Mar 29, 2015

Jaminan Rezeki Tuhan Kepada Manusia

Bayangkanlah seorang bayi yang baru mbrojol :). Bisa membayangkan? Bayangkanlah seorang bayi yang baru dilahirkan oleh keluarga sederhana, keluarga baik-baik, nggak neko-neko. Apa yang terjadi kemudian? Tentu saja keluarga sederhana tersebut senang bukan main dengan kehadiran sibuah hati. Mereka sangat bersyukur kepada Tuhan karena diberikan seorang anak yang lucu dan cantik.

Anda bisa membayangkannya bukan? Jadi bukan seorang anak yang lahir dari keluarga tidak baik-baik, keluarga yang broken, atau dari pasangan diluar nikah. Kita membayangkan hal sederhana yakni anak yang lahir dari keluarga sederhana.

Maka sang Ibu akan memberikan kasih sayang full kepada anaknya, demikian pula bapaknya jadi lebih rajin bekerja. Bahkan mereka berdua jarang tidur karena khawatir akan keadaan anaknya. Satu tangisan saja sudah bisa membangunkan mereka berdua.

Lalu anak tersebut dirawat dan dibesarkan dengan curahan kasih sayang tulus tanpa adanya pamrih sedikitpun jua. Nah sekarang kita akan membahas hal yang lebih dalam lagi. Menurut anda apakah sang anak tahu bahwa ia akan dirawat dengan penuh kasih? Tentu saja tidak tahu..

Pada saat mbrojol sang bayi akan menangis, karena mendapatkan dunia baru yang sangat asing. Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, namun yang pasti dunia barunya begitu asing. Ia tidak berpikir, jangan-jangan tidak ada yang merawat, mengurus dsb, yang jelas insticnya mengatakan bahwa ia mendapatkan dunia asing dan merasa takut.

Lalu terjadilah sebuah keajaiban yang anda anggap biasa saja. Padahal ini adalah keajaiban luar biasa. Keajaiban apakah gerangan? Keajaiban karena kedua orang tuanya dengan fitrah yang ada pada mereka kemudian Allah swt gerakkan jiwa dan raga mereka untuk memberikan kasih sayang yang tulus, setulus-tulusnya. Sekali lagi kedua orang tuanya digerakkan...

Padahal kita sepakat bahwa seorang bayi yang dibiarkan beberapa jam saja barangkali akan mengalami stress, dan rentan terhadap penyakit lalu meninggal dunia. Tetapi tidak terjadi demikian. Allah swt yang menciptakan, Allah pula yang mendesign sebuah sistem supaya mahluk baru yang diciptakan tersebut bisa terurus dengan sebaik-baiknya. Ini adalah design sempurna..

Lalu sang bayi bertambah umurnya, setahun dua tahun.. Ia menjadi sosok yang sangat lucu dan imut-imut. Ia menebarkan senyuman menggoda dimana saja, disaat yang lain menangis. Baik tertawa maupun  menangis tetap saja lucu. Makan dan minum sudah bukan masalah lagi, karena kedua orang tuanya sudah menjamin untuknya.

Namun semua berubah... BE RU Bah...


Tiba-tiba sang bayi berubah menjadi sangat penakut, khawatir, cemas, was-was untuk segala sesuatu yang sudah dijamin. Sang bayi takut besok tidak bisa makan, takut gagal, takut menanggung resiko, takut kehilangan dan berbagai ketakutan lainnya. Ini aneh tapi nyata. Bukankah Tuhan sudah Menciptakan maka DIA Menjamin rezeki seluruh mahluk_Nya?

Bayi yang beranjak dewasa, bayi berumur 20, 30, 40, 50 dan bayi-bayi tua lainnya mendadak berubah. Ia mulai meragukan jaminan Tuhan, bahkan mulai mengingkari segala nikmat Tuhan yang selama ini diterimanya. Celakanya lagi banyak bayi-bayi tua yang mengkhianati_Nya, ingkar kepada_Nya, seakan-akan lupa bahwa DIA yang mengeluarkannya dari dalam rahim, DIA pula yang menjamin rezeki ketika bayi bahkan sampai sekarang menjadi bayi tua. Lupa... lupa dan lupa.

Bayi yang dulu lucu mulai berani melawan Tuhan, dan membangkang terhadap perintah dan larangan_NYa. Seakan-akan bayi tua mempunyai saham dalam penciptaan bumi, dan saham dalam menjamin rezekinya sendiri.

Bayi-bayi tua mulai membuat sekutu melawan Tuhan. Bayi tua banyak meminta tolong kepada syetan, seakan syetan lebih hebat dari Tuhan. Seakan menganggap bahwa Tuhan sudah tidak Maha Melihat dan Mendengar. Seakan menganggap Tuhan sudah tidak adil. Menganggap Tuhan sudah tidak lagi mampu menjamin hidup dan rezekinya. Hanya karena alasan sederhana... Apa itu?

Karena bayi tua meminta sepeda namun tidak diberikannya. Bagaimana mungkin memberikan sepeda kepada bayi? Atau karena bayi tua meminta mobil namun belum dikasih. Bagaimana dikasih? Padahal ia masih bayi? Dan banyak keinginan sang bayi yang belum diberikan, karena memang sebenarnya ia belum pantas mendapatkannya. Kalaupun diberi maka bisa celakalah ia. Emangnya kalau dikasih mobil bisa nyetir? Yang ada malah nabrak. Karena apa? Karena ia masih bayi dan belum mampu untuk mengendarai mobil.

Namun sang bayi tua keukeuh terhadap permintaannya kepada Tuhan. Mobil ya mobil titik... Lalu diberikanlah mobil itu karena sang bayi terus saja memaksa. Sehingga ia menabrak pohon dan masuk jurang ketika hendak menyetirnya. Dan bayi tua mati... Salah siapa ini? Jelas salah sang bayi tua. Oleh sebab itu pahamilah bahwa Allah swt tidak menganiaya hamba-hamba_Nya, tetapi mereka/ kitalah yang menganiaya diri sendiri.

Ia menghadap Tuhan dengan penuh penyesalan. Karena setelah mati barulah ia tahu bahwa apa yang Tuhan berikan adalah yang terbaik. Mengapa ia baru tahu dan yakin setelah mati? Karena ketika mati hakikatnya kita kembali. Yakni kembali ke alam yang sebenarnya. Alam yang semua hakikat dunia dibuka dengan sangat jelas dan gamblang. Barulah ia menyadari bahwa apa yang Tuhan berikan adalah yang benar-benar kita butuhkan bukan apapun yang kita inginkan. Harusnya disyukuri bukan malah diingkari. Namun penyesalan itu tiada guna. Pembangkanganya kepada Tuhan menyebabkan ia dikurung dalam hukuman abadi kekal selama-lamanya.

Pertanyaannya sederhana saja. Apakah anda merupakan bayi tua yang sudah kembali ke alam sebenarnya yakni alam keabadian? Kalau belum, anda tahulah apa yang harus dilakukan. :) ya nggak?

Inilah kisah fiksi sang bayi, semoga menjadi perenungan..

Dipersembahkan oleh rahasia kunci sukses. Rahasia sukses dengan memahami hikmah dibalik semua kejadian/ takdir. Klik disini untuk detail



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment