dalam laut. Ini Mustahil"
B: "Itu sudah diberitahukan 1400 tahun yang lalu dalam Al Qur'an jauh sebelum kejadian itu terjadi"
A: "Benarkah?"
B: "Ya, bahkan semua Muslim sudah tahu sebelum kejadian itu terjadi"
A: "Subhanallah. Sungguh Islam yang membingkai akal, bukan sebaliknya"

4. Iman Dominan, Akal Melemah

Siklus ini adalah ketika seseorang sudah menerima Islam yang menyebabkan sandaran kepada akal sudah mulai lemah dan tergantikan dengan Iman dan Islam. Ketika Akalnya semakin takjub maka Imannya semakin dominan. Ketika Iman dominan maka peran akal mulai lemah dan menyadari bahwa ia merupakan ciptaan yang terbatas. Misalnya,

A: "Pusing saya mikirin hutang, stress banget-banget. Duit habis gimana mau bayar hutang? Bigung"
B: "Banyak dosa tuh. Gak usah bingung. Sedekah yang banyak, tambahin sama tahajud. Sabar saja dan jangan lupa sholat, yakin hutang akan lunas"
A: "Lunas palalu peyang? Buat makan besok saja nggak tahu dari mana? Dari mana rumusnya bisa bayar hutang? Asal njeplak aja kamu"
B: "Bukan saya yang ngomong, itu firman Allah Yang Maha Berilmu. Masalah solusi mah kita gak akan tahu, lakuin saja dulu"
A: "Astaghfirullah.. Iya benar, saya terlalu menuhankan akal"

5. Ketika Akal dikesampingkan

Ketika Iman semakin dominan, maka kemampuan akal mulai dikesampingkan. Misalnya,

A: "Asyik, Alhamdulillah dapat rezeki. Pak Pejabat kasih uang, katanya saya cuma disuruh diam"
B: "Itu khan harta haram. Nanti berubah jadi ular dan dikalungkan di neraka lho?"
A: "Masya Allah, aku khilaf. Ampuni aku ya Robb"
B: "Jangan menangis disini, ayuk ke masjid lalu sholat dan minta ampun"
A: "Sukron sahabatku, engkau mengingaktanku"

Kesimpulannya adalah akal wajib digunakan didalam pencarian iman. Dan iman digunakan sebagai cahaya petunjuk untuk menempuh jalan kehidupan dunia dan akherat.

Yuk muhasabah diri. Dengan muhasabah diri maka kita bisa menilai seberapa besar iman kita. Mari cek diri masing-masing mana yang lebih dominan. IMAN kah atau jangan-jangan kita masih menuhankan AKAL???

Catatan,

Jika anda ingin memahami hal ini lebih lanjut, saya ada pembelajaran 360 hari meraih sukses sejati. Klik disini jika berkenan


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment