Feb 6, 2015

Apakah Tuhan itu Ada? dan Apa Buktinya?

Ada pertanyaan dari Razif Akbar by komentar di Blog dalam link artikel disini. Sebuah pertanyaan yang bagus dan cerdas. Apa pertanyaannya?

Ada beberapa pertanyaan yg ingin saya ajukan:
  1. Tuhan menurut anda apakah tuhan yg maha segalanya?
  2. Pembalasan tuhan apakah menurut anda ada?
  3. Dari keraguan yg pertama, saya jadi penasaran, jika tuhan tidak terbatas sedangkan manusia terbatas, wajarkah jika seseorang tidak mampu untuk mempercayai tuhan? Sadarkah tuhan akan hal itu? Bagaimana dengan nasib makhluk terbatas ciptaan tuhan yg tidak terbatas tersebut karena gagal mempercayai tuhan?
  4. Bukankah "lebih baik untuk mempercayai tuhan itu ada, agar aman setelah mati" adalah statement yg berbau politis?
  5. Terlepas dari konteks tuhan, saya ingin bertanya hakikat seorang manusia hidup untuk apa? 

Maka ijinkan saya mencoba menjawabnya sesuai dengan kapasitas saya yang fakir ilmu ini. Tidak ada jaminan kebenaran, cukup gunakan akal dan hati anda. Buka diri anda dengan ketulusan untuk mencari kebenaran.

Apakah Tuhan Maha Segalanya?

Ya.. Tuhan Maha Segala-galanya. Maha Ada, Pengasih, Penyayang, Adil, Kuasa, Kaya, Besar dan Maha-Maha lainnya yang bahkan sebagian besar tidak kita ketahui. Jadi tidak mungkin kalau Tuhan itu terbatas karena segala sesuatu yang terbatas mustahil dinamakan Tuhan.

Maknanya adalah Tuhan yang sesbenarnya adalah jauh dari kata cacat. Dalam Islam disebut dengan Allah atau DIA Yang Wajib Disembah. DIA Yang menurunkan Nabi-Nabi dan kitab suci.

Bisa saja anda menganggap manusia sebagai tuhan, demikian juga arwah, pohon, harta, tahta dsb. Yakni apapun yang anda sembah terlepas itu sebuah mahluk atau benda yang terbatas. Artinya apa? Artinya anda menyembah tuhan-tuhan selain Allah. Atau bisa dikatakan anda menyembah kepada selain Allah karena sesuatu selain_Nya adalah terbatas sementara DIA Maha Segalanya.

Apakah Tuhan menurut anda ada?

Tadi sedikit ditulis tentang konsep dan makna Tuhan. Nah yang anda maksud tuhan itu yang bagaimana? Sebelumnya mari kita lihat kata tuhan itu berasal dari tuan yang artinya penguasa atau pemilik. Karena kata tuan sifatnya adalah insani kemudian dirubah menjadi Tuhan. Kalau kita bahas dalam bahasa inggris lain lagi, demikian juga bahasa yunani, arab, prancis dsb. 

Apakah Tuhan itu ada? Ya ada, bahkan Allah Maha Ada. Artinya sesuatu selain Tuhan Sang Pencipta adalah nisbi atau semu atau fana termasuk alam semesta dan seisinya. Kita ambil contoh manusia, dulunya tidak ada, sekarang ada dan kemudian diikat oleh waktu sampai kemudian rusak (mati) lalu menjadi tidak ada.

Makna yang lebih dalam adalah, Tuhan itu Ada sementara yang lain tidak ada. Saking jelasnya keberadaa_Nya menyebabkan kita tidak akan mampu menjangkaunya karena menggunakan sesuatu yang terbatas yakni mata telinga dan otak. 

Menurut sebuah penilitian yang mashur bahwa kemungkinan Tuhan tidak ada adalah sebesar 1 seper 10 pangkat 123. Atau 0.00000000000000 sampai 123 kali. Satuan ini dimaksudkan bahwa mustahil Tuhan itu tidak ada. Maknanya adalah adanya alam semesta pasti ada campur tangan Dzat Yang Maha Segala-galanya, mustahil tidak ada yang mendesign sedemikian rupa serasi, indah, teratur dan seimbang.

Tuhan Tiada batas sementara Mahluk itu terbatas.

Tuhan Tiada batas sementara mahluk itu terbatas, sehingga hal ini menyulitkan manusia untuk memahami dan mengenal Tuhan. Bagaimana nasib mereka yang terbatas jika gagal memahami Tuhan? Begitu kurang lebih pertanyaannya.

Sampai mati kita tidak akan mampu memahami Tuhan kalau yang dimaksud adalah figure_Nya, bentuk_Nya, fisik_nya dan segala sesuatu yang masih bisa terekam oleh otak. Mengapa? Karena manusia dan otaknya adalah terbatas maka mustahil mampu mengisinya dengan sesuatu yang tidak terbatas. Sebaliknya Dzat Yang Tiada batas itu sanggup melingkupi otak dan manusia itu sendiri beserta segala alam semesta.

Tuhan Maha Mengetahui, oleh karena itu DIA mengungkapkan eksistensi_Nya dengan menciptakan sesuatu yang terbatas. Apa itu? Alam semesta dan seisinya adalah terbatas. Bisa diraba, didengar, dan dilihat. Namun alam semesta yang terbatas inipun tidak akan diketahui oleh manusia secara keseluruhan kecuali hanya sebagian kecil saja.

Apakah anda tahu jumlah pasti planet2 di galaksi bima sakti? Tentu tidak. Nah sesuatu yang terbatas saja tidak bisa kita jangkau apalagi Dzat Yang Menciptakan_Nya? Mampukah anda melihat cahaya lilin? Iya mampu, tetapi kita tidak akan mampu melihat matahari padahal ia merupakan ciptaan yang bisa dilihat. Namun karena kondisi atau design mata kita terbatas maka tidak akan mampu melihat matahari, kecuali mata kita akan mengalami kebutaan. Melihat matahari saja tidak bisa, mengapa kita ingin melihat Yang Menciptakan Matahari?

Jadi bukan memaksakan diri memahami Tuhan dalam hal Dzat_Nya karena kita tidak akan bisa. Pikirkanlah apa-apa yang ada disekeliling anda kemudian rasakanlah kehadiran Dzat Yang Maha Pencipta. Kalau anda masih gagal memahami hal ini artinya akal anda sudah rusak. Oleh karena itu nasib orang-orang yang gagal mengenal_Nya akan merugi.

Bukankah "lebih baik untuk mempercayai tuhan itu ada, agar aman setelah mati" adalah statement yg berbau politis?

Politis maksudnya gimana nih? Kata-kata diatas sebenarnya makna atau maksud dari apa yang pernah Khalifah Ali bin Abi Thalib katakan. Yakni membandingkan orang-orang yang percya Tuhan dan yang tidak percaya. Kalau dibandingkan maka akan lebih aman mereka yang ber Tuhan terlepas Tuhan itu ada atau tidak.

Kalau Tuhan Ada (dan pasti Adanya), maka orang atheis akan gigit jari dan menyesal, sementara orang yang beriman akan aman. Kalau misalnya Tuhan tidak ada maka orang atheis aman pun dengan orang beriman. Namun orang beriman selevel lebih tinggi ketika hidup di dunia, mengapa? Karena orang beriman dituntut untuk berbuat baik. Jadi orang beriman pasti akan meninggalkan nama baik.

Terlepas dari konteks tuhan, saya ingin bertanya hakikat seorang manusia hidup untuk apa?

Jawaban pertanyaan ini seharusnya dicari sendiri-sendiri sementara orang lain sifatnya menunjukkan jalan atau petanya saja. Orang yang tulus menanyakan kepada diri sendiri, "Sebenarnya aku hidup disuruh ngapain sih?", artinya akal mereka hidup.

Untuk apa manusia hidup? Sesuai konteks artikel ini maka manusia hidup supaya mengenal Tuhan, kemudian memahami apa-apa yang dikehendaki Tuhan pada diri manusia untuk kebaikan manusia itu sendiri bukan untuk Tuhan. Kebaikan apa? Secara fitrah manusia mempunyai keinginan, oleh karena itu membutuhkan sandaran yang bisa menggaransi keinginan mereka. Nah disinilah manusia membutuhkan Tuhan, karena hanya Tuhan lah yang berani memberikan garansi. Keinginan yang dipancarkan kepada Tuhan dinamakan DOA. Sedangkan DOA maknanya adalah menyembah Tuhan. Sedangkan penyembahan kepada_Nya melalui ritual ibadah dan muamalah.

Setelah kenal Tuhan lalu bagaimana? Minta sesuatu yang baik-baik yang bisa bermanfaat untuk sesama dan semesta alam. Kemudian bagikan apa-apa yang sudah dikasih oleh Tuhan itu untuk orang lain juga. Ini namanya manusia yang menjadi rahmat semesta alam.

Kurang lebih itu jawaban saya yang fakir ilmu ini dimana tentu saja banyak kesalahan. Sebenarnya masih sangat banyak yang ingin saya sampaikan berkenaan dengan konsep ke Tuhan nan ini. Ada banyak yang perlu kita pahami dan mengerti. Insya Allah akan dibahas di artikel lainnya.

Wallaahu A'lam


Artikel Terkait



16 comments:

  1. Maaf min, pertanyaan kedua saya tidak terjawab.
    Masih ada yang saya bingungkan setelah membaca balasan anda.
    1. Tuhan maha segalanya, tuhan mengetahui nasib saya nanti setelah hidup akan masuk surga atau neraka (saya berkesimpulan anda adalah pemeluk islam dan beriman pada Allah, surga neraka, malaikat, dsb). Jika tuhan telah mengetahui hal itu semua bahkan sebelum saya lahir, mengapa saya tetap dilahirkan? Apakah memang saya dilahirkan dan dimatikan untuk masuk neraka?
    2. Mengenai jawaban-jawaban anda, saya jadi semakin bingung. Tuhan telah maha, lantas untuk apakah tuhan menciptakan manusia? Sebegitu ingin nya kah dia ingin dikenal oleh ciptaannya? (Melihat dari sisi maha segalanya)
    3. Orang beriman dituntut utk berbuat baik lantas apakah pasti mereka menjadi lebih baik hanya karena dituntut? Apakah orang atheis tidak pula dituntut oleh nilai dan norma yg berlaku di masyarakat? Serta undang2 yg berlaku sepertinya juga memiliki sifat memaksa dan mengikat bukan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sudah menulis sebelum sobat bertanya, barangkali bermanfaat. Klik http://bacaanjiwa.blogspot.com/2015/02/mengapa-manusia-harus-mengalami-ujian.html

      Delete
    2. Tulisan anda tersebut sepertinya tertera dibuat pada tanggal 7 feb 2015. Oke, walaupun begitu, ada yg juga ingin saya tanyakan lagi pada bacaan jiwa yg amda berikan pada saya. Saya agak bingung dengan manusia diberi ujian dan manusia menerimanya tapi dibuat lupa. Seharusnya anda pun juga lupa pernah ditawari ujian tsb, lantas bagaimana anda mendapat cerita manusia diberi ujian dan dibuat lupa ini? lagipula, sumber yang anda gunakan semua adalah kitab suci anda, yg dalam diskusi seperti ini seharusnya tidak dapat menjadi acuan yang adil bagi saya

      Delete
    3. Tulisan anda tersebut sepertinya tertera dibuat pada tanggal 7 feb 2015. Oke, walaupun begitu, ada yg juga ingin saya tanyakan lagi pada bacaan jiwa yg amda berikan pada saya. Saya agak bingung dengan manusia diberi ujian dan manusia menerimanya tapi dibuat lupa. Seharusnya anda pun juga lupa pernah ditawari ujian tsb, lantas bagaimana anda mendapat cerita manusia diberi ujian dan dibuat lupa ini? lagipula, sumber yang anda gunakan semua adalah kitab suci anda, yg dalam diskusi seperti ini seharusnya tidak dapat menjadi acuan yang adil bagi saya

      Delete
    4. Jika anda non muslim misalkan kristen, silahkan juga baca dan pelajari kitab Injil. Apa yang Yesus katakan ya? Bukan selain Yesus. Atau apa agama anda tidak ada masalah. Silahkan dibaca dan didalami dengan tulus bukan bermaksud debat

      Delete
    5. Saya tidak hendak membawa-bawa agama disini apalagi kitab suci, karena pembahasan dari pertama adalah bermula dari stand point anda yg mengatakan bahwa tuhan itu ada. Sebagai seorang yg penasaran, maka saya bertanya pada anda. Pembuktian melalui kitab suci disini tidaklah bisa diterima min, apalagi kitab suci anda. Saya juga tidak membawa kitab suci disini, marilah saling berpikiran terbuka. Pertanyaan saya akan saya ulangi, manusia diberi ujian lantas dibuat lupa. Bagaimana bisa cerita itu sampai ke anda jika seluruh manusia telah lupa? Kalaupun dituangkan dalam kitab suci agar manusia mengingat kembali, kenapa tuhan dari awal pakai membuat manusia lupa segala? Istilahnya kerja 2 kali menurut saya

      Delete
    6. Jawaban sudah saya ulas. Mhn maaf jikalau kurang memuaskan anda.

      Delete
    7. Ulasannya yang mana? Karena di link yg anda berikan saya tidak mendapatkan maksud anda. Mungkin saya disini yg gagal memahami maksud dari tulisan anda, bisa tolong saya di beri pencerahan? Karena niat saya disini adalah belajar tulus, berdiskusi, bukan untuk berdebat. Sungguh tak ada niat jelek
      Terima kasih

      Delete
    8. Pengetahuan tentang tujuan hidup manusia akan menjadi jelas sekali dalam islam. Namun manusia yang belum mengenal islam mempunyai yang namanya kecenderungan atau bahasa saya software yang injek dalam jiwanya yakni
      > Kecenderungan untuk mencari Tuhan

      Kecenderungan ini termanifestasi dalam pertanyaan2, misalnya, "kok saya bisa ada ya?", "Alam semesta yang besar dan indah apakah anda dengan sendirinya apa ada yang nyiptain ya?"

      Kemudian, "Oke kayaknya ada Dzat yang super cerdas dimana menciptakan semua ini". Lalu, "Oke jelas sekali penciptaan langit (kombinasi matahari bulan dan bumi) didesign sedemikian rupa untuk manfaat manusia, lalu apa maksud Dzat Yang Maha Cerdas tersebut?" Seperti sebuah pertanyaan, "Mengapa BILL GATES yang sudah kaya raya memberikan saya uang 100 dollar? Apa maksud dibalik semua ini?" disinilah pencarian dimulai

      Delete
    9. Sejujurnya yang saya pertanyakan masih belum terjawab min, karena jawaban anda melenceng dari pertanyaan saya mengenai ujian dan lupa.
      Saya juga muslim, dan saya 12 tahun menempuh pendidikan di yayasan islam. Tapi belum pernah sekalipun saya mendengar masalah ujian dan lupa tsb. Saya sudah banyak melihat video zakir naik dan belum puas dengan jawaban2nya
      Islam adalah agama yg logis bukan? Bagaimana bisa dibuktikan jika ujian lalu dilupakan hanya berdasar wahyu al quran? Kalau hanya percaya buta pada al quran itupun juga tidak diperbolehkan menurut saya. Saya kira dalam islam pun belajar dan membuktikan sesuatu adalah hal yg wajib hukumnya, tidak asal lempar klaim, bukan begitu?

      Delete
    10. Sejujurnya anda lebih paham dari saya. Seharusnya begitu. Saya yang harus berguru kepada anda, karena saya masih sebatas murid. Kalau boleh tahu yayasan mana? Mungkin saya memang tidak bisa menjawab pertanyaan anda mohon maaf. Bagi saya sudah jelas, namun pemahaman manusia berbeda-beda.

      Maaf kalau saya bilang bahwa "Masalah hidup ini adalah ujian belum pernah anda dengar" artinya anda bohong. Bukankah anda sudah belajar selama 12 tahun? Sudah jelas sekali dalam Al Qur'an tentang hal ini dan seharusnya sudah tdk perlu diperdebatkan lagi.

      Iya Islam itu logis. Menemukan Islam itu harus menggunakan akal pada proses awalnya. Tidak boleh sebatas taklid ataupun doktrin saja. Namun setelah itu ada satu fase dimana meyakini sesuatu hanya dengan iman bukan dengan logika. Percayakah anda dengan akherat? Memang ada bukti adanya alam akherat? Ini sudah wilayah iman.

      Masalah lupa dan ujian tadi memang ada di Al Qur'an tidak bisa dijangkau di science. Ini sudah jangkauan iman. Namun untuk mendapatkan pemahaman ini, fase awal pencarian Tuhan itu sudah harus ketemu dulu. Baru kemudian menemukan konsep ke Tuhan nan dalam Islam. Kemudian lanjut kepada firman Tuhan dalam Al Qur'an sebagai sebuah kebenaran. Mengapa? Karena Islam itu tidak bisa dipisahkan dengan Al Qur’an. Ini satu paket.

      Sendi Islam hanya 2 yakni Al Qur'an dan Hadist. Dan kitab sucinya adalah Al Qur'an dimana 80% Al Qur'an sesuai dengan fakta ilmiah, inilah sebagiannya yang sudah kejangkau oleh science. Sedangkan 20% yang membahas tentang surga dan neraka serta hakikat kehidupan belum bisa dibuktikan namun tidak 0.01% mengandung kesalahan. Dan yang anda tanyakan sudah masuk wilayah 20% tersebut.

      Apakah anda ingin membuktikan bahwa matahari itu panas dengan berendam didalamnya? Atau anda ingin membuktikan adanya Tuhan dengan melihat dengan mata kepala? Atau ketika ada klaim bahwasanya ada galaksi ini dan itu lalu anda ingin terbang menuju kesana untuk membuktikannya? Nanti kedepan anda juga akan menanyakan, surga dan neraka dimana? Malaikat kayak apa? Tuhan itu bentuknya gimana? Dan pertanyaan yang tidak akan mungkin dijangkau oleh otak. Kalau sudah begitu maka tidak ada seorang ahlipun yang mampu menjawabnya dengan pasti, apalagi saya. Karena yang beginian sudah masuk ke ranah “IMAN”. Kalau anda masih menanyakannya maka saya angkat tangan. Kita akhiri diskusi kita.

      Jadi masalah ujian dan lupa sebenarnya sudah berada dalam wilayah iman. Untuk mempercayainya maka password awalnya harus ketemu dulu. Yakni menemukan siapa Tuhan. Kalau dalam prosesnya menemukan bahwa konsep ke tuhan nan yang ada dalam Islam adalah kebenaran, barulah masuk kepada fase selanjutnya. Yakni Al Qur’an.

      Delete
    11. YLPI al hikmah sby. Kalau "hidup ini adalah ujian" saya sudah pernah dengar memang ratusan bahkan ribuan kali. Tapi kalau "hidup ini adalah ujian namun sebelum lahir kita dibuat lupa" baru kali ini saya mendengarnya. Sayapun sama dengan anda min, saya juga murid. Saya terus belajar demi menguatkan iman saya. Banyak sekali pertanyaan2 yg belum bisa ada yg menjawab. Sampai ada satyr yg agak menyentil berbunyi, ilmu pengetahuan adalah pertanyaan2 yg tidak akan habis terjawab sedangkan agama adalah jawaban2 yg tidak pernah dipertanyakan. Oleh karena itu saya merasa memiliki tanggung jawab untuk mempertanyakan dan membuktikan bahwa yg saya yakini memang benar. Bukankah seseorang yg mengklaim adanya sesuatu harus bisa membuktikannya? Seperti pada azas dalam ilmu hukum praduga tidak bersalah, selama belum diputuskan dipengadilan, maka hakim tidak boleh melihat dia sebagai orang bersalah. Dan dipengadilan tersebut hakim menguji bukti2 lalu menentukan dia bersalah atau tidak bersalah.
      Mohon maaf jika saya terlalu banyak bertanya min atau membuat anda tersinggung

      Delete
    12. Gpp, sudah saya jawab pada artikel yang saya lampirkan. Makasih ya?

      Delete
  2. Sedikit tambahan lagi mengutip anda, "kalau anda masih gagal memahami hal ini, artinya akal anda sudah rusak. Oleh karena itu nasib orang-orang yang gagal mengenal_Nya akan merugi."
    Pertanyaan tambahan saya, bukankah tuhan maha kuasa? Ia kuasa membuat sesorang dapat begitu saja untuk mengenalnya bukan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti kapan kapan dibahas ya Mas? Ada juga yang sudah saya tulis disini http://bacaanjiwa.blogspot.com/2015/02/ternyata-tuhan-itu-sadis.html

      Delete
    2. Lanjutannya ada disini http://www.adhinbusro.com/2015/02/ternyata-tuhan-itu-sadis-bagian-2.html

      Delete