Feb 11, 2015

Sudah Berdoa, Beribadah Namun Tidak Terkabulkan, Mengapa??

Sebuah pertanyaan menarik dari seorang Ibu-Ibu.

Assalamualaikum, Pak Adhi... mengapa semakin lama iman saya semakin lemah... saya jadi malas untuk membaca artikel yang dikirim ke saya... karena saya sudah sering melakukan yang Bapak ajarkan. 

Khan saya dari thn 2012 sudah mengikuti tausyiah pak Ustad Yusuf Mansyur dan saya juga mengikuti programnya juga seminar ttng Hutang thn 2012 dll sudah saya lakukan karena Allah.. tapi yach sudahlah.. bukan sia-sia... seandainya jamaah pak Adhin yang sudah sukses untuk membantu kita yang mmng sedang terbelit utang dgn bank sehingga bunga tidak menumpuk.. 

Memang Allah akan mengabulkan doa kita, kita tidak akan mati kalau bukan kehendak Allah.. tapi sadarkan Pak Adhin.. bukankah sudah dibilang di hadist, bisa kita memudahkan urusan saudara kita di dunia akan dimudahkan urusan kita di akhirat.. 

Yang saya lihat, Pak Ustad yang memberikan ceramah hny memberikan bantuan moral sj tetapi bila memang mempunyai kenalan atau relasi, coba saudara kita dibantu, dipinjamkan tanpa bunga ataupun namanya.. In Syaa Allah akan dikembalikan..  Jadi actionnya juga .. khan kasihan juga Pak Ustad.. kalau saudara2x kita terlibat utang dan berbunga2x, tapi para Ustad dan Kyia dll hanya menasehati dll bukan action... trus apa kah ada dalam agama diajarkan sepeti itu Pak ? 

Jawab: Waalaikum salam semoga Ibu mendapatkan pencerahan. Amin

Pertama. Malas baca artikel. Artikel saya hanya wasilah saja, tidak dibaca juga tidak apa-apa. Jangan sekali-kali menyandarkan diri kepada wasilah tetapi kepada Allah.Demikian pula jangan menyandarkan diri kepada amalan, doa dsb sebagai wasilah. Tetapi Allah swt yang memberikan amalan tersebut. ARtinya fokus harus dirubah bukan kepada wasilah tetapi Allah

Mhn maaf saat ini saya sedang ingin berbicara blak-blakan saja, disaat artikel lain saya bikin soft.

Dari tahun 2012 Ibu sudah belajar dengan Ustadz YM, bagus dong itu. Tetapi saya ingin mengatakan tidak peduli berapa lama anda belajar. Mau puluhan tahun juga tidak ada masalah. yang terpenting adalah pemahaman. Dan dari pemahaman itu timbul keyakinan. Dan saya lihat setelah belajar bertahun-tahun keyakinan ibu masih lemah cenderung parah.

Ibu mengatakan mengikuti seminar karena Allah. Tetapi ijinkan saya mengoreksi maaf kalau salah persepsi. Ibu bohong mengatakan karna Allah. Ibu berdusta. Mengapa? Kalau karena Allah ya sudah. Seberat apapun kejadian yang dialami setelah menjalankan nasehat Ustadz terima saja. Karena yakin ini hanya proses, bukan result.

Berapa banyak orang yang berdusta iman (semoga kita nggak). Yakni mengatakan beriman kepada Allah namun nyatanya condong juga ke perasaan, pikiran, uang, pinjaman, logika, pohon, amalan, UYM, saya dan apapun itu. Kalau percaya sama Allah ya lempeng dong, jangan belok-belok.

Tentu saja saya dan sahabat lainnya melakukan hal itu. Mencoba meringankan beban orang lain sesuai dengan cara saya. Apakah Ibu menginginkan saya melunasi hutang Ibu? Doakan saja ya?. Tetapi sebenarnya hal itu tidak sepenuhnya menolong malah menjerumuskan. Percayalah akan hal ini.. Yang bisa menolong semua permasalahan manusia bukan pinjaman tak berbunga umpamanya. Tetapi Allah.

Lagian bukankah Ibu sudah pinjam ke sana dan kemari, lalu gali lubang tutup lubang sebagaimana yang Ibu ceritakan? Kalau bisa jangan cari pinjaman karena dengan itu malah membuat masalah kita semakin rumit. Seandainya aset kita diambil bank ya sudah, ini juga kesalahan kita yang menuhankan pinjaman. Sudah selayaknya dan waktunya kita menyadari bahwa kita ini masih lemah iman. Dan saya juga masih terus belajar akan hal ini.

Kita maunya sesuai dengan keinginan kita, padahal yang berlaku adalah Kehendak Allah. Kita masih belum paham dan sedang diberikan pembelajaran Tuhan mengenai kesulitan hidup. Namun kita tidak sadar dan malah menyalahkan_Nya. "Saya sudah melakukan hal itu dari 2012 kok masih gini-gini saja?" Bahkan mungkin sampai kapanpun keadaan akan semakin berat. Mengapa? Karena anda ragu dengan pertolongan Tuhan diindikasikan dengan ucapan yang Ibu katakan.

Apakah Ustadz YM hanya memberikan ceramah saja? kalaupun iya itupun sudah menjadi ilmu buat kita. Karena memang Ustadz itu ingin mengajarkan ilmu. Masalah praktek biarkan beliau yang lebih tahu sendiri. Perlu diketahui berdasarkan apa yang saya tahu, Ustadz Yusuf Mansur tidak memberikan pinjaman namun sedekah. Sehari lebih dari 3 milyard dimana sebagian diberikan kepada pesantren Darul Qur'an yang beliau pimpin.

Janganlah kita suka berprasangka jelek, bahkan jelek sekali. Nanti menjadi fitnah. Ustadz YM lebih mengetahui siap-siapa yang layak diberikan sedekah dan siapa-siapa yang tidak. Bagaimana mau memberikan sedekah kalau malah akan menjerumuskan jamaahnya? Memangnya sedekah itu tuhan sehingga kita berharap kepadanya?

Ustadz-Ustadz khususnya dalam hal ini UYM sudah memberikan ilmu dan action nyata. Katanya Ibu sudah mengikuti dari 2012 khan? Kok tidak tahu hal ini?. Apa yang UYM sedekahkan? Sewaktu masih miskin beliau malah sedekah tanah, rumah, perhiasan dan semuanya diberikan kepada Allah sehingga buat dia sendiri nyaris tak bersisa. Setelah dikembalikan Allah dalam bentuk uang, mobil Alpahrd dsb lalu beliau sedekahkan lagi.

Seharusnya ini menjadi motivasi dan cerminan diri kita yang seringkali suka berprasangka jelek. Apakah kita sudah menyedekahkan perhiasan kita? Rumah kita? Mobil kita? Saya rasa kita masih perlu banyak belajar hal ini. Boro-boro sedekah rumah, orang rumah ada 3 ketika cicilannya mandeg lalu panik, cemas, was-was dsb. Cari pinjaman sana dan sini supaya tidak kehilangan rumah tersebut. Padahal kalau disedekahkan selesailah perkara.

Maksud Ibu sudah bagus yakni mengingatkan. Namun saya katakan Ibu belum tepat mengingatkan hal ini. UYM lebih paham tentang aturan agama. Sudah saatnya kitalah yang harus bercermin bukan mengasihkan cermin ke orang lain sementara mereka sudah sering bercermin. Bercerminlah sudah baik kah kita? Sudah layak kah kita?

Saya akan menulis tentang KITA. KITA itu ya saya sendiri, anda dan pembaca semuanya.

KITA itu masih perlu banyak belajar. Asli... masih perlu banyak belajar sehingga paham. Kalau masih saja belum paham maka seringkali kita diberikan kejadian buruk yang tujuannya supaya kita menjadi paham. Kalau prasangka kita selalu negatif maka keburukan itu menyebabkan kita semakin tidak paham. Ujung-ujungnya tidak memperbaiki hidup kita malah membuatnya semakin buruk.

KITA ini kebanyakan pendusta iman. Pembohong.... Katakan yang keras dalam cermin, PEMBOHONG. Doanya gini, "YA Allah lunaskan hutangku". Lalu setelah berdoa kepikiran "rentenir mana lagi ya yang perlu saya datangi?". Awalnya berdoa kepada Allah lalu kemudian berdoa kepada rentenir. Ntar lagi berdoa kepada teman, sahabat, amalan, doa bahkan kalau perlu batu akik. Kalau sudah memutuskan berdoa kepada Allah, maka lempeng terus. Setelah berdoa meminta hutang misalnya maka menyikapi wasilah caranya begini, "Ya Robb, uang sudah tidak ada lagi buat nyicil. Apa perlu saya jual aset ya?" Begitu...

Nanti Insya Allah akan diberikan ilham atau kejadian yang menuntut kita supaya memilih. "Ya Allah aset sudah saya jual tuh. Alhamdulillah hutang sudah kebayar setengahnya. Yang setengah gimana ya Robb?" Begitu seharusnya. "Robb, aset saya tinggal perhiasan nih, apa perlu dijual juga?". Kemudian begini, "Robb semua aset sudah saya jual dan Alhamdulillah hutang sudah lunas. Tetapi rumah tinggal satu nih. Emas sudah dijual, perabotan juga sudah. Jadi keliatan luas ini ya Robb, isi in dong?"

Kurang lebih begitulah..

Sekali lagi ambil cermin yang besar lalu ngaca. KITA tidak hendak membicarakan orang lain tetapi bicara diri KITA terlebih dahulu. Misalnya berapa dhuha setiap harinya? 2 rakaat pak? Kurang itu, tambah menjadi 8 rakaat. Tahajud berapa? 2 rakaat juga namun tidak rutin. Rutinkan dan tambah menjadi 12 rakaat dst. Ini namanya bercermin. Ini namanya memujahadahkan diri kita sendiri.

Wallahu A'lam



Artikel Terkait



1 comment:

  1. subhanwlloh , , bismillah luruskanlah niat hamba beribadah kepada engkau bukan untuk pencitraan tapi memang karena engakau ya allah karna kewajiban kita sebagai umat islam amin

    ReplyDelete