Jan 10, 2015

Mengadukan Ujian dan Beratnya Hidup Kepada Tuhan

Hidup... Inilah hidup yang nyata-nyata banyak lika dan likunya. Banyak suka dan dukanya. Kadangkala disaat duka yang rasanya begitu berat begitu terasa menyesak. Kadangkala airmata itu memang seharusnya mengalir. Kesedihan... Kesedihan itu memang harus ada agar hidup ini menjadi lebih berwarna. Inilah takdir yang penuh dengan kejadian-kejadian yang membuat hati mengharu biru.



Nangis... Menangis mengenang begitu kelamnya masa lalu.. Serasa tubuh bergetar menahan gejolak hati yang sedang mengalami kesedihan. Semakin bertambah deras air mata mengalir, sebab sampai detik inipun kepahitan itu rasanya semakin getir.

Kelam... Pengkhianatan, penghinaan, kehilangan, kemiskinan dan berbagai ujian hidup yang mau tidak mau harus kita telan. Segetir apapun jamuan itu mau tidak mau harus masuk ke kerongkongan dan memenuhi segenap syaraf. Ya sudah... Lepaskan saja kesedihan itu.. Biarkan air matamu mengalir jangan kau tahan.

Jika engkau kehilangan orang yang engkau cinta.. Menangislah... Karena kita sedang kehilangan sesuatu yang berharga. Jikalau rendahnya derajad menyebabkan hinaan datang bertubi-tubi tanpa bisa membalas sama sekali, terima saja.. Telan saja hidangan pahit itu, kalau perlu menangislah. Kalau kemiskinan itu memaksa keluarga kita tidak bisa makan secara layak, bahkan seadanya saja yang bisa mengganjal perut, maka terimalah. Terima saja dan menangislah.. Lihatlah putera kebanggaan anda yang tidak bisa minum susu, namun hanya air rebusan nasi. Begitu menderita kehidupan, yang memang harus ada peran sedih itu. Terima saja dan menangislah..

Tidak ada yang salah ketika kita menangis ditengah malam tanpa ada yang tahu kecuali Tuhan. Seberat apapun dan selama apapun kesedihan itu betah menempel maka terimalah. Terima itu walau ditemani air mata dalam gulita. Hadapkan wajah ke langit lalu beritahu Tuhan bahwa anda masih bisa bertahan.



 

"Tuhan, lihatlah hamba_Mu yang lemah ini. Entah sudah berapa lama kami menerima ujian kesedihan yang Engkau berikan. Entah sampai kapan air mata ini menetes, hanya Engkau Yang Tahu. Hanya Engkau Yang Melihat, dan hanya Engkau yang menerima seberapa banyakpun air mata ini membanjiri bumi"

"Tuhan, bahkan jika Engkau mau menambah kesedihan dan ujian maka kami terima. Mungkin dengan air mata ini kami bisa lebih dekat dengan_Mu, disaat manusia semakin menjauh."

"Tuhan, yang kami bisa lakukan hanyalah menangis dihadapan_Mu. Habis mau gimana lagi, karena jujur ujian ini begitu menguras perasaan dalam hati. Lihatlah Tuhan, diatas ujian_Mu kami masih bisa bertahan, walaupun ditengah lautan air mata kesedihan".

"Apapun takdir hidup, tidak ada yang bisa menahan Kehendak_Mu. Yang akan terjadi, ya terjadilah karena itu adalah Kehendak_Mu. Jika Engkau masih akan memberikan ujian hidup, maka berikanlah. Tetapi kuatkan aku.. Jangan sampai kesedihan itu membuat kami jauh dari_Mu"

"Tetapi kami adalah manusia ciptaan_Mu. Manusia yang tentu saja berharap supaya ujian ini segera berakhir dan berganti dengan berkah. Manusia yang berharap air mata ini berhenti menetes dan berganti dengan senyuman."

"Kami hanya bisa berharap kepada_Mu, habis berharap kepada yang lain selalu saja membuat kesedihan itu semakin membuncah. Berharap kepada selain_Mu membuat kami kecewa. Kami ingin tersenyum ya Robb. Senyuman yang ingin kami persembahkan kepada_Mu dalam ucapan syukur. Senyuman dalam airmata, tetapi air mata bahagia. Bahagia karena masih memiliki_Mu sekarang dan selamanya. Bahagia karena menyadari bahwa Engkau selalu memperhatikan dan menyayangi mahluk_Mu. Kasih sayang yang tidak akan bisa diberikan kecuali hanya dari Engkau. Kasih sayang yang tulus, murni dan abadi."

"Robb, terimakasih... Hari ini kami bisa curhat lagi kepada_Mu. Kepada Dzat Yang Pasti Mendengar keluhan kami disaat yang lain memicingkan mata. Makasih ya Robb, malam ini begitu syahdu ketika berhadapan dengan_Mu. Makasih ya Robb, makasih..."

Lalu menangislah... Menangis dihadapan Tuhan Seluruh Alam. Menjadi hamba yang lemah yang sedang mengadu kepada DIA Yang Maha Kuat, niscaya kita akan menjadi manusia yang tegar ketika berhadapan dengan manusia.

N/B: Artikel ini dipersembahkan oleh magis7. Belajar menguasai rasa sejati, sehingga bisa menerima ujian dalam syukur. Rasa sejati yang Insya Allah sebagai awal bagi adanya solusi. Klik disini untuk penjelasan detail.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment