Feb 4, 2015

Mencari dan Menemukan Kebahagiaan 2

Hidup di desa kayaknya lebih dekat dengan kebahagiaan, tapi entahlah. Paling tidak ini pendapat pribadi, nggak tahu pendapat anda apa. Lihat saja mereka yang hidup di Pedesaan, terlihat rukun, guyub, gembira. Falsafahnya begitu kental, misalnya falsafah jawa yang selalu belajar untuk syukur, ikhlas dan sabar. "Alon-alon asal klakon" itulah salah satu falsafah Jawa yang banyak diprotes.



Kalau pelan-pelan yang penting sampai, kapan sampainya? Begitu kurang lebih protes manusia masa kini. Yang penting jalan cepat dan cepat sampai, begitu mereka ngajari.

Tetapi khan buktinya manusia masa kini terlihat lebih kurus, lebih pendek umur. Tambahan lagi lebih mudah marah, lebih kacau deh pokoknya. Masalah harta dan kekayaan juga tidak kaya-kaya amat, cenderung miskin malah. Kalau orang Pedesaan khan meskipun miskin namun tidak pernah dinampakkan kemiskinannya. Adem dan ayem.

Subuh disebuah Desa, dimana suasana masih sepi. Sepi karena memang tidak seterang diperkotaan. Tetapi jangan salah. Aktifitas penduduk sudah mulai menggeliat. Mereka sudah pada bangun dan sholat Subuh. Selepas subuhan lalu makan ketela goreng yang hangat plus teh manis. Kadang asap rokok kemenyan menambah rasa nikmat semakin nikmat saja. Rasanya nikmat sekali ngalah-ngalahin kenikmatan surga kayaknya. :)

Ketika subuh sudah mulai habis lalu biasanya pasangan suami istri pergi ke sawah. Suasana masih sedikit gelap tertutup kabut dipagi hari. Adem bener.. Sang suami setengah baya membawa cangkul, sementara istrinya membawa tenggok, atau semacam gendongan, berdua pergi kesawah. Jika mereka bertemu dengan orang atau tetangga yang sama-sama hendak bekerja pasti dijamin keluar dari mulut mereka sapaan yang paling ramah didunia.

Sesampai disawah mereka langsung nyebur untuk nyangkul, atau menanam padi. Rokok kemenyan yang habisnya bisa berjam-jam masih betah nempel di mulut sang suami yang sudah mulai keriput.

Tidak perlu lama mereka bekerja. Biasanya jam 9 atau jam 10 pagi mereka sudah pada pulang. Bukan pulang untuk tidur tetapi terus beraktifitas. Ada yang mencari kayu bakar ada yang memetik kelapa dll. Sementara para istri biasanya sibuk didapur menyiapkan makan siang sayur bayam dan ikan asin. Jangan salah, menu yang sangat sederhana ini terasa sangat sedap dimulut. Nikmatnya mengalahkan pizza italia, atau ayam ala KFC.

Sehabis mandi, dhuhuran dan makan siang biasanya penduduk Desa berangkat lagi ke sawah dan pulang lagi sebelum ashar. Saat maghrib mereka maghriban kemudian ngaji lalu nggak sampai jam 9 malam sudah pada tidur. Jadi jaman dulu jangan berharap nemuin orang melek pada jam 9 malam. Hampir semuanya sudah terlelap.

Bahagia rasanya... Bener-bener adem dan ayem. Hutang?? Nggak ada istilah hutang di Desa pada jaman dulu. Hutang buat apa? Makan sudah tidak perlu dipikirin lagi. Nasi melimpah, sayuran tumbuh subur dikebun. Paling uang yang ada digunakan buat beli bumbu-bumbu. Kalau ada sisa buat beli genteng yang bocor.

Apakah mereka tidak ingin kaya? Halah.. Kaya itu makanan apa sih? Mereka menjalani hidup apa adanya. Makan sama telur Alhamdulillah, sama ikan asin wasukurilah. Kayaknya nggak ada sesuatu yang perlu dipikirkan apalagi dikomplain kayak manusia jaman sekarang.

"Sing penting urip, makaryo lan ngibadah. Podo ngugemi tepo sliro. Ngucap syukur karo Gusti Allah kang paring kanikmatan" Maknanya adalah hidup itu bekerja dan ibadah. Saling menghormati satu sama lain, kemudian selalu bersyukur kepada Tuhan atas berkah hidup ini.

Simpel banget falsafah hidup mereka khususnya adat dan budaya Jawa. Dan yang terpenting syukur itu tadi lah yang menciptakan kehidupan adem dan ayem serta penuh dengan kebahagiaan. Bukan bahagia karena harta benda namun bahagia karena diberikan hidup oleh Sang Pencipta.

Presented
  • Magis7, rahasia menemukan kebahagiaan hidup sejati



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment