Mar 19, 2015

Larangan Memilih Pemimpin Kafir, Musyrik, Yahudi, Nasrani dan Pengolok Agama

Allah swt menurunkan perintah_Nya demi kebaikan hamba-hamba_Nya. Namun kebanyakan kita suka membantah dengan berbagai dalih dan alasan. Mengapakah kita tidak belajar menundukkan hati dan mentaatinya? Mengapa kita sebagai muslim senang sekali membantah perintah Allah swt sebagaimana kebiasaan Bani Israil (Israel?)

Manusia mempunyai kecerdasan yang bisa menjadi wasilah bagi hidup yang lebih baik, namun disisi lainnya kecerdasan inilah biang kerok dari pembangkangan kepada perintah Allah swt. Misalnya tentang larangan memilih pemimpin yang,
  • Kafir atau musrik
  • Non Muslim baik Yahudi atau Nasrani (Kristen) dsb
  • Orang yang suka mengolok-olok hukum agama

Namun entah karena kepandaiannya sudah sundul langit atau merasa sdh alim lalu membantahnya dengan berbagai alasan, dalih, alibi dan pembenaran. Padahal perintahnya jelas yakni "Dilarang". Misalnya alasan,
  • "Tapi khan dia baik"
  • "Tapi meskipun kafir dia tidak korupsi"
  • "Tapi khan dia hebat"
  • "Dia khan terbukti sukses di kepemimpinan sebelumnya didaerah lain"
  • "Dia ktp nya muslim, meskipun kebijakannya tidak memihak Islam namun dia nampak jujur dan merakyat"


Dan alasan pembenaran lainnya. Merasa benar dengan alasan dan hujjah yang keluar dari dalam otaknya yang terbatas. Akhir2 ini TAG meskipun kafir namun tidak korupsi, lebih baik kafir yang penting adil. Lebih baik kafir dari pada muslim namun korupsi dsb, menjadi trending topik. Padahal kafir ya kafir titik. Yang namanya kafir ya dilarang dipilih, jika kita memang orang Islam yang menginginkan ketaatan.

Kalau setelah membaca dalil larangan memilih pemimpin kafir, musrik, dan atau suka mengolok hukum agama namun anda masih berkeras kepala kemudian memilihnya maka ketahuilah bahwa anda adalah FASIK dan MUNAFIK, bahkan dikategorikan masuk kedalam golongan mereka, Naudzubillah. Ini bukan kata saya lho, tetapi apa kata Allah dalam Al Qur'an. Fasik itu sudah tahu larangannya namun lebih percaya kepada otak anda kemudian memilihnya. Anda merasa otak anda lebih hebat daripada aturan Tuhan.

Munafik adalah orang yang pura-pura beriman. Atau dalam bahasa saya adalah orang-orang yang meskipun kelihatan alim namun iman dalam dadanya nggak ada. Yang ada cuma hapalan saja namun imannya kosong. Yang ada cuma pencitraan saja padahal dalam hatinya penuh kedengkian. Padahal tahukah anda bahwa azab orang munafik itu lebih keras daripada orang kafir? Camkanlah dan renungkanlah...

Jadi ketika kita keras kepala dengan memihak pilihan nafsu, kemudian Allah menurunkan azabnya maka jangan salahkan siapa-siapa, silahkan tunjuk hidung masing-masing. Itu salah anda... Mau anda bersabar atau tidak azab itu akan menimpa anda dengan seburuk-buruk azab. Celakanya azab ini sifatnya berjamaah karena yang tidak memilihpun kena getahnya. Namun Insya Allah mereka yang beriman dan tunduk hati kepada perintah Allah swt akan mendapatkan pahala dari kesabarannya.

Misalnya dalam suatu negeri antah berantah dimana pemimpin munafik dan kafir yang menang, lalu dalam kebijakannya tidak memihak rakyat dan mayoritas.. Contoh,
  • BBM Naik
  • Sembako naik
  • Harga kebutuhan mencekik
  • Gas naik
  • Listrik naik
  • Tiket perjalanan naik
  • Dolar naik
  • Gaji dan pendapatan diwacanakan turun atau tetap
  • Mulai ada pembatasan2 kegiatan keagamaan
  • Mulai ada penyudutan terhadap pelaksanaan syariat agama
  • Mulai ada makar dan tipu daya untuk menghancurkan bangsa
  • dsb

Dan segala kebijakan yang nyatanya tidak memihak rakyat negeri antah barantah tersebut, sehingga begitu mencekik leher dan membuat anda marah besar. Maka jangan salahkan siapa-siapa, salahkan pemilihnya yang tidak mau tunduk hati kepada perintah Allah swt. Berkacalah dan disitulah biang keroknya.

Dahulu para ulama melarang supaya jangan memilih pemimpin kafir, namun sayang sekali sebagian ummat mengindahkan seruan/ dakwah para ulama. Mereka beralasan lebih baik kafir daripada korupsi. Kini negeri antah barantah dalam kekacauan, baik politik, ekonomi, akidah, sosial dan bencana-bencana yang tindih menindih. Semua saling menyalahkan dan menuduhnya sebagai biang kerok.

Para cendekiawan mengatakan: "Ah tunggu saja sebentar, keadaan pasti membaik kok". Namun apa kata cendekiawan seperti jauh dari harapan. Bukannya keadaan membaik namun semakin memburuk. Serasa seperti sebuah azab yang tiada henti-hentinya. Ya memang harus begitu, karena inilah sunnatullah akibat melanggar perintah Allah.

Memang ada banyak kalangan yang masih awam, oleh karena itu jangan sok pintar. Ketika ada ulama yang berdakwah dengarkanlah sehingga tidak melakukan kesalahan. Tundukkan hatimu, baca dalilnya kemudian taatilah. Merelakan diri untuk tunduk hati, lebih dekat kepada kebenaran.

Oleh karenanya sudah saatnya kita benar-benar taubatan nasuha. Jangan ada lagi keras kepala, jangan ada lagi alasan pembenaran. Salah ya salah, dan hanya bisa dihapus dengan taubat. Namun sebelum Allah ampuni dosa kita, kitanya tetap harus tegar didalam menerima konsekwensi dari dosa-dosa sebelumnya. Azab itu masih akan tetap kita rasakan, dan mungkin saja terasa berat. Namun beratnya azab ini adalah awal daripada ampunan dan karunia_Nya, jika kita benar-benar bertaubat.

Jadikan kisah dari negeri antah berantah sebagai pembelajaran kita semua, supaya tidak terperosok ke dalam jurang yang sama dua kali. Cukup sekali saja.. Ke depan belajarlah untuk mengakui dan bersaksi bahwa Allah Maha Hebat dan Maha Besar dari segala-galanya. Bukan lagi otak kita yang lebih hebat daripada Tuhan, tetapi otak atau kecerdasan kita hanyalah ciptaan yang terbatas.

Berikut dalil dalam Al Qur'an yang saya ambil dari www.muslim.or.id tentang larangan memilih pemimpin kafir, ahli kitab dan pengolok agama, silahkan dibaca dan tundukkanlah jiwa ketika membacanya.

1. Jangan memilih orang kafir sebagai auliya (pemimpin/ teman dekat) dan meninggalkan yang muslim kecuali karena siasat.

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)” (QS. Al Imran: 28)

2. Jangan mengambil Yahudi dan Nasrani sebagai auliya (pemimpin/ teman dekat)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim” (QS. Al Maidah: 51)

3. Jangan menunjuk pemimpin (meskipun ktpnya islam=red) yang suka mengolok-olok hukum agama

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi auliya bagimu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman” (QS. Al Maidah: 57)

4. Jangan memilih pemimpin kafir meskipun ia saudara

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi auliya bagimu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka auliya bagimu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim” (QS. At Taubah: 23)

5. Jangan memilih pemimpin kafir karena kedepan mereka menghendaki kekafiran kita. Jangan memilih mereka sampai mereka menjadi muslim.

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka sebagai auliya bagimu, hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka auliya, dan jangan (pula) menjadi penolong” (QS. An Nisa: 89)

6. Yang memilih pemimpin kafir pada hakikatnya ada penyakit munafik dalam dadanya.

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah” (QS. An Nisa: 139)

7. Yang masih keras kepala pada hakikatnya mereka adalah fasik

“Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Al Maidah: 81)

8. Jika masih keras kepala, jangan salahkan Allah ketika menurunkan siksa/ azab

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS. An Nisa: 144)

Wallahu A'lam



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment