Feb 1, 2015

Mulailah Belajar Ilmu, Mulailah Meningkatkan Amal, Berhenti Memburukkan Orang

Dalam dunia politik ada politikus bersih ada yang kotor. Semua politikus tadi banyak sekali yang pintar-pintar, misalnya sarjana hukum yang tahu dengan detil permasalahan hukum. Ada juga yang tidak begitu pintar namun berkomitmen menjadi politikus yang bersih. Demikian juga Ustadz, Kyai, Ulama dan lain sebagainya

Sebagian dari mereka ada yang hafidz Qur'an dan Hadist. Bahkan segala kitab kuning dan gundul (NU) sudah dikhatamkan. Ada juga yang tidak begitu hapal banyak Hadist namun lebih fokus kepada amal kebajikan.

Menurut KH. Anwar Zahid ada beberapa tipe Kyai
  • Kyai tutur. Yaitu kyai yang suka mengajarkan ilmunya
  • Kyai sembur. Yaitu kyai yang suka terlibat dalam urusan politik.
  • Kyai catur. Kyai tukang suwuk.
  • Kyai nganggur. Kyai yang nganggur nggak ada kerjaan.
  • Kyai ngawur 

Silahkan cek ceramahnya disini,h ttps://www.youtube.com/watch?v=2Vj4MTrf8p4

Kyai mana yang anda sukai? Saya kira siapa saja, yang penting dia baik, pintar, dalam ilmunya, bijaksana dsb. Kyai yang mencontohkan bagaimana berbuat sebaik baiknya baik dalam ibadah maupun muamalah.

Nah bagaimana dengan umat Islam secara umum? Maka saya klasifikasikan menjadi beberapa golongan yakni,
  1. Golongan yang pintar ilmunya namun buruk akhlaknya. Boleh jadi mereka hafidz, hapal hadist, khatam banyak kitab sampai detail-detailnya namun tetap saja ngrumpi, tetap saja matanya hijau melihat aurat, tetap saja suka judi dsb.
  2. Golongan yang bodoh ilmu namun baik akhlaknya. Bisa jadi mereka tidak terlalu hapal ayat dan dalil, namun tidak pernah menyakiti tetangga.
  3. Golongan yang pintar ilmu dan baik akhlaknya. Inilah seharusnya yang kita tiru. Hafidz, hapal hadist dan kitab pun akhlaknya terpuji, baik dan bijaksana serta menyenangkan banyak orang.
  4. Golongan yang bodoh dan buruk akhlaknya. Ini adalah sejelek-jelek golongan. Sudah bodoh namun jelek kharakter, akhlak dan perbuatannya.

Sayang sekali golongan terakhirlah yang jumlahnya banyak termasuk saya. Hehehe. Bisanya mereka suka melakukan hal2 sbb,
  • Karena ngefans sama nomor 1, mereka ikut-ikutan latah. Ndalil sana dan sini namun sebenarnya tidak berilmu. Hanya ikut2an saja tanpa dasar yang kuat. Apalagi dengan adanya media sosial yang menjamur, mereka suka BC sana sini tanpa tahu bahwa apa yang di BC sebenarnya salah.
  • Sekali lagi karena terinspirasi tokoh tertentu mereka suka ikut-ikutan menyalahkan sana dan sini. Membid'ahkan, mengkafirkan, menyesatkan, dan menghalal haramkan. 
  • Jadi seakan-akan orang bodoh ini kelihatan pintar, padahal bodoh. 
  • Kelihatannya sih pintar, namun tidak sholat, atau sholatnya lalai (telat). Tidak puasa atau puasanya bolong-bolong. Suka menjelek-jelekkan orang lain, masih suka berjudi, masih suka berzina dsb.

Oleh karena itu apa? Tentu saja terus belajar tentang ilmu agama namun terapkanlah didalam membaguskan akhlak kita. Ilmu dan amal adalah satu.

Sukakah anda dengan politikus pintar dan cerdas luar biasa namun gemar korupsi? Tentu tidak. Oleh karenanya ingatlah bahwa tidak ada gunannya Ilmu jika tidak diamalkan. Tidak ada gunanya anda mendalil tentang keutamaan sholat namun kita sendiri lalai dari sholat umpamanya.

Sudah saatnya kita instrospeksi diri masing-masing apakah amal kita sudah cukup baik? Apakah kita sudah disebut dengan orang yang terpuji? Kalau sudah alhamdulillah, kalau belum saatnya membuktikan kebaikan akhlak kita, dan berhenti dari menjelek-jelekkan orang/ golongan lain.

"Ustadz fulan itu kalau ngomong nggak mikir, khan tidak ada dalil begini dan begitu...." Ini kebiasaan kita didalam kebebasan berbicara apalagi di media sosial. Mereka termasuk saya, suka sekali mencari-cari kelemahan dan kesalahan orang lain sehingga lupa keburukan diri. Bahkan jam 5 sore lebih 20 menit mereka ngomongin (BC, TC dsb) seorang Ustadz melalui Facebook atau twitter yang belum tentu benar, sementara dirinya sendiri belum sholat ashar. Ini khan nggak ngaca pada dirinya sendiri?

Yuk sibuk belajar untuk memperdalam ilmu agama, sekaligus mujahadah dalam amal shaleh baik spiritual maupun muamalah. Kedepan kita membayangkan bahwa Islam itu bukan ribuuuut terus didalam dan membiarkan musuh islam dengan mudahnya mencerai beraikan kita. Kedepan kita berdoa agar ummat islam itu benar-benar menjadi rahmatan lil 'aalamin.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment