Feb 10, 2015

Kalau Semua Sudah Kehendak Allah, Dimanakah Letak Kehendak Bebas Manusia?

Kita percaya bahwa Allah Maha Tahu, namun Maha Tahunya Allah jangan dibayangkan dengan imajinasi kita. Nanti malah nggak nyambung, nanti malah bingung. Dalam hal ini kaitannya dengan Qada dan Qadar.

Manusia mempunyai kehendak bebas, namun kebebasan manusia itu masih dalam Pengetahuan Allah. Atau masih dalam Qada dan Qadarnya Allah swt. Artinya dalam skala luas, Allah Mengetahui bahwa Nabi Adam as akan memakan buah Khuldi, kemudian juga mengetahui siapa-siapa penghuni surga dan neraka. Kalau semuanya masih dalam bingkai kehendak Allah, Kalau begitu dimana letak kebebasan manusia?

Ini kaitannya dengan destiny... Atau nasib.. Ini penting untuk kita pahami bersama-sama agar takdir/ nasib kita semakin hari semakin baik sesuai apa yang kita inginkan.

Ada satu analogi yang ingin saya ketengahkan...

Dalam sebuah kelas ada 100 orang murid, dan mereka akan segera melaksanakan ujian akhir tahun. Lalu Guru mereka yang selama ini mengajari mereka bisa memprediksi bahwa...
  • Segolongan mereka kemungkinan besar akan lulus dengan nilai baik karena mereka tekun, mendengarkan, ikutan les, rajin belajar dll
  • Golongan lainnya akan mendapatkan nilai tengah-tengah karena level pembelajaran mereka tidak seperti golongan pertama.
  • Golongan lainnya akan gagal, karena mereka suka bolos, tidak suka mendengarkan pelajaran dengan seksama, tidak tekun, tidak rajin belajar, suka nonton bioskop dsb.

Guru lah yang paling tahu, karena dialah yang selama ini bersama dengan anak didiknya, mengajarinya dan mengenal semua murid lebih baik daripada yang lainnya. lalu ketika ujian selesai dan prediksi dari Guru adalah benar, yakni segolongan lulus dengan nilai baik, golongan lainnya tengah-tengah dan ada yang gagal, siapa yang salah? Murid apa guru?

Apakah benar ketika ada murid yang mengatakan, "Karena Guru telah memprediksi saya gagal, maka saya gagal". Apakah kata-kata murid tersebut benar? Tentu saja salah, karena pantas saja murid tersebut gagal karena ia seorang pemalas, tidak rajin belajar, suka menghabiskan waktu sia-sia dll. Jadi murid lah yang salah.

Begitu juga Allah swt. Allah telah memberikan mana-mana yang baik dan mana yang buruk. Mana benar dan mana salah. Kemudian Allah memberikan kehendak bebas kepada manusia untuk memilih satu dari keduanya.

Saya berikan satu contoh lagi,

Ketika kita berada diperempatan jalan, ada A, B, C dan D. Kemudian kita memilih jalan C. Allah Mengetahui sebelumnya bahwa kita akan memilih C. Kemudian Allah menulis bahwa "Ketika dipersimpangan jalan maka si fulan akan memilih jalan C". Jadi bukan karena Allah swt sudah menuliskannya maka kita memilih jalan C, namun karena kita AKAN memilih jalan C maka Allah menuliskannya.

Jadi yang difokuskan adalah KITA. Karena kita memilihnya maka kemudian Allah swt sudah menuliskannya sebelum kita memilihnya. Mengapa Allah swt menuliskan dulu sebelum kejadian itu terjadi? Karena Allah Mengetahui masa depan.

Nah setelah melewati C kemudian si fulan (manusia) menghadapi perempatan jalan lainnya dan bebas memilih kembali. Sebagaimana setelah kita lulus kuliah maka kita bisa memilih apakah mau menjadi pekerja, pebisnis, dokter, engineer atau apapun pilihan anda. Lalu kemudian anda memilih jadi pebisnis.

Maka Allah swt Mengetahui atau sudah tahu sebelumnya bahwa setelah lulus kuliah maka kita berkeinginan menjadi pebisnis. Sekali lagi disini kita fokus kepada KITA memilih, dimana pilihan kita jauh sebelumnya sudah tertulis dalam Ilmu Allah swt.

Hal ini bukan berarti bahwa karena Allah swt sudah menuliskannya maka kita menjadi pebisnis, melainkan karena KITA Memilih menjadi pebisnis maka Allah swt menuliskannya.

Dalam semua kasus pilihan KITA yang SALAH umpamanya sebenarnya Allah swt bisa saja merubahnya. Tetapi khan ini ujian, jadi tidak dilakukan_Nya. Analoginya dalam sebuah kelas ketika ada ujian matematika. Salah satu soalnya adalah 2+2 = ?. Kemudian sang Guru berkeliling mengawasi murid-muridnya, ada sebagian yang menjawab 3, 4, dan 5. Bagi murid yang menjawab 3 dan 5 maka Guru bisa saja berkata kepada satu atau beberapa, "Jangan tulis 3 atau 5 tetapi tulislah 4". Murid yang lain tentu akan protes.

Mengenai pilihan kita maka Allah swt membebaskannya untuk menentukan pilihan. DIA membiarkan kita memilih sesuatu yang salah, walaupun sebenarnya Allah swt tahu bahwa pilihan kita salah dan bisa saja merubahnya. Karena hidup didunia adalah ujian untuk akherat maka Allah swt membiarkan kita untuk bebas memilih, seperti yang difirmankannya berikut ini,

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Al Mulk ayat 2)

Jadi kehidupan ini adalah ujian untuk akherat. Allah swt memberikan aturan mana-mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian DIA memberikan kehendak bebas kepada kita untuk memilih baik ataupun buruk. Ini pilihan kita. Allah tidak ikut campur dalam kehendak bebas kita meskipun bisa jika DIA mau. Dan dari kebebasan memilih itulah kemudian Allah swt akan membalas atau menghukum manusia.

Jawaban yang benar akan mendapatkan balasan surga sedangkan jawaban yang salah akan mendapatkan balasan neraka. Wallahu A'lam.

Inspirasi Dr Zakir Naik

Artikel ini dipersembahkan oleh
  • Magis7, rahasia memilih takdir untuk hidup yang lebih baik. Klik disini untuk detail



Artikel Terkait



2 comments:

  1. Saya anonim yg bertanya pada artikel sebelumnya min, maaf, saya ingin belajar. Saya ingin mencari kebenaran, mohon maaf jika saya mengganggu anda
    Bukankah menggunakan analogi guru dan murid seperti itu sama saja dengan "memanusiakan" tuhan? Seperti yg anda katakan pada artikel lainnya?
    Jadi apakah tuhan juga hanya memprediksi? Berdasarkan penghitungan saya, setiap anak dikelas itu mempunyai peluang akan mendapatkan nilai sesuai golongan mereka sebesar 33%. Jadi kemungkinan sisanya adalah mereka mendapatkan nilai tidak sesuai dengan golongan mereka. Apakah saya salah? Mohon koreksinya
    Terima kasih banyak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama belajar dengan tulus mencari kebenaran ya? Bukan ajang debat. Apalagi ajang mencari benarnya sendiri. Kalau hendak debat mhn maaf saya tidak bisa. Analogi adalah bertujuan memudahkan pemahaman kita. Jadi analogi tidak bisa diperbandingkan dengan Tuhan. Masak guru dibandingkan dengan Tuhan?

      Tuhan itu Maha Tahu, ada apa sebelum big bang, setelah dan setelahnya dengan pengetahuan yang tidak terbatas waktu. Jadi siklus sebab akibat itu ada dalam genggaman_Nya. Misalnya sehelai daun yang gugur dalam gelapnya malam sudah diketahui_Nya jauh-jauh hari sebelum kejadian itu terjadi.

      Memanusiakan Tuhan maksud saya ada dalam aplikasi, khususnya aplikasi dalam beragama. Misalnya menuhankan Yesus, ini kan aplikasi. Dan Yesus khan nyata-nyata manusia (Nabi) yang di Tuhankan oleh sebagian pemeluknya.

      Ini pemahaman saya yang bodoh ini namun mencoba menggunakan akal sehat. Kalau pendapat anda lain ya tidak apa-apa, tidak ada masalah. Karena kita sama-sama belajar sekali lagi Mas/Mbak anonim sama-sama juga melihatnya dengan setulus hati.

      Delete