Feb 13, 2015

Fase Perjalanan Ujian Memang Berat

Kita sedang berbicara kita-kita juga. Ndak sedang ngomongin mereka yang sudah huebat-hebat. Saya anda dan siapapun yang sedang belajar perlu membaca artikel singkat ini. Saya akan menulis tentang fase perjalanan ujian hidup yang memang seringkali terasa berat.

Namanya ujian ya pasti tidak semudah yang kita bayangkan. Ujian sekolah saja dimana kita sudah mempersiapkan sebaik mungkin tetap saja ada rasa kuatir, jangan-jangan tidak lulus. Atau jangan-jangan lulus dengan nilai yang tidak memuaskan.

Result atau hasil akhir dari 1 ujian tidak akan kita tahu, paling sifatnya prediksi. Karena sudah belajar dengan tekun maka prediksinya akan mendapatkan nilai yang baik. Namun hal ini bukan jaminan.

Nah ujian kehidupan itu berbeda. Ada banyak sekali faktor X yang mempengaruhi kelulusan kita. Ada banyak parameter yang dinilai, bahkan sebesar dzaroh pun akan dinilai baik lahir maupun bathin. Kalau dalam ujian kenaikan kelas dimana seorang siswa belajar dengan sangat tekun, maka diprediksikan ia akan lulus. Namun dalam ujian kehidupan sepandai apapun dia bisa saja tidak lulus bahkan harus mengulang dan mengulang jika kondisi hati dan jiwanya tidak dievaluasi juga.

Saya ambil contoh

Budi kerja sebagai satpam. Bulan ini gajian 1 juta, namun uangnya tinggal 300 ribu. Padahal baru saja gajian. 700.000 ia pakai untuk bayar kontrakan dan cicilan motor. Budi adalah seorang yang sedang diuji oleh Tuhan dengan pekerjaan dan penghasilannya yang minim. Ia menyadari bahwa hidup adalah ujian, dimana menuntutnya supaya sabar dengan keadaan.

Disatu sisi ia mengandalkan gajinya untuk makan, disisi lain ia juga berdoa supaya Allah swt kasih makan, rumah, sandang dan segala kebutuhan keluarganya. Disinilah ujian demi ujian keimanan digelar. Kadangkala Budi menang namun seringkali kalah.

Menangnya adalah,
  • Ketika pagi hari ia menyempatkan sholat dhuha.
  • Ia juga sholat wajib tanpa ketinggalan walaupun seringkali telat karena urusan kerjaan
  • Ia ikhlas memberi makan keluarganya
  • Ia disiplin dan mengemban amanah kerja dengan baik. Berangkat tepat waktu
  • Ia tidak pernah mengkhianati janji

Kalahnya adalah
  • Ia mengusir pengemis yang lewat didepan kontrakannya
  • Ia tidak jadi sedekah pada hari jumat ketika melihat uang didompetnya hanya ada 7000 saja
  • Ia kepikiran untuk pinjam kepada rentenir
  • Ia tidak jadi sholat subuh berjamaah, padahal sudah bangun dari tidurnya
  • Ia marah ketika anaknya memecahkan gelas
  • Karena stress duitnya mau habis, ia enggan untuk menghadiri pengajian

Contoh diatas hanya sebagian kecil ujian kehidupan yang rasanya berat sekali. Masih ada ribuan ujian baik yang kecil maupun yang besar. Karena setiap detik dalam hidup ini adalah ujian.

Bagaimana dengan kita? sama saja... Pasti ada fase dimana merasakan ujian yang begitu berat. Kadang sudah berusaha mendekat ke Allah namun seiring berjalannya hari demi hari bukan kemudahan yang datang malah keadaan jauh semakin bertambah berat. Beraaaaaattt

Bukan berarti Allah menyalahi Janji, namun inilah ujian yang sesungguhnya. Seberapa kuat ia bertahan, seberapa istikomah ia ber Tuhan. Misalnya, "Ya Allah bantu kami, tolong kami" Begitu doanya, yang ditambah dengan geberan dhuha, tahajud, sedekah dsb.

Hari berganti hari memang ada saja rezekinya. Tidak mungkin kita tidak bisa makan, pasti ada saja rezekinya. Namun khan kita mau lebih. Kita mau hutang lunas, mau ada keran rezeki lainnya, mau beli rumah nggak ngontrak, mau duit ada jauh-jauh hari sebelum bayar SPP anak, mau beli mobil dsb.

Kemudian minggu berganti minggu, bulan berganti bulan bahkan tahun berganti tahun yang rasanya gitu-gitu saja cenderung menurun sehingga menggoncangkan iman dengan segoncang-goncangnya, seraya mengatakan, "Kapankah pertolongan Allah datang ya?"

Atau dalam bahasa lainnya, "Kapankah kemudahan datang, kapan peluang itu datang, kapan rezeki itu diberikan tiada batas, kapan, kapan dan kapan?" . Maka pertanyaan ini dijawab Allah bahwa pertolongan Allah swt itu dekat. Cuma manusianya yang nggak paham.

Mudah saja orang memberi nasehat, namun yang ngejalanin ujiannya rasanya kayak nano-nano. Ada manis asem asin rame sekali rasanya. Wuiiiih pokoknya ngejalanin ujian hidup itu rasanya berjuta-juta. Banyak yang menang banyak juga yang kalah.

Yang menang tetap maintain rasa yakin kepada Tuhan. Yang kalah putus asa dengan rahmat Allah swt. Kalau kita gelar perjalanan waktu dengan penggaris, maka yang kalah masih berada ditengah-tengah dan mati. Namun yang menang tinggal menjalankan perjalanan sisanya. Itupun kalau sampai garis finish. Kalau nggak maka jatuh dan mati juga.

Oleh karena itu penting sekali untuk selalu isi bensin supaya mobilnya tidak mogok ditengah jalan. Isi bahan bakar sebelum habis sehingga terus bisa ngacir. Bagaimana caranya isi bensin dalam diri kita? Dengan cara mengingat Allah swt.

Jadi gini
  • Ingat Allah swt, 
  • Kemudian ingat Janji_Nya pasti ditepati untuk membantu orang-orang beriman
  • Lalu rasakanlah bahwa Allah Maha Kuasa. Jangankan merubah hidup anda, merubah semua manusia menjadi kaya raya itu mudah bagi_Nya.
  • Kemudian jalani lagi hidup anda dengan selalu connect kepada_Nya



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment