Feb 1, 2015

Saatnya Berbagi Simpati dan Empati

Kisah disebuah kontrakan yang memilukan
Saat ketidak adilan negeri ini menjadi hujatan
Karena ketimpangan yang begitu mengerikan


Saat itu, sang ayah melihat sang bayi yang menangis pilu
Sudah 3 hari tidak pernah meminum susu

Kemudian pandangannya tertuju pada istri yang mengaduh sayu
Karena penyakit betah menempel dalam seminggu

Sang ayah matanya berkaca-kaca
Namun tidak ada lagi upaya

Hendak kemana lagi?
Karena memang selama ini masalah ekonomi selalu menjadi alibi

Ia hanya seorang buruh dan pengamen jalanan
Yang sudah kenyang dengan makian dan hinaan orang

Lalu sang ayah keluar barang sebentar
Mencoba menyimpan segala kesedihan yang sudah mengakar

Air mata kesedihan membanjiri wajahnya yang mulai berkerut
Seraya menatap langit yang mulai gelap

"Tuhan, biarlah hinaan dan cacian kami alami"
"Biarlah beban berat hidup ini kami yang rasakan"

"Tetapi Tuhan......"
"Mohon jangan anak dan istri hamba"
"Karena mereka mahluk yang tidak berdosa"

"Tuhan...."
"Sungguh kami mahluk yang lemah"
"Kami takut"

..........................................................

Sahabat, diluar sana masih banyak mereka yang sedang sedih. Penggalan puisi kisah nyata diatas hanya mewakili satu dari seribu. Tengoklah dalam hati, masihkah ada kepedulian dalam mengasihi. Tengoklah dalam sanubari, apakah masih ada simpati dan empati?

Bersyukurlah karena anda hidup dalam cukup. Lalu cobalah tengok kanan dan kiri, apakah ikut merasakan kecukupan? Apakah benar tidak lagi yang membutuhkan uluran tangan?

Percayalah sobat tidak akan rugi, malah akan diganti dengan yang lebih baik. Jika sobat rela berbagi kecukupan dengan sesama yang membutuhkan.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment