Feb 4, 2015

Mencari & Menemukan Kebahagiaan Hidup yang Sejati

Pagi jam 6.40 Jhon baru saja bangun tidur. Pantas saja bangunnya kesiangan, karena malamnya habis ngumpul sama tetangga kiri kanan main gaple sampai menjelang subuh. Bangunnyapun malas-malasan. Andai nggak ingat kalau ia harus kerja jelas ia masih memeluk guling.




Dengan malas Jhon menuju kamar mandi. Kemudian selepas mandi pakai baju kerja, ngopi-ngopi dan ngrokok-ngrokok dulu lalu pamitlah Jhon kepada istrinya untuk kerja. Jam 7.30 Jhon berangkat kerja padahal jam masuk kerja adalah jam 8.00. Seperti biasa kemacetan tidak dapat dielakkan sehingga Jhon telat ngantor. Sudah pasti bosnya ngomel, "Telat lagi, telat lagi". 

Jam 6 sore Jhon pulang kerja. Lagi-lagi macet tak terelakkan sehingga sampai rumah malam sesudah Isya. Pusing Jhon, kerja sudah puluhan tahun namun nasibnya gitu-gituuu aja. Nggak ada lompatan. Mana tagihan tiap bulan harus dibayar. Pusing...

Oleh sebab itu ia sering menghabiskan malam dengan gaple, nonton bola, ngumpul-ngumpul sama tetangga melepas stress setelah seharian bekerja. Keluarganya sih tidak miskin-miskin amat. Rumah ada, motor ada, anak dan istri lengkap, namun ya gituuu aja. Seperti orang kebanyakan lah...

Kebanyakan kita seperti itu. Kadangkala diseneng-senengin ketawa ketiwi sama anak dan istri. Namun tetap saja ada momentum dimana ia merasa sangat jenuh, pusing, stress dan lain sebagainya. Hidup ini kadang serasa hampa.. Kayak ada yang kurang.

Harta??? Iya jelas sekali. Punya sih punya, namun nggak ada ledakan buku tabungan. Yang ada selalu habis untuk kebutuhan bulanan. Pusing jadinya. Penginnya punya rumah luas, mobil baru, makan direstoran dan segala kemewahan lainnya. Tetapi mana mungkin?

Kecuali keluar kerja terus menjadi pengusaha yang sukses. Tapi boro-boro dah, modal dari mana? Lagian kalau bangkrut sudah tidak ada peluang kerja lagi. Umur sudah ketuaan.

"Sholat dhuha Mas, Tahajud juga" Sering ia dapat nasehat seperti itu. Ia pernah ngelakuin yang namanya jajal-jajal ibadah. Tetapi sama saja alias sami mawon. Sudah coba dibela-belain dhuha rutin beberapa minggu nasib tetap sama. Nggak ada malaikat yang turun dari langit kasih uang sekarung. Malah yang ada telat sampai kerjaan dan dimarahi terus sama bos.

"Halah sudahlah, jalanin saja kayak air mengalir". Gitu kata Jhon mencoba menghibur diri. Padahal sebenarnya ia pusing tujuh keliling, apalagi pas anak bayar sekolah. Mau gak mau cari utangan. Hadeh...

Kadang Jhon (kita) mikir ketika hendak tidur. "Masak sampai mati gini-gini aja, apa nggak bisa lebih dari sekedar rutinitas yang membosankan?". Iya kalau akherat tidak ada selesailah perkara. Coba kalau ada.. Bisa kacau deh.

"Mas kalau kamu mau bahagia, sholat.. Baca Qur'an, sedekah" Kata kyai. Sholat?? Jangankan bahagia, malah ngantuk kalau sholat. Adanya males malesan. Baca Qur'an juga.. Berat bacanya, mana kurang lancar lagi. Sedekah? Buat makan sendiri saja susah malah disuruh sedekah.

"Iya sih, kayaknya hidup bahagia kalau bisa berbagi kepada sesama. Bisa mergiin haji orang tua apa mertua. Bisa bangun masjid. Bisa kasih oleh-oleh buat saudara. Kasih uang buat anak yatim". Duit dari manaaa...! Sekarang mah kagak bisa, besok nunggu kalau sudah kaya raya.

Cemburu si Jhon sama orang kaya yang bisa banyak berbagi. Sementara dirinya paling-paling cuman rebuan. Itupun duit yang paling lecek.

"Apa ya?" Bathin Jhon. Apa yang membuat hidup ini bisa lebih berarti. Tidak sekedar cari makan karena kera juga makan. Tidak sekedar bekerja karena kera juga kerja. Tetapi kita khan manusia yang lebih mulia dari pada binatang. Kita punya akal, punya hati yang tidak dimiliki binatang. Tetapi seringkali kita sama saja seperti mereka (binatang).

"Tapi apa?"

Begitulah Jhon.. Gambaran kita-kita yang sedang mencari hikmah kehidupan. Gambaran manusia yang sedang mencari kebahagiaan sejati, hakiki. Inilah fitrah manusia yaitu kebahagiaan yang sesungguhnya bukan fatamorgana.

Apakah anda mengalaminya? Atau apakah anda sudah benar benar mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya? Ada teman dan sahabat blog yang mengatakan sudah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Baik itu dengan cara duniawi maupun ukhrowi. Tetapi ternyata mereka sama saja. Kebahagiaan yang mereka katakan hanya sebatas hapalan. Sebatas apa yang mereka dengar dari seorang tokoh terkenal.

Sama saja mereka juga sedang mencari kok. Asli sama..

Oleh karenanya yuk sama-sama mencari makna dan hakikat kebahagiaan, karena setiap orang bisa jadi beda cara beda hikmah. Makna kebahagiaan yang tidak sekedar hapalan, atau perasaan yang dibuat-buat bahagia. Maksud saya adalah kebahagiaan yang natural.

Selamat mencari..

Presented
  • Magis7, rahasia kebahagiaan sejati.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment