Mar 16, 2015

Dari Mana Kita Berasal?

Dari dimensi manakah asal kita? Mengapa kita ada didunia dan untuk apa? Pertanyaan ini seringkali menggelayut dalam benak kita, namun sering pula kita abaikan. Padahal jawaban dari pertanyaan ini adalah kunci menjalani hidup yang lebih lurus dan terarah.


Pada awal-awal saya membuat blog sederhana ini banyak membahas tentang kekayaan, harta benda dan lain sebagainya. Tema bahasan banyak sekali menggoda nafsu anda untuk membaca dan membaca. Alhamdulillah tujuan pertama saya bisa tercapai yakni mencari banyak2 pengunjung web yang menginginkan hidup kaya dan sukses.

Lalu seiring waktu berjalan saya mencoba memberikan penjelasan yang lain. Yakni alasan mengapa kita ingin kaya misalnya. Ada hikmah apa dibalik segala keinginan manusia? Ada hikmah apa dibalik segala permasalahan manusia?

Lalu tema akhir-akhir ini berubah, yakni membahas hikmah. Bahasan yang dalam dimana akan sulit dipahami jika tidak ada ketertarikan dari awalnya. Maka saya memancing pembaca dengan iming-iming harta benda, padahal saya sama sekali tidak bisa menjanjikan itu semua, karena yang menjanjikan adalah Tuhan seluruh alam.

Artikel kali ini membahas tentang hikmah kehidupan. Kita2 ini yang selalu mengejar harta benda asalnya dari mana ya? Ada yang tahu?

Khan kita pada awalnya nggak ada, lalu menjadi ada dan beranjak dewasa. Masak kita ada diunia ini kebetulan atau ujug-ujug? Memangnya jin Aladin?

Saya dahulu pada saat masih bujang sama sekali tidak bisa membayangkan mempunyai anak seperti ini dan itu. Dahulu ketika masih bujang, dan sesaat sebelum menikah tidak ada anak dan tidak tahu anak seperti apakah yang akan hadir. Pada saat itu "anak saya" belum ada sama sekali. Namun saat ini sudah berusia 5 tahun, dari mana asalnya?

Memang setelah menikah saya menjalankan kewajiban sebagai suami yakni menggauli istri, namun tetap saja masalah mendesign manusia saya tidak tahu. Hanya menjalankan fitrah saja lalu hadirlah seorang anak pujaan hati. Bukan, sama sekali bukan saya yang menjadikan "anak" hadir, bukan saya yang mendesign, karena semua sudah terdesign dengan sempurna.

Artinya, anak saya sebenarnya sudah ada jauh2 hari sebelum saya menikah. Kemudian menjadi nampak/ ditampakkan seiring waktu. Jadi waktu adalah parameter kehadiran seorang "anak" atau mahluk bernyawa dimana asal usulnya kita tidak tahu.

Jika kita melihat kasus anak saya dan anak2 kita marilah sama-sama membayangkan, "Dulu nggak ada sekarang sudah ada dan beranjak besar". Ini harus benar2 bisa divisualisasikan sedetil-detilnya dalam bingkau tafakur atau berpikir. Kemudian pikirkanlah lebih dalam lagi, "Dari mana asal kita?"

Kalau kita berpikir lebih dalam dan dalam lagi artinya anak kita (dan kita) sebenarnya sudah ada, namun keberadaaanya masih tersimpan dalam sebuah dimensi yang ghaib. Keberadaan anak kita (dan kita) baru bisa nampak dan bisa dikatakan "ADA" ketika waktu terus berjalan. Artinya KEBERADAAN kita memang sudah ditentukan kapan atau waktunya oleh sebuah design yang maha canggih. Benar nggak ini? Paham nggak?

Yang jadi masalah adalah, "DIMANA alam ghaib tersebut? dan ada apa didalamnya?"

Ini semakin membuat pusing, namun mau nggak mau harus kita pikirkan, karena inilah fitrah. Apakah kita tahu jawabannya? Kayaknya tidak, atau samar-samar. Kayaknya pengetahuan tentang dari mana kita berasal disamarkan. Mengapa? nanti pada artikel lain Insya Allah dibahas.

Yang jelas jikalau kita berpikir jujur, tulus dan dalam maka kita akan berkesimpulan bahwa adanya drama langit dan bumi memang sengaja digelar dengan sebuah tujuan. Ini harus anda sepakati dulu supaya pembahasan berikutnya mudah masuk. Jadi adanya langit dan bumi beserta segenap kejadian yang ada didalamnya bukanlah sebuah drama yang sia-sia, kebetulan, asal-asalan dsb.

Kalau melihat kasus kehadiran anak saya diatas, maka dapat disimpulkan bahwa drama alam semesta sebenarnya sudah digelar, sudah ada, sudah berlangsung dan sudah habis. Layaknya sebuah buku ada mukadimah, isi dan penutup, namun sudah selesai dalam sebuah buku. Dan posisi kita entah ada dihalaman berapa, saya tidak tahu.

Yang bisa tahu isi buku tentu saja pendesign atau pengarangnya khan? Siapa pendesign anak kita, kita, manusia, bumi dan segala isinya serta langit? Semua manusia mengatakan "Tuhan". Tuhan siapa dan tuhan yang mana? Yang jelas bukan tuhan2 yang diimajinasikan dalam pikiran manusia. Mengapa? Karena memikirkan alam/ dimensi dari mana asal kita saja tidak bisa, mengapa kemudian kita harus bisa membayangkan siapa pendesign dimensi tersebut? tentu lebih tidak bisa lagi. Yang jelas DIA adalah Tuhan Sang Pendesign, berhenti sampai disini saja. Jangan bahas Dzat_Nya..

Jika kita bisa merasakan dalam imanadanya Sang Pendesign maka kedepan akan menjadi lebih mudah. Dari mana kita berasal, dari dimensi apa, lalu apa tujuannya akan kita ketahui dengan gamblang. Bukan mengetahui sebagaimana mengetahui warna buah apel, namun mengetahui informasi. Ya memang sebatas informasi yang harus diyakini dan otomatis akan diyakini. Mengapa hanya sebatas informasi? Karena view dimana asal kita sudah disamarkan dengan sebuah tujuan.

Berarti yang pertama rasakan adanya Sang Pendesign/ Pencipta, kemudian berimanlah kepada_Nya. Untuk membaca artikel tentang jalan menemukan iman silahkan baca dulu disini.

Anda juga wajib membaca artikel saya disini dan disini.

Semakin menarik bukan? Pembahasan ini akan saya lanjutkan, Insya Allah

Sekarang tugas kita adalah tafakur, siapa diri kita, dari mana berasal dan untuk apa kita lahir didunia. Dengan tafakur seperti ini Insya Allah kita akan merasakan adanya Dzat dibalik segala drama dan design tersebut.

Wallahu A'lam



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment