Jan 19, 2015

Salah Ngarep

NGAREP... Sebenarnya definisi ngarep apa sih? Tentu saja berharap. Iya kita sama-sama tahu, tetapi ngarep atau berharap itu masalah hati khan? Artinya harus ada rasa yang jelas dihati, yakni connect atau tersambungnya hati kita kepada sesuatu yang diharapkan.

Misalnya,
  • Ngarep sama suami bisa kasih uang belanja lebih. Artinya hatinya connect kepada suaminya supaya bisa memberikan sejumlah uang yang lebih banyak dari biasanya. Karena ngarepnya kepada suami, maka istri akan melakukan sesuatu supaya harapannya menjadi nyata. Misalnya mijitin
  • Ngarep sama bos supaya naikin gaji. Artinya hati anda condong kepada bos anda supaya bisa memberikan kenaikan gaji tersebut. Oleh karena itu anda bela-belain markirin mobil bos anda demi mendapatkan perhatiannya.
  • Ngarep sama hujan. Lah emangnya ada ngarep sama hujan? Ada dong. yakni berharap kepada hujan agar supaya segera berhenti karena akan menghadirin undangan. Karena ngarepnya sama hujan paling yang bisa dilakuin cuman menggerutu. "Hadeeeh ini ujan nggak berenti-brenti juga. Cepetan reda nape?" Artinya hati anda condong kepada hujan tersebut dan berharap segera berhenti mencurahkan air dari langit.

Ada lagi nih
  • Ketika janji dengan klien, siapa yang diharapkan datang?

Ngarep (berharap), ini tentang feel atau rasa. Harapan supaya klien datang tepat waktu. Logis sih, tetapi masih salah. Bahkan salah fatal dan sudah menjadi pembiasaan, kebiasaaan dan dibiasakan.

Tauhid itu adalah ngarep (berharap) atau expect to Allah saja. "Semoga Allah memudahkan klien bisa datang hari ini kemudian memahami presentasi saya lalu melakukan order". Ngarepnya direct ke Allah dulu, yakni ngarep supaya Allah memudahkan proses/ jalan dari sebuah peristiwa. Biarlah DIA yang mengatur semua skenarionya.

Seakan-akan kita melimpahkan semua awal dan akhir kepada Tuhan. Ya memang begitu kok, kita harus menyembah (direct) langsung kepada Allah, dan meminta pertolongan (ngarep), dengan tidak menyekutukan (berharap) dengan selain_Nya. Ini khan tauhid.

Tetapi semua hasil dari ngarep kepada Allah, ya terserah Allah. Karena apa yang dihasilkan dari ngarep kepada Allah swt selalu saja baik. Ini supaya kita tidak terkesan menyuruh-nyuruh Tuhan. Supaya hati kita tidak condong dan memaksa Tuhan segera mengabulkan keinginan. Ingat, kita itu hamba dan DIA adalah Tuhan, Raja Diraja Semesta Alam.

karena kita ngarep kepada Tuhan, maka lakukan sesuatu yang bisa membuat Tuhan suka. Misalnya sholat tepat waktu, dhuha, tahajud, baca Qur'an, sedekah dll. Misalnya juga berbuat baik kepada sesama, apalagi orang tua, fakir miskin, anak yatim dsb. Bela-belain tuh ngelakuin apa yang Allah suka supaya harapannya menjadi nyata. Bahasa kitanya, supaya ditoleh.. :)

Karena kita terbiasa dengan ngarep kepada mahluk, oleh sebab itulah kita terbiasa dengan kekecewaan, kegagalan dan kesedihan. Kategorinya sudah menduakan Alllah lho? Be carefull. Sederhana saja, cukup geser ngarep (berharap) kita semua langsung kepada Sang Pencipta. Gesernya tidak sebagian atau setengah-setengah, tetapi geser semua harapan kepada_Nya.

Artikel ini dipersembahkan oleh
  • Magis7, belajar melatih rasa untuk meraih hasil sesuai doa. Klik disini untuk detail


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment