Feb 25, 2015

Penyakit Hati Sangat Berbahaya...!!!!

Kalau sakit jasmani mudah sekali dideteksi. Misalnya sakit gigi, maka penderita akan mudah mengenali bagian mana yang sakit kemudian melakukan treatment atau terapi pengobatan. Misalnya lagi sakit perut, sakit kepala, sakit karena jatuh/ kecelakaan dan lain sebagainya. Gampang mendeteksinya..

Lain cerita kalau yang sakit adalah jiwanya, maka akan susah untuk diakui dan dikenali. Misanya gini, "Kayaknya saya sedang sakit nih, sakit iri sakit dengki dsb. Rasanya sakit banget nih hati gue, kayaknya perlu treatment deh". Yang kayak ginian jarang terjadi. Orang yang hatinya ada penyakit biasanya tidak sadar, malah tidak mau mengakui kalau dirinya sedang sakit.

"Elo sakit jiwa tuh?" Kata A
"Enak aja, elo tu yang sakit.. Main fitnah aje" Jawab B

Nah lo? Nggak ngerasa and nggak ngaku khan? padahal hati yang ada penyakitnya biasanya yang tahu adalah orang lain. Karena impactnya biasanya di orang lain. Imbas dari sakit dalam hatinya akan membuat lingkungan menjadi tidak nyaman.

Jika sakit ditubuh, mudah sekali dikenal, karena kita merasa sakit sekujur badan. Namun jika sakit ruhani (penyakit hati), susah untuk diakui. Penyakit hati tidak bisa dirasa sendiri, namun orang lain yang menilai dan menjadi juri.

Hasad, iri, dendam, dengki, marah, riya', ujub, sum'ah, takabur dan lain sebagainya. Itulah penyakit yang subyeknya tidak merasa, namun akibatnya nyata.

Ada lagi yang lebih halus,
-> Jika hanya ingin terlihat pintar
-> Jika ingin membuktikan bahwa hanya kitalah yang benar
-> Jika ingin selalu menang dalam setiap perdebatan
-> Ketika diri merasa suci dibanding lain orang
-> Ketika merasa jijik kepada orang bodoh yang zalim


Masalahnya bukan mereka, namun masalah sesungguhnya ada dalam hati kita. Oleh karena itu tidak usah mencari kambing hitam, tetapi ambil saja kertas putih dalam hati masing-masing. Tidak perlu menyalahkan dunia luar karena yang salah adalah dunia yang ada didalam dada.

Mari cek dalam diri, apakah keakuan kita masih mendominasi. Mari sama-sama introspeksi, apakah "hawa diri (nafs)" masih disandarkan kepada prasangka pribadi.

Perang itu jihad kecil, tetapi mujahadah pengendalian nafsu itulah sebenarnya perang yang besar. Bukan melawan tirani, namun melawan ego dalam nurani.

Memerangi hawa nafsu adalah jihad akbar oleh sebab itu memang nyata2 butuh perjuangan. Bahkan dalam satu atsar nafsu dibakar dalam an nar atau neraka yang dipanaskan 1.000 tahun. Setelah diangkat dalam neraka maka ditanyalah nafsu tentang ke Tuhan nan. Maka nafsu menjawab, "Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau". Maknanya apa? Maknanya nafsu itu memang keras kepala, egois dan mementingkan keakuan nafsu itu sendiri.  Begitu seterusnya sampai dibakar dalam neraka (api) yang dipanaskan selama 3.000 tahun sehingga membuat nafsu tidak kuat, maka barulah ia menjawab, "Aku adalah nafsu ciptaan Tuhan, aku (nafsu) adalah hamba dan Engkau adalah Tuhan Seluruh Alam".

Berbahaya, karena penyakit hati akan membakar amal. Celakalah hawa nafsu yang selalu saja diperturutkan. Sebab akan membawa kepada kesesatan dan kebinasaan, dan itu semua seringkali tidak sadar.

Oleh sebab itu jika nafsu suka diperturutkan maka neraka adalah tempat penggemblengan. Hakikatnya adalah kalau nafsu diumbar maka berakibat kesusahan, kesedihan, kehancuran dan kebinasaan. Semua dimaksudkan agar nafsu bisa sadar bahwa dirinya adalah hamba Tuhan yang lemah, kemudian mau bertaubat dan mengendalikannya.

Maka jangan sampai penggemblengan nafsu itu dalam dimensi akherat. Karena sesadar apapun nafsu sudah tidak ada gunanya. Ia akan dibakar dan dibakar kekal dalam neraka. Maksudnya adalah jika dunia anda sekarang ini dalam kondisi yang susah, maka pahamilah bahwa itulah neraka dunia sebagai akibat penyakit hati (Nafsu) yang diperturutkan. Jangan malah menyalahkan Tuhan seraya mengatakan DIA tidak adil. Salahkan dirimu sendiri karena terlalu bodoh dan zalim. Kembalilah, bertaubatlah...

Mari sama-sama belajar menjadi hamba Tuhan, bukan menghamba dan mencondongkan diri kepada hawa nafs yang menyesatkan. Namun menjadi hamba Allah yang penuh ketulusan, kepatuhan, ketundukan dan kedamaian.

Inilah makna ISLAM

Wallahu A'lam

N/B: Mau belajar mengendalikan jiwa? Yuk belajar magis7, klik disini untuk melihat penjelasan dengan lebih detail



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment