Feb 18, 2015

Revolusi Tauhid, Mencari Bayaran Tuhan

Bagi member rahasia kunci sukses yang sudah mendapatkan makalah Revolusi Tauhid tolong dibaca ya? Kemudian terapkan. Bagi yang belum bisa mendaftarkan diri menjadi member rahasia kunci sukses dulu. Nanti pada saatnya anda akan mendapatkan makalah ini via email. Insya Allah

Nah, kali ini saya ingin bercerita tentang Revolusi Tauhid Mencari Bayaran Tuhan. Atau mencari pahala dari sisi Allah swt. Pahala khan sama juga maknanya dengan ganjaran, bayaran, pemberian, karunia dll. Bayaran apa? Ya terserah Allah. Kalau kita meminta bayaran dalam bentuk duit juga gak berdosa kok, asalkan memintanya hanya kepada Allah saja, bukan kepada yang lain. Malahan Insya Allah nanti akan ditambah-tambah dalam bentuk bayaran lainnya.

Sudah beberapa bulan Pak Zul mencoba praktek revolusi tauhid. Semuanya dipersembahkan untuk Allah saja. Apa yang ia lakukan barangkali menurut sebagian orang sulit, bahkan edan. Zul sedang belajar olah rasa sejati. Yakni belajar tidak egois, tidak bergantung kepada manusia, tidak bergantung kepada duit, tidak merasa dirinya sendiri layak mendapatkan balasan. Tetapi Allah lah yang akan memberikan balasan sesuai dengan kadar rasa iklhas, sabar, tawakal dan pasrah.

Misalnya sedekah. Setiap hari ia selalu sedekah. Kalau tidak ada uang maka sedekah barang atau sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Emas/ perhiasan istri sudah disedekahkan, barang-barang dirumah yang senilai puluhan juta juga sudah disedekahkan, mobil diniatkan sedekah separuh-separuh, baju sudah tinggal beberapa stell saja.

"Apa lagi ya yang harus saya sedekahkan" Gitu kata Zul ngeliatin rumahnya. Ia mencari sesuatu yang bernilai yang bisa disedekahkan atau dijual dan duitnya dikasih kepada mereka yang membutuhkan.

Kita tidak akan berkisah tentang sedekah Zul, tetapi kisah tentang hari itu dimana ia mengorbankan hampir seharian waktunya untuk membantu orang lain.

Pada suatu hari ia berkunjung ke rumah seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan. Ternyata anaknya sedang sakit dan harus dioperasi keesokan harinya. Lalu Zul menawarkan diri untuk membantu mengantarkan dengan mobil yang ia miliki. Disepakati mereka akan berangkat jam 4.30 dinihari untuk mengambil antrian Rumah Sakit.

Maka mau tidak mau Zul harus mengorbankan 1 hari waktu kerja (bisnisnya) untuk membantu orang lain. Dan malam itu Zul hendak mengisi bensinnya agar perjalanan mereka dinihari esok bisa lancar.Lalu diisilah bensin setengah full. Selepas isi bensin ia main ke tempat guru/ Ustadznya sampai tengah malam. Lalu jam 1 dinihari Zul masih sempat mengurusi bisnisnya sebentar dan sekitar jam 2.30 dinihari ia tidur.

Susah sekali Zul memejamkan mata, karena teringat jam 4.30 harus sudah siap-siap, sampai akhirnya jam 4 dinihari matanya terpejam sebentar. Jam 4 lebih 15 istrinya membangunkan,

"Pah Bangun, bangun... Khan janji anter Pak Bambang ke Rumah Sakit" Kata Istrinya

Bukan main sepetnya mata Zul. Baru saja tidur beberapa menit sudah harus bangun lagi. Malas sekali ia bangun namun ya harus bangun. Maka ia bangun dan berwudhu lalu sholat tahajud 2 rakaat.

Setelah merapikan diri Zul siap-siap berangkat ke rumah Pak Bambang dan hendak menjemputnya. "Sudah siap Pak?" Kata Zul.

"Sudah nih, ayuk berangkat". Jawab Pak Bambang

Maka berangkatlah mereka jam 4.30 dinihari menuju RSUD. "Pak Zul isi bensin dulu" Kata Pak Bambang.

"Alhamdulillah sudah saya isi kemarin malam Pak" Jawab Zul
"Nggak di fullin aja" Kata Pak Bambang
"Entar aja Pak, kalau balik" Kata Zul

"Ya Allah kami sudah isi bensin nih, tidak hendak memberatkan Pak Bambang, walaupun seharusnya ia yang membelikan bensin. Semua kami lakukan agar Engkau menerima amal ini, supaya bayaran itu bukan dari manusia namun langsung dari Engkau". Gitu Pak zul membatin

Sesampai di Rumah Sakit dan mengurus ini dan itu lalu Zul menunggu di masjid terdekat. Setelah mengisi perutnya untuk sarapan, Zul menuju serambi masjid dan ketiduran. Memang sebenarnya ia ngantuk berat. Seharian ia hampir tidak tidur sama sekali, makanya ngantuk tiada bisa ditahan.

Ia terbangun dan melihat jam, pada saat itu jam 9.30 pagi. 2 jam Zul tertidur, lumayan untuk menghilangkan rasa kantuk. Lalu kemudian Zul ambil wudhu dan sholat dhuha 12 rakaat.

Jam 11 siang Pak Bambang menelpon Zul dan mengatakan bahwa pemeriksaan sudah selesai. Namun ada surat rujukan yang harus ia urus di Klinik. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke klinik tersebut dan beeeuuuh ngantri :).

Zul menunggu kembali sembari sholat dhuhur. Kemudian pada pukul 15 selesailah Pak Bambang mengurus surat rujukan. Antrinya 4 jam.. Dalam masa menunggu tersebut sebenarnya badan Zul seperti remuk redam. Capek karena kurang tidur dan harus menunggu Pak Bambang sampak benar-benar kelar.

Lalu jam 15 sore pulanglah mereka ke rumah. Sesampai rumah Pak Bambang hendak membagi uang bensin. Yaaaa kalau dibisnisin bisa lebih dari 300.000 tuh. Mobil punya pak Zul, bensin juga demikian. Sementara selama seharian penuh Zul mengorbankan waktunya demi membantu Pak Bambang.

"Nggak Pak Bambang makasih" Kata Zul ketika Pak Bambang memaksanya menerima sejumlah uang ratusan ribu.
"Gimana nih Pak Zul, khan saya sudah dibantu sedemikian rupa" Kata Pak Bambang
"Maaf Pak, saya ikhlas kok. Biar Allah saja yang membalasnya" Kata Pak Zul

Betapapun Pak Bambang memaksa Zul menerima uang tersebut, Zul bersikeras menolaknya. "Robb, badan ini capek berat karena bekerja untuk_Mu. Kami nggak akan mau menerima bayaran dari manusia, karena kami menunggu bayaran dari_Mu. Robb terima amal kami dan berikanlah kepada kami pahala dari sisi_Mu" Gitu batin Zul

La iya dong. Kalau Zul nerima duit dari Pak Bambang maka segitulah balasannya. Nggak...! Zul nggak mau bukan berarti menolak. Zul hanya sedang belajar bekerja untuk Allah, bukan untuk manusia. Biar yang bayar Allah saja.

Kalau zul nerima uang pemberian Pak Bambang maka ya cuma segitu doang balasannya. Tetapi balasan (gaji) dari Allah pasti jauh lebih berlipat ganda. Itulah keyakinan Pak Zul. Inilah olah rasa yang sedang dilatih oleh Zul. Belajar membangkitkan rasa harap bukan kepada mahluk tetapi kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena disinilah Zul merasa menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang merasa bahagia yang tiada terperi ketika sukses mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan.

Lalu setelah keluarga Pak Bambang pamit, kemudian Zul sholat ashar. Kemudian langsung rebahan dan tertidur karena capek. Bahkan sangat capek...

Bersambung

Dipersembahkan oleh
  • Magis7, rahasia manajemen jiwa (olah rasa) dalam pembelajaran Revolusi Tauhid. Klik disini untuk detail



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment