Mar 28, 2015

Menciptakan Persepsi Memojokkan Islam

Seperti apa menciptakan persepsi dan opini masyarakat tentang kasus tertentu? Ada banyak cara dan ragamnya. dan yang paling santer adalah menciptakan persepsi melalui media. Dan tahukah ada ada sistem yang terorganisir didalam menciptakan persepsi memojokkan Islam? Nggak ngeh ya? Ya iyalah khan kita memang kurang care terhadap agama sendiri :)

Bisnis media.. Namanya bisnis dan wajar jika memihak yang bayar. Ya nggak? Namun seringkali media sukses membius cara berpikir kita. Padahal si pemesan berita mempunyai tujuan tertentu khususnya mengacaukan pemikiran dari kebenaran dan fakta. Siapa yang bayar?, tentu saja PENGUASA dan PENGUSAHA. Maksudnya adalah kaum yang mempunyai pengaruh dan kaya raya dimana mereka mempunyai maksud dan kepentingan tertentu. Contoh kasus,

  • ISIS berperang, memerangi, membunuh => Untuk memberikan kesan dan opini bahwa Islam Teroris, sadis dsb.
  • Lutfi Hasan Ishak, Suryadarma Ali korupsi => Untuk menasbihkan partai Islam (agama Islam) adalah partai/ agama yang doyan korupsi.
  • Petinggi PKS nonton video porno, tokoh Islam poligami, nikah muda dsb => Untuk mengesahkan bahwa Islam itu agama budak sex
  • Diberitakan tokoh partai Islam berteriak Ahxx anjixx, ternyata eh ternyata berita fitnah => Untuk memberi persepsi bahwa Islam itu kasar

Setelah sukses menciptakan persepsi, lalu kemudian munculah slogan yang salah kaprah, lebih baik kafir yang penting tidak korupsi. Lebih baik kafir yang penting baik, bukan teroris, bukan budak sex dsb. Padahal slogan tersebut bisa dirubah misalnya, lebih baik muslim dan tidak korupsi. Pada tahap lanjut seakan-akan mengesahkan bahwa menjadi muslim tidak baik, dan alangkah baiknya masuk agama lain/ murtad. Atau paling tidak jadilah muslim yang abal-abal.

Padahal kafir ya kafir, dan jika mati dalam keadaan kafir maka nerakalah tempatnya. Emangnya anda mau nemenin orang kafir yang baik dalam neraka? Khan nggak mau.. Mau sebaik apapun kalau syirik maka kebaikannya bagai debu yang beterbangan. Lebih baik orang beriman walau sejelek apapun karena hidup berproses. Orang beriman adalah dia yang mendapatkan petunjuk, terlepas imannya tipis atau enggak. Siapa tahu tahun depan jadi ustadz padahal setahun sebelumnya sholat aja jarang. 

Khan bisa jadi orang kafir tersebut dapat hidayah suatu saat Mas? Iya bener, tetapi sekarang khan kafir, sedangkan hidayah bukan urusan anda tetapi dari Allah. Kita tdk bisa menjamin seseorang dapat hidayah, tidak sama sekali. Bapak Nabi Ibrahim as saja penyembah berhala, istri Nabi Luth as saja ingkar, anak Nabi Nuh as saja ingkar, apalagi orang yang belum kita kenal secara personal kecuali lewat media? Lalu kita menyangka suatu saat dapat hidayah, emangnya kita tahu? Pinter sekali kita-kita menebak-nebak hidayah?

Korban media itu buanyak banget, khususnya mereka yang dangkal pemahaman agamanya. Padahal kalau kita menelaah lebih dalam sebagian besar berita yang diangkat untuk membunuh kharakter dan menciptakan persepsi ternyata fitnah belaka. Disatu sisi menjatuhkan golongan/ tokoh tertentu disisi lain menaikkan pamor tokoh lainnya. Beginilah rupa-rupa politik.

Auranya jelas yakni memojokkan nilai-nilai agama tertentu (Islam). memberikan virus pemikiran sehingga orang Islam tidak bangga menjadi muslim. Malu kalau agamanya adalah agama teroris, keras, pedang, korupsi, budak sex, kasar dsb. Padahal nilai Islam itu mulia dan semua citra tersebut sengaja diciptakan untuk menodai kemuliaan Islam. Mereka sukses menciptakan orang Islam yang phobia dengan islam itu sendiri. Kalau muslim saja sudah phobia apalagi non muslim? Ini disebut dengan Islamophobia..

Saya mengenal seorang muallaf yang belajar puluhan tahun hanya untuk menyebarkan fitnah dan kebencian kepada ummat Islam.. Mereka sekolah lamaaaa sekali hanya untuk menyimpulkan bahwa Islam itu salah. Caranya persis, yakni membius cara berpikir kita supaya jauh dari Islam dan Al Qur'an. Oleh karena itu pesan beliau, jadikanlah Al Qur'an dan Sunnah sebagai pegangan dan acuan dalam berpikir dan bertindak niscaya tidak akan tersesat selama-lamanya.

Saya juga pernah mendengar kata-kata Ustadz Yusuf Mansur yang maknanya adalah Media itu keterlaluan didalam memuat sebuah berita. Beliau pulang dari Malaysia membawa koper berisi duit 1 M katanya begitu. Padahal yang benar adalah 2 M. Hehehe. Lalu beliau naik kapal laut dan ditahan di pelabuhan oleh bea cukai. Beritanya "DICEKAL". Padahal membawa milyaran dengan pesawat memang dilarang oleh Malaysia. Padahal beliau tidak dicekal tetapi diantarkan sampai rumah oleh pejabat beacukai. Beliau dibawa dengan mobil bea cukai dan media memberitakan bahwa beliau akan diperiksa. Faktanya pejabat bea dan cukai meminta beliau diminta engisi tausiyah. "Ini namanya takzim kepada Ustadz" kata UYM. Ada-ada saja dengan media. Kadang keterlaluan...

Kesimpulannya adalah ada kesengajaan didalam menenggelamkan kemuliaan agama. Ada makar besar untuk memadamkan cahaya Allah swt. Maka benar sekali atsar yang mengatakan bahwa, kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.

Coba bayangkan ketika disodorkan berita dari detik.com atau arrahmah.com, mana yang lebih anda sukai? Bisa jadi detik.com karena anda menyangka dengan purbasangka anda sendiri bahwa arrahmah.com adalah web penebar fitnah dan kebencian. Terlepas benar atau tidak yang pasti ada banyak Ilmu agama yang didapatkan ketika membaca web islami. Sebenarnya mudah saja, ambil ilmunya dan buang hal-hal yang berbau kedengkian.

Sahabat marilah mulai belajar menilai segala sesuatu tidak dari kulitnya saja. Jangan belum apa-apa ikutan memvonis, ikut2an membully, padahal kenal saja enggak. Marilah menyadari upaya-upaya kaum pendengki didalam memadamkan cahaya Allah swt..

Sahabat, segera raih Al Qur'an dalam lemari yang sudah berdebu. Baca baca dan baca... Baca juga terjemahannya sampai khatam. Niscaya kita akan mudah menilai sebuah kebenaran. Insya Allah..



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment