Feb 14, 2015

Tips/ Cara Mengendalikan Emosi

Kesabaran itu tidak ada batasnya. Siapa bilang ada batasnya? Lalu ada yang jawab, "Banyak pak". Ya sudah gak apa-apa. Oleh karena ada batasnya maka seringkali manusia mudah untuk hilang kesabaran kemudian merasa emosi, marah, dongkol dsb.

Sebenarnya kesabaran itu tidak ada batasnya. Kalau ada batasnya namanya bukan kesabaran. Lalu apa yang membatasi? Simak baik-baik...

Manusia mempunyai hawa nafsu. Saya kadang bingung menjelaskan tentang makna hawa nafsu. Tetapi biar mudah begini. Anda lapar? Kalau iya maka kemudian ada kecenderungan untuk makan. Itulah nafsu. Anda sedih? Kalau iya maka kemudian ada kecenderungan untuk mendapatkan kebahagiaan. Tujuannya agar kesedihan itu bisa berganti.

Misalnya kalau orang level sabarnya tinggi yang kemudian diuji dengan berbagai kejadian yang mengesalkan, maka pada tingkat tertentu tetap saja emosinya naik. Namun karena level kesabarannya tinggi ia mudah sekali untuk menetralkannya kembali.

Jadi yang membatasi kesabaran itu apa? Iya jelas NAFSU. Nafsu menjadi pembatas kesabaran sehingga orang yang level kesabarannya tinggi sekalipun akan emosi pada satu titik. Semua manusia sama, ada level kesabaran masing-masing. Dan ketika ujian/ cobaannya sudah menyentuh level yang ia miliki, maka kemudian nafsunya tersentuh lalu menampakkan raut muka emosi.

Oleh karena itu penyebab orang emosi itu apa? Jawabannya saya ulang kembali. NAFSU.

Nah, tips supaya bisa mengendalikan emosi kemudian melatih kesabaran itu apa? Kuncinya adalah manajemen nafsu itu sendiri. Pengendalian nafsu supaya tidak liar. Memang benar, nafsu punya kencenderungan liar, sebagaimana nafsu hewani. Namun manusia mempunyai 2 senjata untuk mengendalikannya, yakni AKAL dan HATI. 2 organ psikish manusia ini bertugas mendrive nafsu supaya tidak keluar dari rel kemanusiannya.

Oleh karena itu akal dan hati harus hidup. Akal harus belajar bagaimana menilai sesuatu itu logis atau tidak, buruk atau baik, tepat atau tidak, layak atau tidak dan lain sebagainya. Sementara salah satu tugas hati adalah memperingatkan nafsu bahwa akibat dari keliarannya bisa menyebabkan kebinasaan.

Nah kecerdasan pikiran adalah salah satu bagian dari akal. Oleh karena itu asah otak anda supaya bisa lebih cerdas, sehingga cara berpikir bisa lurus dan terarah. Caranya bagaimana? Salah satunya baca-baca buku.

Kemudian hati adalah tempatnya IMAN. Dengan hati kita percaya bahwa result atau akibat dari mengikuti hawa nafsu adalah penyesalan. Mengikuti hawa nafsu adalah jalan kebinasaan.

Keduanya (AKAL dan HATI) harus menyatu seiring sejalan didalam proses pengendalian nafsu. Misalnya dalam contoh berikut ini,

Seorang politisi marah-marah atau emosionalnya memuncak ketika ia dituduh melakukan korupsi, padahal ia tidak pernah merasa melakukannya sama sekali. Artinya akal dari sang politisi bisa saja kuat, namun iman nya lemah.

Seorang Ustadz marah-marah karena tausiyahnya ada kekeliruan sehingga disepelekan jamaah. Artinya bisa jadi sang Ustadz Imannya kuat namun akalnya lemah. Ia tidak mau menerima kalau memang tausiyahnya keliru dan salah.

Ya harus dua-duanya kuat. Ketika seseroang berhak emosi karena berada pada sisi kebenaran, namun tetap saja tidak boleh mengumbar emosi. Mengapa? Karena marah itu dilarang agama apapun apalasannya.

Presented by
  • Magis7, rahasia mengendalikan/ management jiwa, dimana seringkali menarik kejadian yang amazing setelahnya. Klik disini untuk detail



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment