Jan 28, 2015

Suro Dori Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti

Kalimat ini menjadi tenar tatkala Presiden Jokowi menulis dalam status facebooknya. Kita tidak akan membahas alasan mengapa Pak Jokowi menulis status tersebut ditengah gonjang-ganjing politik Indinesia. Kita akan membahas dari mana sih asal usul kalimat mantra/ suluk/ tembang tersebut.

Dari mana asal kalimat "Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti"?. Berdasarkan sumber disini Kalimat itu sebenarnya bagian dari sebuah tembang Kinanthi yang diciptakannya. Tembang itu sendiri termuat dalam Serat Ajipamasa atau Serat Witaradya atau Serat Pustaka Raja Wedha yang ditulis Ronggowarsito. Banyak nama tetapi sebenarnya itu satu buku. Buku itu berkisah tentang Raja Ajipamasa atau Kusumawicitra yang berkuasa di Kraton Pengging. Baca: Candrageni Nama Asli Merapi, Siapa Yang mengubahnya?

Tembang Kinanthi tersebut berbunyi seperti berikut:

Jagra angkara winangun
Sudira marjayeng westhi
Puwara kasub kawasa
Sastraning jro Wedha muni
Sura dira jayaningrat
Lebur dening pangastuti

Ada juga yang menulis di baris keempat dengan “Wasita jro wedha muni”. Dua kalimat itu tidak memiliki makna yang berbeda.

Makna dari tembang itu kurang lebih menggambarkan seseorang yang memiliki kekuasaan besar yang mengakibatkan dia lupa diri. Dia mencoba memaksakan kehendak kepada siapapun. Namun keangkaramurkaannya itu bisa luntur ketika dihadapi dengan penuh kelembutan, senyum dan kata-kata yang sopan.

Berdasarkan referensi disini, Lebih sering lagi kalimat ini saya dengar penggunaannya dalam lakon baik ketoprak dan wayang, selalu / sering dalam situasi perang. Misalnya seorang prajurit, senopati, patih atau panglima yang akan berperang dan sang brahma/guru memberi wejangan.

Maka di akhir wejangan sang guru akan menutup dengan kalimat,” Wis ngger anakku mangkatho perang, tumpesen rojo angkoro murko. Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti” (sudah anakku berangkatlah ke medan perang, musnahkan raja angkara murka. Suro diro jayaningrat).
Di kalimat ini “suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti” bisa bermakna sebagai do’a, kalimat doktrin yang menguatkan dan sumpah yang berkeyakinan bahwa kejahatan dan angkara murka akan hancur oleh kebenaran”.

“Suro diro jayaningrat, lebur dening pangastuti” atau dalam bahasa Jawa kunonya “Sura sudira jayanikang rat, swuh brastha tekaping ulah dharmastuti”

Artinya : Bahwasanya, betapapun hebatnya seseorang, saktinya mandraguna kebal dari segala senjata, namun manakala dalam lembaran hidupnya selalu dilumuri oleh ulah tingkah yang adigang-adigung-adiguna maka pada saatnya niscayalah akan jatuh tersungkur dan lebur oleh ulah pakarti luhur.

Adigang-adigung-adiguna: Sikap yang mengandalkan kekuatan maupun kekuasaannya dan berbuat sewenang-wenang serta selalu menggunakan aji mumpung.

Ulah pakarti luhur : Sikap dan tindak perbuatan yang mengutamakan berlakunya nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan beradab guna menuju ke arah terciptanya suatu masyarakat sejahtera lahir maupun batin, sebagai yang dimaksudkan dengan istilah pangastuti ataupun dharmastuti.

Pangastuti /Dharmastuti : Nilai-nilai filsafat timur yang pada hakekatnya sudah menjelma menjadi tata nilai kehidupan, dimana setiap kejahatan pasti akan dapat dihancurkan oleh kebajikan, oleh ulah pakarti yang baik, oleh berlakunya nilai-nilai keadilan dan kebenaran.

Suro = Keberanian. Dalam diri manusia, mempunyai sifat keberanian. Entah itu berani karena benar, berani karena jaga image, berani karena sok jago atau berani yang lain. Sifat ini sangat sebenarnya bagus tapi kalau sudah melanggar dari aturan-aturan ya sama aja boong.

Diro = Kekuatan. Manusia mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa. Apalagi bila dalam keadaan terdesak maka kekuatan yang akan timbul bisa lebih besar lagi dari biasanya.Akan tetapi, sekarang ini banyak manusia yang hanya mengandalkan kekuatannya sehingga menimbulkan kerusakan dimana-mana. Hal ini nantinya akan berdampak kurang baik bagi siapapun juga termasuk yang menggunakan kekuatan secara berlebihan.

Joyo = Kejayaan. Sebagian dari kita mungkin pernah merasakan bagaimana rasanya apabila kita selalu menjadi yang terdepan, kita selalu menjadi yang terbaik diantara yang lainnya. Nantinya apabila ini menjadi berlebihan maka kita akan menjadi sombong, pongah, dan menjadi manusia yang tidak ingin kalah. Bukankah mengalah tidak selamanya kalah?

Jayaningrat = bergelimang dengan kenikmatan duniawi. Ningrat disini mungkin bisa diartikan bahwa kita berkecukupan namun itu tidak menjadikan kita sebagai manusia yang rendah hati tetapi malah menjadi takabur akan kemewahan yang kita miliki sehingga melupakan yang lainnya.

Lebur = Hancur, Musnah. Lebur artinya dilebur atau dimusnahkan atau dihancurkan. Ini mempunyai arti sesuatu yang nantinya akan dihancurkan.

Dening = Dengan

Pangastuti = Kebijaksanaan, Kasih Sayang, Kebaikan

Kata-kata yang mendasari kalimat “Surodiro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti” ternyata semuanya mengandung sifat-sifat yang ada di dalam diri manusia. Bila dicermati lagi, disitu kita berada dalam posisi yang selalu di atas angin, menang sendiri.

Untuk arti dari keseluruhan kalimat “Surodiro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti adalah Semua Keberanian, Kekuatan, Kejayaan, dan Kemewahan yang ada di dalam diri manusia yang menimbulkan kerusakan, ketakaburan, kelicikan dan angkara murka akan dikalahkan, dihancurkan oleh Kebijaksanaan, Kasih Sayang, dan Kebaikan yang ada di sisi lain dari manusia itu sendiri.

Berikut salah satu kidung jawa..




Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment